PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 47 Foto Pernikahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu. Iman dan keluarganya menghabiskan waktu di rumah saja.


Hari ini pihak WO pernikahan mereka menghubungi Iman. Hasil dokumentasi pernikahan Iman dan Qonita sudah selesai dicetak.


Iman, istri dan anak-anaknya berkumpul di ruang keluarga.


"Jadi foto dan video nya udah siap, Bang?" tanya Qonita pada suaminya. Qonita mengelus rambut Iman.


"Iya, Sayang. Sebentar lagi mereka sampai." Iman masih memejamkan matanya, berbaring di sofa panjang, berbantalkan p4ha istrinya.


"Cepat banget siapnya ya, Bang." Qonita terlihat heran. Pasalnya foto dan video pernikahannya dulu lama siapnya. Membutuhkan waktu beberapa minggu.


"Berarti kita istimewa, Sayang." Iman tersenyum manis pada Qonita.


Tak lama terdengar ada tamu yang datang. Ternyata pihak WO sudah sampai. Mereka membawa beberapa album foto, 3 foto dengan ukuran besar berbingkai gold, serta beberapa keping CD.


Pihak WO menunjukkan beberapa hasil cetakan foto, yang tentu saja sudah diedit untuk membuatnya semakin tampak indah.


Qonita sangat menyukai hasilnya, dia terlihat sangat cantik dalam foto tersebut.


Tak lama pihak WO pamit undur diri. Qonita dan anak-anak melihat foto-foto tersebut bergantian. Ada 3 album untuk versi cetaknya.


Sementara imam mengambil 1 CD yang berisi video pernikahan mereka. Lalu memutarnya. Hanya Iman dan Qonita yang fokus menyaksikan video tersebut.


Iman duduk di atas karpet dengan tangan dan kepala menyandar pada Qonita. Sementara Qonita duduk di sofa sambil mengelus rambut suaminya. Bukan ia yang kerajinan melakukan itu, tetapi suaminya lah yang meminta. Sangat manja sekali, bukan.


Selesai menyaksikan video dengan sambil bermesraan, mereka memperbincangkan 3 buah foto yang dicetak besar berkisaran 1 meter lebih.


1 foto, hanya berisi foto Iman berdua dengan Qonita. 1 foto dengan seluruh keluarga besar. Dan 1 lagi berisi foto Iman, Qonita, Ichy, Fuad dan Nabil.


"Fotonya jadi cantik gini ya, Bang. Bisa-bisa orang jadi gak kenal ama Qonita."

__ADS_1


"Malah cantikan aslinya menurut Aku, Sayang." Iman mencubit gemas dagu istrinya.


Qonita mencebik manja.


"Yang di ruang tamu, kita letak foto kita berdua sama yang seluruh keluarga aja ya, Sayang. Yang foto kita berlima letak di ruang keluarga aja, gimana?" tanya Iman pada Qonita.


"Iya, Bang," jawab Qonita tersenyum dengan manisnya.


Om Adi sudah ada di ruang tamu. Tadi supir sekaligus pembersih taman di rumah Iman itu memang dipanggil, ia diminta tolong untuk memasang foto tersebut.


"Foto yang itu letak disini aja, Om. Yang satu lagi disana." Iman menunjukkan posisi foto yang akan dipajang.


"Siap, mas." Om Adi memang biasa memanggil Iman dengan sebutan 'mas'.


Setelah selesai memasang ketiga foto tersebut, om Adi pamit.


Qonita masih memperhatikan foto mereka.


"Di kamar kita belum ada foto kita, Sayang," ucap Iman sedikit berbisik.


Iman tersenyum genit. "Foto yang beda donk, Sayang. Kan untuk di kamar kita, cuma kita yang bisa lihat." Iman menggoda Qonita dengan senyum menggoda khas dirinya


"Maksudnya, Bang?" tanya Qonita tidak mengerti. Berbeda? Apanya yang berbeda.


"Foto mesra kita donk, Sayang." Iman menyeringai lalu menaikkan alisnya.


"Abang, jangan yang aneh-aneh, deh," sungut Qonita.


"Hahaha, gak aneh kog, Sayang. Kalau orang mau berenang ya pakai baju berenang. Kalau mau ke pesta pakai baju pesta. Kalau di kamar kita ada foto yang gak pake baju berenang maupun baju pesta, kan gapapa. Hahaha..." Iman tertawa nakal.


Qonita merengut lalu mencubit Iman.

__ADS_1


"Aduh, Sayang. Kamu seneng banget seh KDRT ke Aku," keluh Iman berpura-pura.


"Ck. Apaan seh, Bang."


"KDRT nya di tempat tidur aja, Sayang," goda Iman.


"Qonita cubit lagi neh, Bang," ancam Qonita.


"Jangan, Sayang, jangan. Cubitan Kamu tuh ngingatin Aku sama guru paling kejam di sekolah, dulu. Hahaha..." Iman tertawa puas.


Qonita menghela nafas panjang.


"Besok Abang udah ke kantor?" Qonita mengalihkan pembicaraan iseng suaminya.


"Hem, Kamu mau ikut ke kantor?"


Qonita melirik Iman. "Qonita boleh ikut, Bang?"


"Ya boleh lah, Sayang. Kalau perlu Kamu setiap hari nemanin Aku di kantor." Iman menyeringai.


"Ngapain Qonita tiap hari ke kantor Abang?"


"Ya kerja, Sayang." Senyum genit Iman muncul kembali.


"Males," jawab Qonita asal.


"Hahaha... Sayang, Kamu tuh makin gemasin aja tau, gak?" Iman mencubit manja pipi Qonita.


"Gak tau, Bang," jawab Qonita menjahili suaminya.


"Kamu makin nakal ya, Sayang." Iman menggelitiki pinggang Qonita dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Hahaha... Ampun, Bang." Qonita tertawa menahan geli.


Seminggu ini bersama, Iman memang kerap menggoda istrinya itu.


__ADS_2