PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 64 Bertemu Mantan Kakak Ipar


__ADS_3

Jika Sabtu minggu lalu, Iman dan keluarganya menginap di rumah opa Pras, dan hari Minggu nya berburu baju Muslimah bareng oma Herni, maka minggu ini mereka akan bertamu ke rumah oma Wina dan opa Zul.


Mereka sempatkan berziarah ke kuburan Jihan. Hanya Iman, Qonita dan Ichy yang turun. Vivi di mobil menemani Nabil, karena Nabil tertidur di mobil. Sementara Fuad, masih tinggal di rumah opa Pras.


"Assalamu'alaikum, Jihan. Aku datang bersama Qonita dan Ichy. Maaf jika kemaren Aku jarang datang, sekarang ada Qonita yang mengingatkan kami. Beberapa minggu yang lalu kami ke rumah papa Zul. Papa dan Mama Alhamdulillah sehat, mereka sangat senang melihat Ichy," ucap Iman.


"Kamu jangan khawatir, anak kita sekarang semakin pintar, hafalan surah nya udah banyak. Lihatlah dia sekarang sudah mengenakan hijab jika berpergian. Katanya dia ingin menjadi Hafidzah. Agar kelak bisa memberikan mahkota pada orang tuanya." Iman merangkul putrinya.


"Mau ngomong sama mami, Sayang?" tanya Iman pada anak perempuan cantik berjilbab itu.


"Assalamu'alaikum, Mami. Kakak sekarang udah punya banyak teman. Kakak setiap hari selalu mendoakan Mami. Kakak gak jadi masuk SD pesantren nanti, Mi. Soalnya Bunda nanti sedih. Do'a kan Kakak ya, Mi. Biar bisa hafal Al-Qur'an."


Iman dan Qonita sama-sama terharu mendengar ucapan Ichy.


"Kami pulang, Jihan," ucap Iman setelah mereka selesai berdoa dan membersihkan makam Jihan.


"Aku pulang, My Honey," ucap Iman dalam hati. Dua kali dia mengucap kalimat yang sama dalam hatinya. Entah kenapa, Iman tak mampu mengucapkannya di hadapan orang lain.


❤️❤️❤️


Mereka lanjut menuju rumah opa Zul dan oma Wina. Sesampainya disana, Iman melihat ada sebuah mobil, ia mengenali mobil itu.


"Huft." Iman menarik nafas berat lalu bersandar.


"Kenapa, Bang?" tanya Qonita yang sedari tadi memperhatikan perubahan raut wajah suaminya setelah melihat mobil hitam di halaman rumah, sepertinya hanya tamu.


"Sayang, itu mobil kakaknya Jihan. Sepertinya dia kurang suka sama Aku. Seandainya nanti, ada kalimatnya yang..."


"Nggak apa, Bang. Qonita ngerti, kog. Kita masuk, ya." Qonita menenangkan suaminya.


Nabil masih tidur. Iman memutuskan hanya mereka saja yang turun, kasihan jika Nabil dibangunkan.


"Assalamu'alaikum," ucap Iman, Qonita dan Ichy bersamaan.


"Wa'alaikum salam," jawab orang yang ada di dalam rumah.


"Wah, cucu Opa. Ayo masuk Man, Qonita." Opa menggendong Ichy masuk ke dalam.


Mereka duduk di ruang tamu, setelah menyalam opa Zul. Tak lama, oma Wina keluar.


"Ichy, Sayang. Oma kangen banget." Oma Wina dan Ichy berpelukan.


Iman dan Qonita berdiri hendak menyalam oma Wina.


"Apa kabar, Nak?" tanya oma Wina pada Qonita.


"Alhamdulillah sehat, Bu. Ibu, sehat?"


"Alhamdulillah, sehat. Kenapa repot-repot kalau kesini, cukup datang aja, oma udah senang." Oma Wina melihat buah dan bolu yang dibawa Qonita terletak di meja.

__ADS_1


"Kebetulan lewat tadi ada nampak, Bu," ujar Qonita.


"Sebentar ya, Oma tinggal." Oma Herni membawa bingkisan yng dibawa Qonita ke dalam.


"Iya, Bu."


"Cucu Opa makin cantik pakai jilbab gini," ungkap opa Zul.


"Alhamdulillh, Opa. Bajunya dibeliin Bunda. Cantik kan, Opa?" tanya Ichy memegang gamis bawahnya.


"Cantik banget, Sayang."


Tidak lama oma Herni datang bersama perempuan cantik berambut sebahu, ia membawa minuman.


"Apa kabar, Kak?" Iman berdiri menyalam perempuan cantik itu, setelah menghidangkan minuman yang dibawa tadi.


"Baik. Masih ingat datang kesini?" ucap perempuan itu.


"Desy!" tegur opa Zul.


"Saya Qonita." Qonita menjulurkan tangannya.


"Desy." Perempuan bernama Desy yang tidak lain kakak dari Jihan itu menyambut salaman Qonita dengan senyum terpaksa.


"Diminum Iman, Qonita," ucap oma Wina.


Iman dan Qonita pun meminum dan mencicipi hidangan yang disajikan.


"Papa sama mama kirim salam Pa, Ma?" Iman menyampaikan salam dari opa Pras dan oma Herni pada opa Zul dan oma Wina.


"Wa'alaikum salam. Kirim salam balik. Bagaimana kabar mereka?" tanya opa Zul.


"Alhamdulillah sehat, Pa," jawab Iman.


"Papa dengar usaha Kamu makin sukses, Man. Selamat, ya."


"Alhamdulillah. Makasi, Pa."


"Asal jangan waktu habis buat bekerja aja. Lupa tanggung jawab sama anak dan istri. Bukan hanya pekerjaan yang perlu diperhatikan, anak istri juga butuh perhatian," celetuk Desy.


Iman berisgtifar dalam hati mendengar sindiran mantan kakak iparnya itu. Sementara Qonita mendoakan suaminya dalam hati, agar sabar dan tetap tenang.


Sesungguhnya Qonita sangat ingin menggenggam tangan suaminya untuk menenangkan dan mendukung suaminya, hanya saja tidak mungkin ia lakukan.


"Desy." Oma Wina menegur putri sulungnya. Menggelengkan kepalanya pertanda agar jangan berkata kasar.


Sementara opa Zul hanya menghela nafas. Ia tahu benar bahwa anak pertamanya itu memang ceplas-ceplos jika berbicara. Apalagi semenjak meninggalnya Jihan, Desy semakin tidak meyukai Iman.


"Pelan-pelan Saya akan memperbaiki diri, Kak," ujar Iman.

__ADS_1


"Dengan memperhatikan istri baru mu ini? Lalu bagaimana dengan adikku?" Desi berucap kuat.


"Desy, masuk ke dalam!" Opa Zul menyuruh kakak dari Jihan itu untuk masuk agar tidak memperkeruh suasana.


Desy berdiri. "Ichy, main sama Uwak yok, Sayang." Desy mengajak Ichy ikut bersamanya.


Ichy melihat pada bundanya. Seolah bertanya apakah dia boleh ikut.


Qonita mengangguk. "Main sama Uwak dulu ya, Nak."


Ichy berdiri mendekat pada Desy. Desy meraih tangan Ichy, menuntun masuk ke dalam bersama.


"Jangan dimasukkan hati perkataan kakakmu, Man," ujar opa Zul.


"Siap, Pa," jawab Iman.


"Maafin Desy ya, Qonita. Dia kalau ngomong memang suka gitu," ucap oma Wina.


"Gak apa, Bu, Qonita bisa ngerti, kog." Qonita memberi senyuman damai.


Sementara di ruang berbeda, Desy sedang bersama Ichy.


"Gimana kabar Ichy, Sayang?" tanya Desy pada Ichy.


"Sehat, Wak. Sekarang Ichy banyak yang nemani. Ada Bunda, Adek Fuad, Adek Nabil dan Kak Vivi," ujar Ichy antusias. Nampak ia ceria dan semangat menceritakannya.


"Vivi itu siapa, Sayang?" tanya Desy.


"Yang jaga Adek Fuad dan Adek Nabil."


"Bunda sayang sama Ichy?" tanya Desy.


"Sayang, Wak. Bunda ngajarin Ichy cara mendo'akan mami. Nyuruh ingatin Ziarah sama ke rumah oma, kalau Bunda lupa. Nemanin hafal surah sama belajar. Beliin baju Muslim. Kakak senang," ungkap Ichy tersenyum ceria.


"Bunda yang ngajak Ziarah?"


Ichy mengangguk. Desy memicingkan matanya.


"Bunda pernah mukul Ichy, jahat sama Ichy, atau beda-bedain Ichy sama anaknya?" tanya Ichy lagi.


"Bunda dan adek-adek baek, Wak. Kami main dan belajar sama-sama. Bunda udah panggilin guru ngaji. Bunda gak pernah mukul, Bunda selalu baik dan sayang sama kami."


Desy menelan ludahnya. Wajahnya berubah datar.


"Kalau Bunda dan adek-adek jahat, Ichy harus ngadu ke papi. Ngerti kan, Sayang?" tanya Desy memastikan.


Ichy hanya mengangguk bingung.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2