
..."*Air mata yang menetes untuk orang lain bukanlah pertanda kelemahan. Tetapi, itu adalah tanda hati yang murni."...
...- José N. Harris*....
Iman menoleh pada istrinya. Sejak kapan istrinya mengetahui kebohongannya selama ini.
"Qonita, Kamu tahu, Nak?" tanya opa Pras terkejut.
Qonita mengangguk. "Sakit, Pa. Qonita sakit mengetahuinya. Dunia Qonita terasa runtuh. Dua kali. Dua kali Qonita harus merasakan sakit yang sama dari laki-laki yang Qonita cinta."
"Kak..." Nana ikut bersimpuh, ia memeluk kakak iparnya itu.
"Sayang..." Oma Herni ikut memeluk menantu pilihannya itu. "Maafin Mama, Nak, mengenalkan Kamu pada anak Mama. Maaf membuat Kamu menderita sendirian."
Iman yang mendengar penuturan Qonita hanya berdiam diri. Setetes air matanya kembali jatuh. Ingin sekali memeluk istrinya itu dan memohon maaf padanya, namun dia tahu kesalahannya sangat besar.
"Tapi Qonita tahu, Pa. Abang gak bermaksud membohongi Qonita. Juga gak bermaksud menentang kata-kata Papa."
Deg
Ucapan Qonita sungguh menyayat hati Iman. Bagaimana mungkin istrinya ini memiliki hati seikhlas itu? Bukannya menumpahkan amarah dan rasa kecewanya tetapi dia malah membela orang yang telah membohonginya.
"Abang sayang sama Qonita. Abang juga sayang sama anak-anak. Anak-anak bahagia memiliki Abang, Pa. Qonita ikhlas."
__ADS_1
Deg
Iman akhirnya menyadari, pantas saja selama ini istrinya tidak menaruh curiga padanya tentang anting yang ditemukan Nabil di celananya. Juga malah membolehkan dia berpergian keluar kota, padahal di awal dia selalu berkeberatan.
"Gak bisa Nak. Mereka harus tetap berpisah. Kamu gak tahu bagaimana hubungan kami dan keluarga perempuan itu selama ini," ucap opa Pras membuang muka.
Secara tidak sengaja opa Pras melihat Jamal. Opa Pras mendekati Jamal.
"Selama ini Kamu tahu dan membantunya menutupi semua ini?" tanya opa Pras marah pada Jamal.
Jamal menangguk.
Plak
Ria menutup mulutnya. Merasa kasihan melihat suaminya.
"Jangan menyalahkan orang lain karena kesalahan anak kita, Pa," seru oma Herni segan karena Jamal harus menanggung resiko dari kesalahan putranya.
"Selama ini Aku begitu percaya padanya. Dan dia bukan orang lain bagiku. Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Hingga Aku memasukkan namanya di dalam daftar ahli warisku," ucap opa Pras penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Deg
Ada sesuatu yang bergemuruh di dada Jamal. Dia tahu keluarga ini memang sangat baik padanya. Dari awal kedekatannya dengan Iman, keluarga ini banyak membantunya.
__ADS_1
Tinggal tanpa orang tua, membuat Jamal kekurangan materi disana sini. Sementara kakek dan nenek yang membesarkannya hanya bekerja serabutan. Hanya semangat untuk terus merubah nasib yang membuatnya mampu sampai seperti ini. Dan keluarga opa Pras lah yang banyak membantunya.
Sejak masih kuliah hingga sekarang, Jamal mengabdikan diri dengan bekerja pada opa Pras.
"Pilih sekarang. Keluargamu atau perempuan itu?" Opa Pras bertanya lagi pada Iman, anaknya.
Iman tidak bersuara sama sekali. Dia sudah berjanji pada Mayang bahwa tidak akan menceraikannya.
"Keluar! Jangan pernah injakkan kakimu disini lagi," usir opa Pras karena Iman tidak memilih keluarganya.
"Pa," sanggah oma Herni dan Nana sambil terisak.
Wajah Qonita kembali basah. Air matanya mengalir dengan deras. Ia menoleh pada suaminya. Diam dengan pandangan kosong, dan raut wajah yang datar tetapi terlihat menyedihkan.
"Keluar!" teriak opa Pras.
"Jangan, Pa. Demi anak yang Qonita kandung, tolong jangan usir Abang."
Deg
Semua kembali terkejut dengan pernyataan Qonita.
Iman yang mendengarnya menatap wajah istrinya dalam. Ada kabut di mata suaminya.
__ADS_1