PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 37 Malam dan Pagi Yang Indah


__ADS_3

...Malam Yang Indah...


Setelah selesai mereguk indahnya surga dunia, Iman menjatuhkan dirinya disamping kanan sang istri.


Sepasang suami istri itu masih terengah-engah. Qonita memiringkan tubuhnya menghadap sang suami. Ia sedang mengamalkan hal yang pernah disampaikannya dahulu, ketika Nana bertanya bagaimana cara mendapatkan anak laki-laki.


Meski sudah memiliki dua anak laki-laki, Qonita tetap memiringkan badannya ke arah kanan. Ia tahu, bahwa Iman dan keluarganya pasti sangat mengharapkan keturunan berjenis kelamin laki-laki, hadir di tengah keluarga mereka.


Ia hanya berusaha. Bukankan sebuah harapan harus disertai dengan ikhtiar dan doa. Apapun yang akan didapatkannya kelak, sudah ia ikhlaskan, karena Allah lebih mengetahui mana yang terbaik bagi hambanya.


"Bang." Qonita berpangku tangan di atas dada Iman.


"Kenapa, Sayang?" Iman mengelus rambut istrinya yang persis berada dihadapannya.


Qonita sedikit menegakkan tubuhnya masih bersandar pada tubuh Iman. Ia menggenggam tangan suaminya.


“Qonita mohon maaf jika ada kata-kata dan sikap Qonita, yang menyinggung hati Abang. Posisi seorang istri, akan semakin mulia karena ridho suaminya. Semoga Abang ridho 100% pada Qonita." Qonita kini mengecvp takzim tangan Iman.


Iman menegakkan badannya. Iman dan Qonita kini sama-sama dalam posisi duduk dan saling berhadapan.


"InsyaAllah, Aku ridho 100% padamu, Sayang. Aku juga minta maaf untuk setiap salah dan kurangku, padamu." Iman mengecvp kening Qonita lama. Ia menghayatinya dengan syahdu.


Malam ini adalah malam terindah baginya.


"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik dunia adalah wanita yang shalihah. Dan Aku bersyukur menikahi wanita shalihah seperti Kamu, Sayang." Iman menarik Qonita ke dalam pelukannya.


Lama Iman mendekap erat istrinya. Ia masih menikmati kebersamaan mereka. Ini adalah moment spesial baginya. Qonita juga terlihat nyaman berada dalam dekapan hangat suaminya.


"Sayang," ucap Iman.


"Ya, Bang," sahut Qonita yang hanya menaikkan sedikit kepalanya hingga mengenai dagu suaminya.


"Tadi itu, Kamu sexy banget, Sayang. Dan, Aku menyukai permainanmu. Itu sangat hebat, Sayang. Makasih untuk malam menakjubkan ini." Iman mengucapkan kata demi kata dengan perlahan-perlahan.


Qonita tersenyum mendengarnya. Bukan Iman namanya jika moment indah ini tak dibarengi dengan kalimat-kalimat nakal suaminya itu.


Qonita menyukai ini. Ia berharap suasana mesra dan bahagia ini senantiasa tercipta dalam kehidupan mereka hingga akhir kelak.


"Qonita mandi dulu ya, Bang."


"Iya, Sayang. Mau ditemani?" goda Iman. Wajah mesumnya sudah terbit lagi.


"Abang, ih." Qonita merajuk manja.


"Mana tau Kamu mau Aku bantuin nyabunin bagian belakang tubuh Kamu, Sayang. Nih, disini, disini." Iman menunjuk bagian belakang tubuh Qonita dengan merabanya.

__ADS_1


"Nggak Bang, Qonita bisa sendiri." Qonita langsung beranjak ke kamar mandi.


Peristiwa yang baru dialami mereka tadi, memang mengasikkan dan melenakan.


Namun mengulanginya lagi, malam-malam begini di kamar mandi pula, ah lebih baik tidak.


Iman terkekeh geli melihat tingkah lucu istrinya. Melewati waktu bersama Qonita, sungguh sangat menyenangkan dan membuat nyaman hatinya.


❤️❤️❤️


...Pagi Yang Indah...


Adzan Subuh sudah berkumandang. Mata Qonita mulai terbuka perlahan-lahan. Ia tersadar, kalau ternyata lengan suaminya yang menjadi bantal empuk baginya.


Ia mencoba bangkit perlahan-lahan. Namun sayang, Iman menyadari pergerakannya.


"Hem." Iman bersuara masih dalam keadaan mengantuk.


"Assalamu'alaikum, cahaya hidup Qonita." Qonita menyapa suaminya yang sudah membuka matanya.


Iman tersenyum. "Waalaikum salam, Sayang." Ia mengusap lembut wajah istrinya.


Cvp


"Morning kiss." Qonita tersenyum lebar setelah mengucapkannya.


Iman tersenyum bahagia. Istrinya ini senantiasa memberikannya kejutan demi kejutan.


Mulai dari panggilan. Qonita yang terlihat kaku menyebut saya, kini berubah menjadi Qonita. Terdengar lebih manja di telinga Iman.


Dan panggilan untuknya dulu, mulai dari tuan dan kamu, kini juga sudah berganti. Panggilannya menjadi berubah-ubah. Kadang imamku, pemilik rinduku, dan sekarang cahaya hidup. Membuat Iman merasa begitu disanjung.


Dan sekarang, Qonita bahkan tak malu untuk menc!umnya. Setelah menikah, Qonita malah sering bersikap manja dan mesra, sungguh menggemaskan.


"Maaf Bang, tangan Abang pasti pegal, ya," ucap Qonita menyesal karna sepanjang malam, tangan suaminya pasti tak bisa bergerak.


Iman tersenyum. "Nggak, Sayang. Malah nyaman, terasa hangat."


Qonita mencebik manja.


"Kamu adalah pikiran terakhir dalam pikiranku sebelum aku tertidur, dan pikiran pertama ketika aku terbangun." Iman menatap Qonita dalam. Iman mengelus sayang pipi Qonita.


"Makasi, Abang sayang." Qonita merasa sangat senang mendengar kalimat indah suaminya.


Cvp

__ADS_1


Qonita kembali memberikan sebuah kecvpan dibibir Iman.


"Nanti kita lanjut ya, bersih-bersih dulu, yuk. Subuhnya jamaah ya, Bang." Qonita terpaksa memutus sementara moment mesra dan romantis mereka. Ada tanggung jawab sebagai seorang hamba yang harus segera ia dan suaminya tunaikan.


Iman mengangguk. Ia begitu terpukau diperlakukan demikian oleh Qonita.


❤️❤️❤️


Selesai menjalankan sholat subuh, Qonita mengajak suaminya ke kamar anak-anak.


Kamar Ichy menjadi pilihan pertama mereka, mengingat Ichy adalah anak tertua dari ketiga anak mereka.


Masuk ke kamar Ichy, ternyata Ichy sudah bangun. Hanya saja ia masih terlihat bermalas-malasan.


"Assalamu'alaikum, Sholehah Bunda." Qonita menyapa putrinya itu, yang langsung tersenyum begitu melihat kedatangan dirinya.


"Wa'alaikum salam, Bunda." Ichy langsung bangkit dan memeluk Qonita.


Ada rasa haru yang dirasakan Iman saat melihat keakraban anak dan istri barunya itu. Ia bersyukur Ichy begitu bahagia ketika bersama Qonita, sama seperti dirinya.


"Ehm, jadi yang dipeluk cuma Bunda aja, neh." Iman yang tak diperdulikan sama sekali menyindir anak tercintanya.


"Papi, selamat pagi." Seperti itulah sapaan Ichy dan Iman setiap hari.


"Selamat pagi, Sayang." Iman memeluk Ichy,


lalu menyium kepala anak perempuannya itu.


"Ucap salam dulu, Sayang. Setelah itu, boleh dilanjut dengan selamat pagi. Mulai sekarang, kita biasakan, ya. Biar berkah. Mau, kan?" tanya Qonita pada Ichy, sambil mengelus manja rambut Ichy.


"Mau, Bunda," ucap Ichy bersemangat.


Iman yang mendengar penuturan Qonita, tersenyum malu. Selama ini, ia memang tak membiasakan hal-hal berkaitan agama pada anaknya.


"Assalamu'alaikum, Papi. Selamat Pagi." Ichy mencoba mempraktekkan yang baru saja disampaikan oleh ibu sambung nya itu.


"Wa'alaikum salam, Sayang, Sholehah Papi dan Bunda," ucap Iman tersenyum sambil melirik Qonita.


"MasyaAllah, indahnya. Pinternya anak Bunda ini." Qonita mengelus kepala Ichy.


"Peluk dulu, donk." Qonita memeluk Ichy dan Iman sekaligus.


Mereka bertiga berpelukan layaknya teletubies. Berpelukan sambil tertawa riang gembira.


"Aku harus berterima kasih pada mama. Mama yang udah maksa Aku untuk mau menikah dengan Qonita. Dan sekarang, Aku sangat bersyukur karna hal itu. Kehadiran Qonita melengkapi kekuranganku. Sayang, Aku berjanji akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu dan anak-anak," ucap Iman dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2