
Medan, Sumatera Utara
Usia kehamilannya hampir 9 minggu, morning sickness yang dirasakan Qonita jauh lebih hebat dari hamil yang sebelumnya.
Selain masalah mual, dia juga merasa takut yang berlebihan. Ini kali kedua Iman menemukan istrinya menangis sendiri di tempat tidur. Qonita bahkan tidak sadar kalau suaminya sudah pulang kerja dan sedang memperhatikannya.
"Sayang..." seru Iman karena istrinya sedang melamun sambil meneteskan air mata.
Qonita langsung menghapus air matanya. Qonita bingung sejak kapan suaminya ada di kamar mereka.
"Abang udah pulang?" tanya Qonita lalu menyalam suaminya.
Iman duduk dihadapan Qonita. Dia angkat wajah istrinya itu agar istrinya menatap ke dalam matanya.
"Ada apa, Sayang? Kenapa Kamu menangis?" tanya Iman lembut.
Qonita menggeleng. "Nggak apa, Bang. Tadi cuma dengar cerita sedih aja."
__ADS_1
"Sayang, udah 2 kali Kamu bohongi Aku."
Deg
Qonita langsung terperangah mendengar ucapan suaminya.
"Aku baru pulang kerja. Aku rindu istriku. Tapi dari semalam Aku disambut dengan wajah menyedihkan istriku. Dan ketika Aku bertanya, istriku berbohong padaku. Kamu tahu bagaimana perasaanku? Sedih, karena ternyata Aku gak bisa menjadi tempat berbagi untuknya." Iman menatap lekat istrinya.
"Maaf, Bang. Maaf." Qonita malah semakin menangis.
Tadinya Iman berharap Qonita akan menceritakan masalahnya dengan berbicara seperti itu. Tetapi tidak, air mata istrinya malah turun dengan derasnyà.
Kemaren oma Herni berpesan pada Iman, ibu hamil itu mudah baper, ada masalah sedikit bisa jadi nangis. Ibu hamil juga jadi lebih sensitive dan gampang tertekan.
Tapi kali ini Iman yakin, ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.
"Sayang... Kamu gak mau cerita sama Aku?" Iman memperhatikan Qonita, tetapi Qonita hanya menunduk, tidak menjawab sama sekali.
__ADS_1
"Kamu tau kan pentingnya komunikasi antara suami dan istri dalam berrumah tangga? Kamu gak mau terbuka sama Aku, Sayang? Oke, kalau gitu mulai sekarang Aku juga akan melakukan hal yang sama. Gak perlu Aku -" ucapan Iman langsung dipotong istrinya.
"Maaf, Bang. Qonita bingung sama perasaan Qonita. Qonita gak ingin sedih. Gak ingin berfikiran buruk, tapi gak bisa." Air mata Qonita mengalir deras.
"Setahun yang lalu, istrinya teman Qonita yang juga melahirkan caesar, bekas sayatan di perutnya ber n4 n4h. Padahal sudah beberapa minggu sejak operasi," imbuh Qonita.
"Lalu teman SD Qonita, hamil anak kembar, mendadak harus di operasi karena katanya terkena virus, dan kedua anaknya meninggal." Qonita sambil menghapus air matanya dengan jemarinya.
"Qonita ada keturunan kembar, karna udak ada yang kembar di kampung. Tapi yang 1 nya meninggal sejak masih kecil. Qonita takut, Bang."
"Belum lagi baru hamil 9 minggu aja perut Qonita udah kelihatan besar begini. Gimana nanti hingga 9 bulan? Qonita takut jahitannya terbuka."
Iman mendekap erat istrinya. Ia elus rambut panjang istrinya itu.
"Kenapa disimpan sendiri, Sayang? Kenapa gak mau cerita ke Aku. Aku ini suami Kamu. Aku berharap jadi orang pertama tempatmu berkeluh kesah, Sayang. Jangan takut. Ada Allah. Jangan mendahului takdir. Fikirkan yang baik-baik," ujar Iman.
"Ada dua kehidupan dalam rahim Kamu, Sayang. Fikirkan aja, mereka. Ada Aku, Anak-anak dan keluarga besar kita yang akan selalu mendukung Kamu. Ada banyak orang yang mencintai dan selalu mendoakan Kamu." Iman memeluk sayang istrinya.
__ADS_1
❤️❤️❤️