PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 14 Semakin Dekat


__ADS_3

...Bab 14 Semakin Dekat...


Qonita POV


Berkali-kali harus mengjela nafas memikirkan sikap laki-laki itu. Dia bahkan lebih dari sekedar 'The king of Sulaiman', tak boleh ditolak.


Apa itu katanya, 'Nurut, Sayang'? Ahh, rasanya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Kenapa gak bisa membantahnya sama sekali.


Pertama kali bertemu, kesel banget liat sikap dia. Sombongnya kebangetan. Tapi makin kesini semuanya berbeda.


Pantas saja abang dan bujing meminta untuk mengenalnya lebih dulu, mungkin inilah maksudnya. Akhirnya bisa melihat sisi baiknya.


Dia memang ngeselin. Tapi liat sikap dia ke anak-anak bahkan ke Vivi sekalipun, penilaian buruk padanya lenyap begitu saja.


Mereka tak seperti orang kebanyakan, yang menilai rendah serta memperlakukan berbeda keluarga yang ekonominya di bawah mereka.


Hal yang selama ini aku takutkan, jika bersama orang dari keluarga berada. Takut direndahkan, diacuhkan, sehingga lebih baik menghindarinya saja.


Namun, dia dan keluarganya mematahkan semua itu. Mereka berbeda, tak sama seperti kebanyakan orang di atas sana.


Abang dan bujing kelihatan menyukainya. Anak-anak juga bahagia ketika bersamanya.


Ichy, ya dia anak yang manis, membuat jatuh cinta padanya di awal pertemuan.


Ditambah mendengar cerita tentangnya setelah kepergian maminya, membuatku semakin ingin memberi kasih sayang seorang Ibu untuknya. 


Sementara laki-laki itu, diumur yang masih muda sudah sukses dalam karirnya, walau didukung oleh kekayaan orangtuanya. Namun tak dipungkiri keberhasilannya tak luput dari kerja kerasnya.


Mapan, tampan, ahh, kenapa sekarang yang terlihat kelebihannya saja.


Cuma 1 kekurangannya, ngeselin. Tapi, em kog nyenengin ya, eh, astagfirullah.


❤️❤️❤️


Iman POV


Sebenarnya aku gak tau alasan utama ingin menikahinya itu apa.


Apa karna mama, ingin menuruti permintaan orang yang melahirkan dan membesarkanku?


Atau karna Ichy, ingin menggantikan sosok seorang Ibu yang telah hilang darinya selama ini?


Atau karna keinginanku sendiri?


Arrgh, aku gak bisa membohongi diri sendiri. Aku menyukainya. Sangat!


Jika seperti ini tentu saja rasa bersalah menderaku. Apa aku tipe lelaki yang tak bisa setia? Aaarrghh, Qonita, sayang aku mencintaimu.


❤️❤️❤️


Di kantor Iman


Masih dengan rutinitas yang sama, makan siang kali ini juga diruangan Iman bersama Jamal, asprinya itu.


"Gimana semalam, Bos? Lancar?" tanya Jamal.


"Hem, Aku senang dia pakai jam yang Aku kasih." Iman tersenyum mengatakannya.


"Yaelah, Bos cuma ngeluarin duit doank, yang milihih orang lain," sindir Jamal.


"Diam. Tunggu aja dia pakai yang Aku pilihin sendiri. Dia pasti makin cantik," jawab Iman percaya diri.


"Ya iyalah, Bos. Harganya juga cantik." Jamal mengingat  3 hari yang lalu, bosnya itu mengajaknya ke salah satu butik sepulang rapat.

__ADS_1


"Kambing aja yang pake bisa kelihatan cantik, Bos," ucap Jamal mengejek.


Pletak


Pulpen mengenai kening Jamal.


"Astagfirullah, Bos. Kalau bocor, Bos harus ganti rugi!" Jamal kesal melihat tingkah bosnya.


"Gue ganti rugi. Gue bayar biaya jahitnya."


"Ck, enak aja gitu doank. Ganti rugi yang setimpal!" ucap Jamal ketus.


"Lo mau apa?" tanya Jamal.


Jamal berfikir meminta apa pada bosnya itu. Ketika hendak mengucapkan, Iman lebih dulu bicara.


"Teeet. Kelamaan. Telat," ucap Iman mengejek Jamal.


"Huufft." Jamal mendesah.


"Mal." 


"Jangan panggil Mal, Bos. Kayak mau panggil cewek yang namanya Mala."


"Jam."


"Jangan panggil Jam, Bos. Kayak jam tangan aja."


"Jamila," sungut Iman. "Dari tadi protes melulu." 


"Kenapa seh, Bos. Kayak cewek yang lagi PMS. Esmosi aja bawaannya."


"Aku suka sama dia," ucap Iman datar.


Hening


"Komen, Woi!" salak Iman.


"Ampun, Bos. Boleh absen gak hari ini?"  


"Ck."


Hening


"Ya udah kali, Bos. Maju terus." Jamal cuma bisa mengatakan itu.


"Aku khawatir..." 


Jamal mengangguk, menatap lama pada Iman, Iman pun seolah mengerti maksud dari tatapan Jamal.


❤️❤️❤️


Qonita tersenyum melihat HPnya, terlihat pesan dari Iman di layar HPnya.


"Assalamu'alaikum. Udah maksi?"


" Waalaikum salam. Udah. Abang?"


Iman tersenyum melihat balasan Qonita. Entah kenapa dia merasa senang akan panggilan yang diberikan Qonita padanya, 'abang'.


"Seneng banget, Bos. Sampe senyum-senyum gitu," ucap Jamal melihat bosnya terlihat bahagia.


"Neh." Iman menunjukkan layar HPnya yang berisi chat nya dengan Qonita.

__ADS_1


Jamal mengernyit. "Bagian mana yang bikin seneng, Bos?" tanyanya tak mengerti.


"Ck. Liat neh, dia panggil Gue apa," sentak Iman kesal.


"Astagfirullah, Bos. Cuma dipanggil abang doank. Sama kayak panggilan Nana ke bos kan? Hahaha..."


"Gak peka banget seh Lo. Itu artinya dia udah bisa nerima Gue. Lo pikirin coba, orang kayak Qonita kan gak mungkin panggil kamu ke suaminya," ucap Iman bangga.


Jamal tampak berpikir sejenak. "Iya juga ya, Bos. Jihan dulu gitu juga, ya. Setelah nikah panggil 'mas' ke bos."


Iman mengangguk.


"Eh, tapi gak berlaku umum, Bos. Buktinya -"


Ucapan Jamal terpotong oleh tatapan tajam Iman. Pembicaraan mereka berakhir dengan Iman mengetik balasan pada Qonita.


"Udah, Sayang. Rindu 😘."


❤️❤️❤️


Malam hari dirumahnya, Qonita melihat Fuad dan Nabil sedang bermain. 


"Bagus-bagus mainannya ya, Bu." Vivi menatap mainan pemberian Iman.


"Iya, ada harga ada rupa," seru Qonita.


"Bunda, liat ini tulisan Abang," ucap Fuad menunjukkan buku belajar menulisnya.


"Alhamdulillah, MasyaAllah pinter banget anak Bunda." Menarik Fuad ke dalam pangkuan di kaki kirinya.


"Adek belajar apa tadi, Nak?" tanya Qonita pada Nabil.


Nabil menunjukkan buku yang dikasih Vivi padanya. Jika Fuad belajar menulis, Nabil belajar mewarnai dari hadiah pemberian Iman dulu, hadiah keduanya.


"Cantik, Bunda." Nabil menunjukkan hasil karya tangannya.


Qonita tersenyum. "MasyaAllah, anak pintar, sholeh Bunda." Menarik Nabil ke pangkuan sebelah kanannya lalu mengusap lembut kepala Nabil.


"Keluar garis bun, warnanya," Fuad menunjuk hasil mewarnai Nabil yang belepotan keluar gambar.


"Gapapa, Sayang. Nanti lama-lama bisa bagus mewarnainya, bisa rapi."


Setelah Fuad dan Nabil tidur, Qonita memandang HPnya. Lebih tepatnya terpaku pada balasan terakhir Iman.


"Udah, Sayang. Rindu 😘."


"Astagfirullah." Gumannya dalam hati.


Kala menerima chat itu dari Iman, sebenarnya ia kaget. Sempat ingin menghapusnya, takut ada yang lihat.


Namun diurungkannya, mengingat tak ada yang pernah memegang HPnya. Takut dilihat siapa?


Ia juga tak membalas pesan Iman itu, tidak tau harus membalas apa.


Namun, kenapa ia tak menghapus saja. Malah sekarang mencoba membaca ulang seluruh chat dari Iman, mulai dari atas sampai bawah.


Chat yang sebenarnya hanya beberapa balasan itu, harusnya tak membutuhkan waktu lama jika ingin mengulang membacanya.


Namun Qonita membutuhkan waktu yang lama membacanya. Entah apa yang dia cari, terus menaik turunkan jari jempolnya pada layar HPnya.


Bukankah dia bertingkah seperti anak remaja?


Apakah dia menyukai laki-laki itu?

__ADS_1


__ADS_2