
"Gimana belajar nya di TK-B, Kak?" tanya Qonita pada Ichy yang sedang duduk dipangkuannya.
"Mewarnai Kakak dapat bintang 5 Bunda," jawab Ichy bangga karena mendapat nilai maksimal.
"Wah, hebatnya anak Bunda. Bintangnya udah banyak, donk?" tanya Qonita.
Ichy mengangguk-angguk. "Banyak, Bunda." Sambil melebarkan tangannya menggambarkan betapa sudah banyaknya bintang yang ia dapatkan.
"Yeeiii... keren, mantap." Qonita memeluk Ichy dipangkuannya sambil menggoyang- goyangkan badan Ichy ke kiri dan ke kanan. Ichy tertawa-tawa diperlakukan demikian.
Banyak hal keasyikan yang dilakukan Ichy dan Qonita berdua di bawah tatapan beberapa pasang mata. Rumah ini seolah hanya milik mereka berdua. Yang lain cuma numpang.
Padahal merekalah yang numpang karena rumah ini milik Gagah dan istrinya. Ah, entahlah...
"Ehem... Ichy sayang yang udah jadi kakak, main donk sama adek-adeknya. Masa' dibiarin aja," ucap Nana memutus dominasi Ichy pada Qonita.
"Oh iya... Kakak main dulu ya, Bunda," ucap Ichy pada Qonita.
"Iya, Sayang." Qonita memegang tangan Ichy membantu Ichy berdiri.
"Orang tua masih ada, Nak?" tanya Opa pras pada Qonita.
"Mama ada, Pak, kalau papa udah meninggal saat Saya dan abang masih kuliah," jawab Qonita.
"Abang Kamu, tinggal dimana? Dan Mama Kamu tinggal sama siapa?" tanya Opa Pras.
"Abg tinggal di Jl. *** . Gak pala jauh dari rumah saya, Pak. Mama tinggal sendirian," jawab Qonita.
"Lho, jadi mama Kamu tinggal sendirian?" Kali ini Oma Herni yang bertanya.
"Iya, Bu, mama lebih memilih tinggal sendirian, gak mau ikut sama Saya atau abang," jawab Qonita.
Oma Herni dan opa pras mengangguk mendengar jawaban Qonita.
"Kak, anak kakak ganteng-ganteng ya. Gimana caranya dapat anak laki-laki, Kak?" tanya Nana memutus pembicaraan Qonita dan orangtuanya.
Qonita tersenyum mendengarnya.
"Pengen anak laki-laki?" tanya Qonita singkat.
"Banget, Kak. Biar ada yang nerusin usaha papanya. Dari pihak Aku dan bang Gagah belum ada cucu laki-laki, Kak." Nana sedikit melengkungkan bibirnya ke bawah.
"Dulu kawan Kakak bilang kalau mau anak laki-laki, setelah campur posisi tidur miring hadap kanan," ucap Qonita.
"Perbanyak makan makanan yang bersifat basa, seperti daging, brokoli, bayam dan lain-lain agar kromosom Y nya dapat bertahan," sambung Qonita.
"Sama suaminya harus ..." Mendadak Qonita menghentikan ucapannya setelah sadar bukan hanya mereka berdua yang ada disana.
"Sama suaminya harus apa, Kak?" tanya Nana penasaran.
"Emm... sama suaminya harus berdoa bersama istrinya," ucap Qonita lega berharap jawaban itu bisa diterima.
"Ohh..." jawab Nana tanpa curiga sama sekali.
Namun tidak dengan Iman yang melihat guratan lain di wajah Qonita, seperti segan mengutarakannya.
"Papa sama mama ke dalam dulu. Maaf ya Qonita, saya tinggal, mengistirahatkan badan sejenak, maklum udah tua." Opa Pras pamit pada Qonita.
"Silahkan Pak, Bu," ucap Qonita.
__ADS_1
"Nana sama mas Gagah mau beres2 dulu ya, Kak." Nana langsung menarik tangan suaminya.
"Kami juga mau lihat anak-anak dulu." Ria disusul oleh Jamal dibelakangnya.
Tinggallah Qonita dengan Iman berdua disitu. Dalam jarak yang cukup jauh. Iman berdiri mendekat pada Qonita.
"Gak suka sama jamnya? Kenapa gak dipakai?" tanya Iman.
"Suka, cuma masih ada jam yang lama. Makanya pakai yang lama dulu," jawab Qonita canggung.
"Kalo mau ketemu sama yang kasih jamnya, dipakek, ya. Biar yang ngasihnya jadi seneng," ucap Iman.
Qonita hanya mengangguk.
"Lanjutan yang tadi apa? Cara dapatkan anak laki-laki?" tanya Iman sambil menatap tajam Qonita.
"Kan tadi udah," jawab Qonita datar.
"Bukan itu yang mau Kamu bilang tadi. Kasih tau Aku, sama suaminya harus apa?" tuntut Iman pada Qonita.
"Ya berdoa bersama," jawab Qonita sambil berpaling.
Iman tertawa. "Kita sama-sama udah dewasa. Kenapa harus malu." Iman mendesak Qonita.
Qonita terdiam. Tak mungkin ia meneruskan pembicaraan itu berdua dengan Iman pula.
Iman masih menatapnya, Qonita menghindari tatapan mata Iman.
"Masih gak mau jawab?" tanya Iman dengan suara berat.
Qonita hanya menggeleng tanpa melihat Iman.
"Sama suaminya harus bisa puasin istrinya. Harus bisa buat basah istrinya. Buat istrinya orga**e. Karna cairannya bersifat basa, dan kromosom Y mampu bertahan hidup di tempat yang basa," jawab Iman sangat pasti. "Seperti itu, kan?" tanya Iman.
"Kalau udah tau kenapa nanyak?" sungut Qonita.
"Mau dengar cikgu yang jelasin." Iman masih tak melepas tatapannya pada Qonita.
Qonita hanya melirik sebentar. Lalu berdecak.
"Sesulit itu membahasnya?" tanya Iman.
Qonita hanya diam dan menunduk.
"Qonita," ucap Iman.
"Ya," jawab Qonita.
"Ayo kita menikah," ujar Iman.
Deg
Deg
Deg
Lama mereka terdiam sambil saling menatap.
Qonita tak tau harus menjawab apa. Laki laki didekatnya ini memank berbeda hari ini. Penuh kelembutan, dan ...
__ADS_1
menghipnotis.
Ya sungguh membuat Qonita tak berdaya.
Ia tak tau harus berbuat dan berkata apa.
"Mau kan?" tanya Iman.
Qonita melihat ke arah Iman, tatapannya seolah bertanya apa?
"Menikah. Mau kan menikah dengan Aku?" tanya Iman ulang.
"Kenapa seperti ini," ucap Qonita.
"Kamu maunya seperti apa?" tanya Iman lembut tapi terdengar berat.
"Jangan begini," ucap Qonita.
"Jadi maunya bagaimana?" tanya Iman.
"Kenapa harus memaksakan diri?" tanya Qonita.
"Nggak ada yang memaksakan diri, tapi mungkin Aku akan sedikit memaksa Kamu, biar Kamu nurut sama Aku," jawab Iman.
"Ck." Qonita berdecak.
"Kamu memang harus sedikit dipaksa, kalau nggak akan terus terbelenggu oleh masa lalu. Kamu harus bisa keluar dan memulai lembaran baru. Jangan menutup diri. Jangan -." Ucapan Iman terhenti karena Qonita memotong perkataan Iman.
"Kamu juga seperti itu, kan? Udah 2 tahun lamanya. Kamu laki-laki. Bahkan jika Kamu menikah 1 bulan setelah istri Kamu meninggal, orang gak akan mencemooh," ungkap Qonita.
"Mereka bisa mengerti, karna kamu laki-laki. Berbeda dengan Aku. Aku perempuan. Baru bercerai 8 bulan, apa kata orang nanti?" ucap Qonita.
"Berapa lama masa iddah perempuan?" tanya Iman singkat penuh ketegasan.
Ya Qonita mengerti dengan sangat jelas maksud pertanyaan Iman. Masa iddahnya jelas sudah lama lewat, dia sudah bisa menikah bahkan jika saat ini.
"Kita juga hidup sebagai makhluk sosial. Kita gak bisa mengabaikan -." Kali ini ucapan Qonita yang terhenti karena Iman menyanggahnya.
"Kamu lebih ikutin yang mana? Aturan agama atau aturan sosial? Aturan agama membolehkan. Bahkan aturan sosial juga tidak melarang apapun." Iman menerangkan.
"Apa ada aturan sosial yang mengharuskan perempuan bercerai harus menunggu sekian tahun dulu baru bisa menikah lagi?" Iman berkata dengan sangat lancar.
"Aku ..." Qonita tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Masalahnya bukan di aturan manapun. Tapi pada diri Kamu. Hati Kamu yang menolak. Tapi pikiran Kamu tidak. Karena pikiran Kamu membenarkan apa yang Aku katakan," ujar Iman.
"Hati Kamu masih dipengaruhi oleh emosi Kamu. Rasa kecewa dan sakit hati Kamu," sambung Iman.
Pandangan mata mereka bertemu. Saling menyelami satu sama lain.
"Kamu nggak akan tenang seperti ini, Qonita. Berdamailah dengan diri sendiri." Menatap tajam Qonita yang kembali menunduk.
"Fikirkanlah, Qonita. Aku memberimu waktu untuk menerimaku jadi suamimu." Iman mengerling padanya.
"Haa?" Qonita terkejut mendengar kalimat terakhir Iman.
Memberi waktu hanya untuk menerimanya???
Kalimat macam apa itu?
__ADS_1