
Usia kehamilan Qonita sudah masuk 17 minggu. Qonita sudah dapat mengelola rasa khawatirnya. Dia berusaha selalu agar bahagia, agar kedua anak yang dikandungnya juga turut merasa bahagia.
Ichy sudah masuk di SD. Dia melanjutkan di SD tempat TK nya dulu. Fuad masuk TK B di tempat yang sama. Sementara Nabil masih di rumah saja, Qonita enggan terlalu cepat memasuki Nabil play group atau sejenisnya. Takut Nabil merasa bosan nantinya.
"Sayang, Aku udah ada yang 5 M. Aku mau transfer ke Mayang. Gak apa, kan?" ujar Iman pada istrinya.
"Gak apa, Bang. Alhamdulillah uangnya udah ada." Qonita tersenyum, dia merasa bersyukur, suaminya dapat memenuhi kewajibannya.
"InsyaAllah bulan depan Aku bisa kasih tabungan untuk anak-anak kita, Sayang." Iman merasa tidak adil jika tidak memberi juga pada Qonita. Walau Qonita tidak pernah menuntut apapun pada Iman, tetapi Iman merasa perlu memberi tabungan untuk ketiga anaknya yang lain serta calon anak kembarnya kelak.
"Gak apa, Bang. Uang yang Abang kasih masih ada. Gak usah dipaksakan," ujar Qonita.
"Iya, Sayang. Nanti kalau ada Aku kasih. Kalau belum ada Aku diam-diam aja, hahaha..." Iman tergelak. Sementara Qonita terkekeh kecil.
Iman sudah mengembalikan uang yang dia pinjam pada Gagah, Jamal dan Nana bulan lalu. Bulan ini dia dapat memberikan sisa yang 5 M lagi pada Mayang.
❤️❤️❤️
Keesokan harinya...
Iman mengirim pesan pada Mayang.
'Sisa yang 5 M udah Aku transfer, Yang.'
Tidak berapa lama HP Iman berbunyi, ada panggilan dari mantan istrinya itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Iman menerima telpon dari Mayang.
"Wa'alaikum salam, Im. Jum'at minggu depan Yuna ulang tahun. Kami berencana menginap di puncak, sekalian liburan. Kamu datang ya, Im. Yuna udah rindu banget sama Kamu," seru Mayang.
"Aku usahain buat ketemu sama Yuna. Tapi Aku gak janji untuk liburan bareng kalian," imbuh Iman.
"Kenapa? Bukannya udah 2 bulan Kamu gak ketemu Yuna. Apa Kamu udah mulai melupakan Yuna juga, Im? Bukan berarti karna Kamu udah penuhi yg 10 M, tanggung jawab Kamu lepas pada Yuna." Mayang terdengar kesal.
"Aku gak akan pernah melupakan Yuna, Yang. Hanya aja Aku gak bisa pergi lama-lama, Qonita lagi hamil."
Mayang terdengar tertawa. "Im... Im... Dulu waktu Aku hamil, Kamu bahkan gak menemani Aku. Sekarang untuk 3 hari aja, Kamu gak bisa meninggalkan dia?"
"Qonita hamil kembar, Yang. Aku gak bisa berlama-lama meninggalkannya."
"Bawa aja dia, kalau Kamu takut dia cemburu. Aku akan siapin 1 kamar untuk kalian. Hitung-hitung bulan madu. Kalian belum pernah bulan madu, kan?"
"Qonita kerja, Yang. Lagian naik pesawat gak baik untuknya."
"Udah berapa bulan kehamilannya?" tanya Mayang.
"17 minggu."
"Berarti aman donk, Im. Usia kehamilan 14 - 17 minggu aman melakukan penerbangan. Kalian bisa minta surat keterangan dari dokter."
"Nanti Aku fikirkan dulu, Yang."
"Oke, Aku tunggu kabar baiknya."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Im."
❤️❤️❤️
"Kenapa, Bro?" tanya Jamal saat melihat sahabatnya itu menghela nafas panjang.
"Jum'at depan Yuna ultah. Mereka akan rayakan di puncak sekalian liburan. Mayang minta Aku datang," imbuh Iman.
"Jadi Kamu mau ke Jakarta?" Jamal memperhatikan bos nya itu.
"Tadinya Aku mau jumpai Yuna sebentar aja, gak di puncak. Jadi Aku bisa sebentar aja ninggalin Qonita. Tapi Mayang nyuruh Aku buat bawa Qonita sekalian. Aku malah khawatir kalau Qonita sampai naik pesawat," ujar Iman.
"Kalau Kamu pergi sendiri juga bakal jadi masalah, Bro. Liburan bareng mantan istri dan anak Kamu, Qonita bisa berfikiran macam-macam. Ini masih syukur keluarga Qonita gak tahu masa lalu Kamu. Kalau sempat terjadi apa-apa sama Qonita dan Kamu malah bersama mantan istri Kamu, bisa dipecat Kamu jadi suami Qonita."
"Huft." Iman menghela nafas. "Gak datang Aku kasian sama Yuna. Rasanya gak adil banget, ultah Ichy bulan lalu bisa Aku rayakan. Mau datang tapi ribet banget." Iman mengeluh.
❤️❤️❤️
Qonita sedang berada di sekolah tempat dia mengajar. Jam istirahat dia sedang berada di ruang guru. Dia melihat HP nya. Ada 4 miss call dari nomor tidak dikenal. Qonita tidak mengetahui karena HP nya di silent saat jam mengajar.
Karena takut ada yang penting, Qonita mengirimkan pesan ke nomor tersebut.
'Maaf, ini siapa?'
Satu menit kemudian HP Qonita berbunyi. Ada telpon dari nomor yang tadi. Qonita pen menerima panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum."
Deg
Qonita kaget. Ada apa mantan istri suaminya itu menghubunginya.
"Apa kabar, Mba?"
"Aku sehat. Selamat ya, Kamu sudah mengandung anaknya Iman. Kembar lagi."
"Makasih, Mba." Qonita sebenarnya heran, dari mana Mayang mengetahui perihal kehamilannya.
"Jum'at depan Yuna ultah. Kami akan merayakannya di puncak. Aku minta Iman datang, tapi dia bilang gak bisa ninggalin Kamu. Yuna udah 2 bulan gak ketemu sama papinya. Apa Kamu melarang Iman untuk ketemu sama putrinya?"
"Maaf, Mba. Saya gak pernah melarang Abang untuk ketemu sama Yuna."
"Bagus kalau gitu. Tolong Kamu pastikan agar Iman bisa datang. Kamu juga boleh ikut. Aku siapin kamar 1 untuk kalian bulan madu. Hitung-hitung Aku berbuat baik pada orang yang udah merebut suamiku."
Qonita menghela nafas mendengar ucapan Mayang. "Nanti Saya bicarakan dengan Abang, Mba."
"Oke."
Tuut...
Mayang mematikan panggilannya tanpa mengucap salam.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Malam hari di kamar mereka, Iman sedang melakukan pekerjaan rutinnya, apalagi kalau bukan mengelus perut Qonita. Qonita memang paling senang jika suaminya mengusap perutnya, ada perasaan tenang dan nyaman yang dia rasakan.
"Bang," panggil Qonita.
"Ya, Sayang." Iman menoleh pada istrinya.
" Yuna minggu depan ulang tahun?"
Deg
Iman terkejut. Dari mana Qonita mengetahuinya.
"Iya, Sayang. Kamu tahu dari mana?"
"Mba Mayang nelpon Qonita."
"Ha?" Iman semakin kaget. Untuk apa Mayang menghubungi Qonita. Dan dari mana dia tahu nomor HP Qonita.
"Mba Mayang meminta Abang datang."
"Iya, Sayang. Tapi Aku berat ninggalin Kamu."
"Kalau Qonita ikut?" tanya Qonita pada suaminya.
"Ha? Kamu mau ikut, Sayang? Dengan kondisi Kamu lagi hamil begini?"
"Kita tanyakan dulu ke dokternya, Bang. Kalau gak ada masalah, Qonita ikut."
"Bukannya baru minggu lalu kita kontrol, Sayang?" Iman khawatir apa tidak menjadi masalah jika baru minggu lalu Qonita USG dan akan USG lagi.
"Gak apa, Bang. Kita cuma tanyak aja, boleh gak Qonita naik pesawat. Sama minta surat keterangan dari dokternya."
"Kerjaan Kamu gimana, Sayang?"
"Tadi Qonita udah cari pengganti, Bang. Trus Qonita coba izin ke Wakasek, dan Alhamdulillah dikasih izin, Bang."
"Mayang bilang apa ke Kamu, Sayang?" tanya Iman penasaran, dia khawatir Mayang mengatakan sesuatu yang menyakiti hati Qonita.
"Cuma bilang kalau kita diundang ke ultahnya Yuna yang akan diadain di puncak. Dan Mba Mayang nyiapin 1 kamar untuk kita."
"Cuma itu? Omongannya ada yang nyakitin hati Kamu?"
"Nggak ada, Bang," imbuh Qonita.
"Baguslah. Sayang, nanti disana itu gak bagus untuk Kamu. Disana yang ada keluarganya semua. Aku takut mereka gak bersikap baik ke Kamu karna Aku udah nyakitin hati Mayang. Aku pergi sendiri aja, ya. Aku janji akan pulang cepat."
"Qonita malah khawatir kalau Abang pergi sendiri."
"Kamu cemburu, Sayang?"
"Bukan masalah cemburunya, Bang. Tapi masalahnya adalah Abang dan Mba Mayang itu udah bukan suami istri lagi. Gak baik jika Abang yang udah gak ada hubungan dengan Mba Mayang pergi bersama. Tugas Qonita mendampingi Abang untuk menghindari adanya fitnah."
__ADS_1
Iman terdetak. Dia membenarkan apa yang dikatakan istrinya. Mungkin Qonita bisa mempercayainya. Tapi apa orang lain juga akan bisa mempercayainya.
❤️❤️❤️