
Pukul 4 pagi Iman sudah berangkat menuju bandara. Awalnya Qonita ingin ikut mengantar kepergian suaminya ke Bandara, tapi Iman tak mengizinkan karen Qonita harus bekerja. Akhirnya Qonita hanya mengantar sampai di depan rumah saja.
"Hati-hati dijalan, Bang. Semoga selamat dan sehat sampai tujuan hingga kembali lagi kesini. Semoga segala urusan Abang lancar dan dimudahkan Allah. Aamiin." Qonita menyalam takzim tangan suaminya.
"Aamiin. Makasi, Sayang." Iman menc!um pipi kiri dan kanan, lalu kening Qonita. Setelah itu mereka berpelukan erat. Hanya istri nya yang menghantar kepergiannya, karena masih dini hari, anak-anak masih tidur.
❤️❤️❤️
Qonita menjalankan aktivitasnya seperti biasa yaitu bekerja di SMA *. Sementara Ichy pergi TK. Fuad, Nabil dan Vivi turut mengantar Ichy, begitu juga pulangnya, mereka menjemput bersama.
Qonita dan Iman saling memberi kabar.
Alhamdulillah Aku udah sampai, Sayang. I love you 😘.
Sebuah pesan dari Iman. Qonita pun membalas pesan dari suaminya itu.
Alhamdulillah. Semangat menjemput rezki Imam Qonita. I love you too, hubby 😘😍🥰. Kami disini selalu mendoakan Abang. Peluk c!um dari istri dan anak-anak Abang.
❤️❤️❤️
Selesai makan malam, Qonita mengirim pesan pada suaminya jika ia dan anak-anak sedang berkumpul. Qonita pun tak lupa mengingatkan suaminya makan dengan mengirim pesan saat jam makan siang dan malam tadi.
__ADS_1
Iman membalas chat istrinya. Mengatakan jika ia merindukan istri dan anak-anaknya. Tak lama muncul balasan dari Qonita yang menanyakan bisa video call atau tidak.
Sebenarnya sedari tadi Iman bisa saja melakukan panggilan video, hanya saja ia ingin tahu bagaimana Qonita jika ia sedang keluar Kota. Dan ternyata benar saja, Qonita kerap mengiriminya pesan. Tetapi tidak berani langsung melakukan VC, istrinya itu bertanya lebih dahulu padanya.
"Assalamu'alaikum, Papi," ucap anak-anak serempak saat menjawab panggilan video dari papinya.
"Wa'alaikum salam, Sayang. Gimana, kalian baik-baik disana kan, Sayang?" tanya Iman pada anak-anaknya. Hanya ketiga wajah anaknya yang kelihatan di layar HP nya.
"Baik, Pi," jawab mereka kompak.
"Papi udah rindu banget sama kalian. Ada yang rindu sama Papi, gak?"
"Rindu, Pi."
Jawaban anak-anak berbeda, namun diucapkan secara serempak.
"Yah, yang rindu cuma anak-anak, aja. Bunda gak rindu ya, sama Papi? Kog suara Bunda gada kedengaran." Iman berpura-pura sedih.
"Ini Bunda, Pi." Ichy menyerahkan HP pada bundanya yang duduk di samping mereka, sedari tadi memperhatikan suami dan anak-anaknya mengobrol.
"Assalamu'alaikum, Abang." Qonita tersenyum lebar pada suaminya.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, Sayang."
"Siapa bilang Qonita gak rindu, rindu banget tahu, Bang." Qonita merajuk pada suaminya.
"Yang benar, mana buktinya?" tantang Iman.
"Astagfirullah, Bang. Apa getaran rasa rindu dan cinta yang Qonita kirim ke Abang gak terasa sampai disana? Padahal kekuatannya 8,4 skala richter, lho.
"Hahaha..." Iman tergelak mendengar rayuan istrinya. "Sayang, rasanya Aku pengen langsung pulang malam ini."
Qonita terkekeh kecil. "Selesaikan dulu urusannya, Bang. Kalau udah siap, langsung cus kesini." Qonita mengedipkan matanya.
"Siap, nyonya. Segera ditindaklanjuti. Udah dulu ya, Sayang. Kalian istirahat, ya."
"Iya, Bang. Abang juga istirahat dan jaga kesehatan, ya."
"Salam sama papi, Nak." Qonita mengarahkan layar HP pada anak-anak.
" Da daag, Papi. Assalamu'alaikum."
"Da daag, Sayang. Wa'alaikum salam."
__ADS_1