PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 111 Qonita Bertemu Mayang


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Saat ini, Iman sudah aktif kembali di kantor. Iman dan Jamal sudah berani membicarakan Mayang dan Yuna di ruang kerja Iman jika mereka sedang berdua saja seperti saat ini.


"Jadi Mayang dan Yuna udah di Jakarta?" tanya Jamal pada bosnya.


"Hem." Iman mengangguk.


"Sampai kapan mereka disana?" tanya Jamal.


"Aku gak tahu," jawab Iman datar.


"Kamu gak ada rencana ambil keputusan?" tanya Jamal lagi.


Iman tidak menjawab, dia hanya menghela nafas panjang.


❤️❤️❤️


Jakarta


Sudah 5 hari Mayang dan Yuna berada di Jakarta. Yuna semakin senang berada disana, banyak keluarga yang menyayanginya. Sementara Mayang semakin gelisah dan galau.


Agil yang sering datang membawa putranya ke rumah papanya, serta mengajak Yuna jalan-jalan, mau tidak mau membuat Mayang ikut bersama mereka.


Yuna yang hanya seorang anak kecil, pasti merasa sangat senang. Tetapi tidak pada Mayang, dia tahu bahwa keluarganya sedang berusaha mendekatkan dirinya dengan Agil.


❤️❤️❤️


Binjai, Sumatera Utara

__ADS_1


Saat ini Mayang sudah berada di Binjai. Dia pulang sendiri. Kemaren, dia minta izin pada kedua orang tuanya agar dia dan Yuna kembali ke Binjai, tetapi orang tuanya tidak mengizinkan.


Akhirnya Mayang ngotot berangkat sendiri saja, dan orang tuanya pun akhirnya mengizinkan. Mayang pun pamit pada anaknya dengan alasan ada keperluan yang harus dikerjakannya, Yuna akhirnya mengerti.


Mayang tidak mengabari pada Iman bahwa dia sudah berada di Binjai saat ini. Kepulangannya ke Binjai, memang punya maksud dan tujuan.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


SMA N*


Qonita dikabari oleh guru piket bahwa ada tamu yang mencarinya. Qonita pun menuju meja piket.


Deg


Tidak bisa dipungkiri, jantungnya berdetak lebih cepat. Ada apa istri siri dari suaminya itu menjumpainya ditempat kerjanya.


Sambil beristigfar dalam hati, Qonita mendekati Mayang.


"Maaf, Ibu ingin bertemu dengan Saya?" tanya Qonita formal sambil tersenyum ramah.


Keramahan guru pada orang tua siswa serta tamu yang datang memang ditekankan di sekolah tempat Qonita bekerja. Itu adalah salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk menarik simpati masyarakat terhadap sekolah mereka.


"Maaf jika Saya mengganggu. Ada yang ingin Saya bicarakan. Apa bisa kita berbicara berdua di luar?" tanya Mayang.


"Mohon maaf sebelumnya, tetapi saya masih ada jam mengajar. Tiga puluh menit lagi baru selesai," ujar Qonita.


"Tidak masalah. Saya bisa menunggu," ungkap Mayang.

__ADS_1


"Baik, kalau begitu Saya masuk dulu. Ibu bisa menunggu dibangku itu." Qonita menunjuk ke arah sebuah bangku panjang yang kosong.


"Trima kasih," seru Mayang.


Qonita mengangguk sambil tersenyum. Dia pun berjalan memasuki kelas tempat dia mengajar tadi.


"Anggun." Mayang berucap dalam hatinya memperhatikan Qonita pergi.


❤️❤️❤️


Setelah Qonita selesai mengajar, dia menemui Mayang kembali.


"Mau bicara dimana, Bu?" tanya Qonita.


"Saya gak tahu daerah sini. Ada saran cafe yang bisa buat kita enak ngobrol?" tanya Mayang.


"Di Rainbow Cafe aja, dari sini belok kiri, sekitar 100 meter udah sampai." Qonita menunjukkan arah pada Mayang.


"Oke. Bawa kendaraan?" tanya Mayang pada Qonita.


"Saya dijemput," imbuh Qonita.


Mayang terkejut mendengarnya. Siapa yang menjempunya, apakah Iman? Mayang bertanya dalam hatinya.


"Saya dijemput supir. Kita jumpa disana aja, ya," ucap Qonita. Mayang pun mengangguk.


Semenjak Qonita keluar dari rumah sakit, Qonita kerja di antar dan dijemput oleh supir. Iman tidak lagi mengizinkannya menaiki sepeda motornya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2