PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 101 Ceraikan Dia!


__ADS_3

Setelah membayar seluruh tagihan. Opa Pras pergi. Oma Herni mengikuti suaminya.


"Pasti sakit..." ucap Qonita lirih menyentuh wajah suaminya.


Iman tak menjawab. Dia mengelus pipi istrinya. "Maafkan, Aku. Membohongi Kamu selama ini."


Qonita tak sanggup menahan air matanya. Entah sedih karena wajah suaminya yang memerah atau karena permintaan maaf suaminya. Atau karena suasana yang seharusnya penuh cita dan bahagia kini berubah menjadi duka.


"Maaf..." ucap iman lagi. Menghapus air mata di wajah istrinya.


Qonita menjatuhkan tubuhnya ke dalam tubuh suaminya. Iman mendekap istrinya. Qonita menangis dalam pelukan suaminya. Padahal baru saja dia ingin menyampaikan kabar bahagia seputar kehamilannya. Namun semuanya sirna begitu saja.


"Kamu dan anak-anak pulang, ya. Aku harus ke rumah Papa. Tunggu Aku di rumah."


Qonita menggeleng. "Nggak. Kami ikut."


"Setelahnya Aku akan menjelaskan padamu, Sayang. Semuanya. Aku akan berkata jujur." Iman meminta pengertian istrinya.


"Qonita mau ikut. Abang gak bisa berdua aja sama Papa. Papa sedang murka. Papa kecewa sama Abang."


"Kamu mengkhawatirkan Aku?" tanya Iman bingung. Dia fikir istrinya meminta penjelasan padanya, tentang pengakuannya menikahi siri Mayang. Tentang kebohongannya selama ini.


"Qonita gak mau terjadi sesuatu pada papi dari anak Qonita. Kami ikut." Qonita memohon pelan.


"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Iman bingung. Bukankah urusan orang dewasa tidak seharusnya diketahui oleh anak-anak mereka.


"Mereka bisa main di dalam kamar. Di ruangan lain," ucap Qonita lirih.


"Udah gak apa, Bang. Jangan buat Papa makin marah lagi, ayo kita ke rumah Papa," ucap Nana memberi usul.

__ADS_1


Iman mengangguk. Mereka pun akhirnya pulang. Menyusul opa Pras dan oma Herni.


Sesampainya di rumah opa Pras, opa Pras sudah menunggu di ruang tamu. Duduk berdua dengan oma Herni. Oma Herni mengelus lengan dan dada suaminya, menenangkan amarah yang masih jelas terlihat.


Anak-anak disuruh bermain di dalam kamar. Hanya ditemani oleh Vivi.


Iman duduk dihadapan papanya.


"Kapan Kamu menikahinya?" tanya opa Pras pelan namun sangat tajam.


"Sebulan setelah menikahi Jihan."


Plak


Sebuah tamparan keras kembali mendarat sempurna di wajah Iman.


Air mata Qonita jatuh. Begitu pula dengan Nana. Mereka tak tahan melihat kemarahan seorang Papa yang dikecewakan oleh anak kebanggaannya.


Iman hanya diam.


"Kamu dengar?" Teriak opa Pras karena Iman tak menjawab.


"Aku gak bisa menceraikannya, Pa."


Plak


Opa Pras tidak dapat menahan emosinya. Sudah 3 kali dia menampar keras anaknya.


"Mantuku cuma Qonita. Kalau Kamu gak menceraikannya. Jangan anggap Aku lagi sebagai orang tuamu." Imbuh opa Pras.

__ADS_1


Iman menghela nafas panjang.


"Kamu pilih dia atau Qonita?" tanya opa Pras penuh penekanan.


Deg


Qonita dapat melihat jemari Iman mencengkeram kuat.


"Jawab!" ucap opa Pras kuat.


Qonita berlutut di hadapan mertuanya.


"Kak," seru Nana.


"Sayang," panggil oma Herni dan Iman.


"Jangan suruh Abang memilih, Pa. Qonita mohon. Qonita gak mau anak Qonita berpisah dari papinya," ucap Qonita terdengar menyedihkan.


"Karena dia memang harus memilihmu, Nak. Hanya itu pilihannya," ujar opa Pras. "Berdirilah, Nak," pinta opa Pras pada Qonita.


"Jangan pukul Abang lagi, Pa. Qonita sakit melihatnya," ucap Qonita lirih, air matanya mengalir deras.


"Dia membohongi kita selama ini, Nak. Dia punya istri selain Kamu. Dia harus menceraikan perempuan itu!" ucap opa Pras tegas.


"Ada anak diantara mereka, Pa. Cantik seperti Ichy," ungkap Qonita pelan.


Deg


Semua terkejut, mata mereka melotot mendengar ucapan Qonita. Tidak terkecuali Iman dan Jamal. Bagaimana Qonita tahu tentang Mayang dan Yuna?

__ADS_1


"Sayang..." ucap Iman memandang istrinya.


Air mata Iman jatuh. Dia baru tahu kalau ternyata selama ini Qonita mengetahui yang sebenarnya.


__ADS_2