PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 167 Mayang dan Agil Sah


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Setelah menidurkan anak-anaknya, Iman dan Qonita kembali ke kamar mereka. Iman sudah merebahkan badannya serta langsung memejamkan matanya. Qonita melihat suaminya. Lalu dia ikut berbaring tepat di samping suaminya.


"Abang ada masalah apa? Kenapa gak cerita ke Qonita?"


Deg


Pertanyaan istrinya seketika membuat Iman terkejut.


"Ha? Masalah apa, Sayang? Aku cuma capek, aja. Maaf ya, Aku cuekin Kamu, ya?" Iman membuat alasan.


"Qonita ini istri Abang. Walau kita belum lama menikah, tapi Qonita tahu kalau saat ini Abang lagi ada yang difikirkan," ujar Qonita.


"Beneran Aku gak apa-apa kog, Sayang.


"Bener gak mau cerita? Ya udah nanti kalau Qonita ada masalah, Qonita gak mau cerita ke Abang." Qonita mengancam suaminya.


"Eh, kog gitu seh, Sayang. Aku ada sedikit masalah kerjaan aja, kog. Aku gak cerita ke Kamu karna Aku gak mau nambah beban fikiran Kamu," seru Iman.


"Tapi Qonita mau ada di setiap bahagia ataupun sedih Abang. Qonita gak bisa berpura-pura untuk gak perduli sama Abang," ungkap Qonita sedih.


Iman menghela nafas panjang. "Tapi apa yang Aku sampaikan ini jangan sampai menganggu kesehatan dan kehamilan Kamu ya, Sayang."


"InsyaAllah gak, Bang," sahut Qonita.


"Kemaren Aku ada kerja sama bisnis sama teman kuliahku. Aku udah lama gak ketemu dia. Aku juga gak cek track record dia sekarang gimana. Sekarang dia menghilang. Uangku dibawa kabur," ungkap Iman.


"Astagfirullah. Yang sabar ya, Bang." Qonita memeluk suaminya.


"Semoga ini menjadi pelajaran untuk Abang agar lebih berhati-hati. Juga agar kita sadar bahwa apa yang ada di dunia ini hanya titipan dariNya, jadi kapan pun Allah mengambilnya, kita harus menerimanya dengan ikhlas," sambung Qonita.


"Kamu gak mau nanyak berapa uang yang dibawa kabur, Sayang?" tanya Iman.


Qonita tersenyum. "Memangnya berapa, Bang?"


"7 M."


Deg


Qonita melotot mendengarnya.


"Abang perlu uang? Pakai uang yang sama Qonita aja. Kalau kurang bisa jual emas Qonita, Bang."

__ADS_1


Iman langsung terkekeh mendengar perkataan istrinya. "Sayang, Aku bilang jumlah uangnya karna Aku heran Kamu kog gak marah. Ria aja semalam habis ngomelin Jamal pas tahu ceritanya. Kamu gak ada mau marah ke Aku gitu? Ngomel kenapa Aku gak hati-hati sampai bisa hilang uang sebanyak itu?"


"Nggak, Bang. Ngapain Qonita marah. Karena yang paling bersedih disini udah pasti Abang. Kalau ditanyak, pasti Abang gak mau sampai terjadi seperti ini, kan? Yang Abang perlukan disini adalah dukungan. Bukan omelan. Qonita hanya bisa mendoakan, semoga ada jalan keluarnya. Aamiin." Qonita menatap syahdu pada suaminya.


"Aamiin. Makasi istriku. Yang Aku butuhkan itu adalah Kamu, Sayang." Iman mengecvp dahi istrinya dalam.


MasyaAllah sekali dia memiliki istri seperti Qonita. Sangat tenang dan damai kala bersama istrinya, kala mendekap erat istrinya dalam pelukannya.


❤️❤️❤️


Kantor Iman


"Jadi gimana Bos, kita kejar?" tanya Jamal pada bosnya.


"Gak usah. Fokus aja sama pekerjaan kita yang lain. Jangan sampai gara-gara ngurus itu, pekerjaan yang ada di depan mata jadi terbengkalai. Bisa zonk, uang hilang, pekerjaan juga berantakan," ujar Iman.


"Maaf, Bos. Kali ini feelingku gak tepat. Aku gak ada ngerasa yang janggal padanya. Tapi dibiarin gitu aja, kog rasanya gak enak banget, Bos," seru Jamal.


"Kita tunggu waktu yang tepat. Kalau sekarang masih panas, dia gak bakal keluar. Aku gak bilang kita tutup buku, hanya saja untuk saat ini kita kerjakan aja dulu apa yang bisa kita kerjakan. Jangan terlalu memaksakan hal yang gak bisa kita gapai untuk saat ini." Iman berucap tenang.


"Santai amat, Bos. Gak kayak semalam?"


"Qonita udah tahu. Dia yang buat Aku jadi gini."


"Ha? Dia gak marah?"


"Ck. S1 4l." Jamal mengumpat pelan.


❤️❤️❤️


2 minggu kemudian


"Kakak, temannya Papi ada yang nikah di Jakarta. Bunda boleh gak nemani Papi kesana? Gak lama kog Sayang, cuma nginap 1 hari aja." Qonita menatap lekat wajah putrinya.


Raut wajah Ichy berubah sedih. Tidak menjadi masalah baginya jika papinya yang pergi keluar kota, tapi jika ibu sambungnya itu yang pergi, dia menjadi merasa kehilangan. Sedekat itu memang mereka.


Ichy diam menunduk. Qonita sudah tahu bahwa anak perempuannya itu sedang berusaha untuk tidak menangis.


"Sayang..." Qonita memeluk tubuh putrinya.


"Andai Bunda gak sedang hamil, Bunda ingin mengajak Kakak, Fuad dan Nabil ikut. Tapi karena Bunda sedang hamil, Papi gak mengizinkan kalian ikut. Papi merasa lebih tenang jika kalian berada di rumah, Sayang." Qonita memberi penjelasan pada Ichy.


Qonita memang sudah membicarakan dengan suaminya, tentang kepergian mereka ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Mayang dan Agil. Qonita sudah memprediksi bahwa anak-anaknya akan berat untuk ditinggal. Untuk itu dia mengusulkan membawa serta anak-anak dengan alasan sekalian jalan-jalan.

__ADS_1


Namun Iman menolak meski Qonita sudah mengatakan akan membawa Vivi untuk membantu menjaga anak-anak mereka. Kondisi Qonita yang sedang hamil kembar membuat Iman harus ekstra menjaga istrinya itu.


Dia khawatir kesulitan memantau anak-anaknya meski membawa Vivi atau ditambah yang lainnya. Berada di kota orang tidak sama seperti ketika berada di daerah sendiri.


"Ichy Sayang, jangan sedih donk. Bunda dan Papi cuma menghadiri pernikahan temannya Papi aja, Sayang. Beneran gak lama, kog," seru Qonita.


"Gak lama kayak kemaren?" tanya Ichy. Yang dimaksud Ichy adalah ketika Iman dan Qonita pergi ketika menghadiri acara ulang tahun Yuna. Saat itu memang mereka pergi cukup lama, 3 hari.


"Nggak, Sayang. Duh anak Bunda kemaren katanya mau masuk pesantren. Ini mau ditinggal sehari doank udah manyun," goda Qonita.


"Kalau masuk pesantren kan beda, Bunda," sahut Ichy.


"Iya, iya. Makasi udah bolehin Bunda nemani Papi ya, Sayang. Nanti Bunda pasti sering telfon Kakak dan Adek-adek, ya."


"Bener ya, Bunda. Bawa oleh-oleh juga, ya."


"Hahaha..." Qonita terkekeh mendengar permintaan putrinya. "InsyaAllah Sayang."


❤️❤️❤️


Jakarta


Hari ini adalah hari spesial buat Mayang dan Agil. Mayang terlihat tidak tenang. Keceriwisan Yuna lah yang terkadang membuatnya bisa tersenyum.


Namun ketika kata 'sah' terdengar setelah Agil dan papanya mengucapkan ijab qabul, Mayang menarik nafas lega. Saat itulah dia terlihat tersenyum bahagia.


Meski menikah di usia yang tidak lagi muda, namun mereka terlihat seperti pasangan muda, kecantikan Mayang dan ketampananan Agil membuat mereka tampak serasi layaknya perawan dan lajang.


Dari meja tempatnya duduk, Iman menatap haru pada Mayang dan Agil, serta Yuna yang berada di tengah mereka. Sedangkan Rangga tampak digendong oleh orang lain yang berpakaian seragam, kemungkinan adalah keluarga Agil.


Agil menunjuk ke arah meja Iman dan Qonita, dia memberi tahu Yuna bahwa papinya sudah datang. Yuna berlari menuju ke arah papinya berada.


Iman memeluk putrinya itu.


"Kamu cantik banget, Sayang." Iman menangkup wajah putri keduanya.


"Kayak princess ya, Pi?" seru Yuna.


"Iya, Sayang. Cantik kayak princess."  Iman dan Yuna sama-sama tertawa.


"Tante perutnya udah besar, nanti Mami bisa hamil kayak Tante, ya?" tanya Yuna pada Qonita.


"InsyaAllah bisa, Sayang. Yuna doain donk, biar Mami segera hamil," imbuh Qonita.

__ADS_1


"Oh iya, Tante. Nanti Yuna doain mami."


❤️❤️❤️


__ADS_2