PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 42 Ke Rumah Oma


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, sepulang Ichy TK, mereka berlima langsung menuju ke rumah oma Herni.


Qonita meminta singgah sebentar untuk membeli buah dan kue.


Sesampainya di rumah oma Herni, ternyata ada oma dan opa pras di ruang tamu. Sepertinya baru kedatangan tamu, ada beberapa gelas disana.


"Assalamu'alaikum." Terdengar ucapan serempak dari mereka yang baru saja datang.


"Wa'alaikum salam," jawab opa Pras dan oma Herni.


"Alhamdulillah, cucu-cucu Oma datang." Oma Herni menyambut kedangan mereka.


Qonita dan Iman meletakkan bawaan di tangan kanan dan kiri mereka di meja terlebih dahulu, baru menyalam oma Herni dan opa Pras.


"Apa kabar, Sayang?" tanya oma Herni pada Qonita, setelah mereka bersalaman dan berpelukan.


"Alhamdulillah, sehat Ma. Mama dan Papa sehat?" Qonita memang sudah memanggil oma Herni dan opa Pras, dengan panggilan yang sama seperti Iman memanggil mereka. Oma Herni yang meminta ketika ia dibawa ke rumah Iman setelah resepsi mereka.


"Alhamdulillah, kami juga sehat. Kog gak bilang-bilang kalau mau datang, Mama gak ada persiapan ini. Mana sebentar lagi jam makan siang," ujar oma Herni.


"Gapapa Ma, kami bawa beberapa makanan kog. Bibik yang masak." Qonita menyeringis malu.


"Alhamdulillah, yok kita bawa ke dapur." Oma Herni dan Qonita membawa makanan dan kue yang mereka bawa tadi ke dapur.


Oma Herni meminta ART nya untuk mempersiapkan makanan di meja makan. Sementara Qonita menyusun kue.


"Gimana Sayang, Iman baik ke Kamu dan cucu Mama, kan?" tanya oma Herni memastikan bagaimana sikap anaknya pada Qonita dan anak-anaknya.


"Alhamdulillah, abang sangat baik, Ma." Senyum cerah terlukis di wajah Qonita. Mengisyaratkan bagaimana indahnya Iman memperlakukan mereka.


"Syukurlah, Sayang." Oma Herni terlihat bernafas lega.


Walau ia tahu jika Iman terlihat menyukai Qonita, hanya saja Oma Herni takut, perlakuan Iman akan sama seperti pada mantan mantunya dulu. Kepergian Jihan, membuat rasa penyesalan pada oma Herni, karena anak pertamanya itu tidak berperan sebagai suami yang baik.


"Kalian udah..." Oma Herni sengaja memangkas kalimatnya, untuk menggoda Qonita.


Qonita sedikit terkejut. Namun ia mengetahui maksud dari mama mertuanya itu. Wajahnya terlihat merona, ia menunduk menahan malu.


"Udah berarti ya, wajah anak Mama udah merah gini." Oma Herni tersenyum geli melihat Qonita yang tampak malu-malu.

__ADS_1


"Udah, Ma." Qonita mengangguk.


"Iman gak ganas mainnya kan, Sayang?"


"Ha?" Spontan saja Qonita terkejut. Kalimat vulgar Iman selama ini mungkin turunan dari mamanya.


"Dia gak nyakitin Kamu, kan?"


Qonita menggeleng. "Nggak, Ma." Entah sudah semerah apa wajahnya.


"Mama cuma takut dia hilang kendali, soalnya burungnya udah lama gak masuk sangkar," oma Herni berucap santai sambil mengerling pada Qonita.


Qonita yang mendengar omongan absurd mama mertuanya itu, gak tau harus berkata apa. Hanya mampu senyum terpaksa, lalu diam membisu.


"Yuk, kedepan, Sayang," ajak oma Herni. Oma Herni membawa kue, sedangkan Qonita membawa minuman ke ruang tamu, tempat keluarganya berkumpul.


❤️❤️❤️


Sementara ketika istri dan mantunya beranjak ke dapur, opa pras menginterogasi putranya.


"Gimana rasanya, Man?" sebuah kalimat yang mampu membuat Iman tergelak.


Papanya menanyakan 'rasa'. Seperti membeli susu saja. Ada rasa coklat, vanila, strawberi, madu dan lain-lain. Tapi entah kenapa Iman malah teringat pada susu cap bunda, bukan cap nona, ya. Ini merk lain, cap bunda Qonita, hak milik nya sudah dipatenkan, hanya dipasarkan padanya seorang.


"Merasa rugi, terlalu terlambat?" ejek opa Pras.


"Gak juga, Pa. Mungkin Allah kasih Aku sekarang, karena memang ini waktu terbaik untuk kami bersama."


"Kamu siapa? Ngomongnya kayak bukan anak Papa," sindir opa Pras karena tidak biasa Iman berbicara 'layak' seperti itu.


"Hahaha..." Iman terkekeh geli mendengar ucapan Papanya.


"Suaminya Qonita Yasmin Siregar, donk." Iman mengerling pada Qonita yang sedang berjalan dibelakang mamanya, mendekati mereka.


Qonita mengernyit mendengar nama lengkapnya disebut oleh sang suami tercinta.


"Seru banget, bahas apa?" tanya oma Herni.


"Biasa Ma, obrolan ringan. Tapi dibalas berat sama anak Mama. Papa sampe takjub, kayaknya Iman udah jadi suami Sholeh, ngalah-ngalahin Papa. Kamu ceramahin berapa SKS, Qonita?"

__ADS_1


"Hahaha..." Iman kembali tergelak. Sementara oma Herni dan Qonita hanya tersenyum.


Iman menarik tangan istrinya agar duduk disampingnya di kursi panjang, setelah menyediakan kue dan minuman untuk mereka. Sementara oma Herni duduk di kursi terpisah, di samping opa Pras.


"Kan sama-sama belajar memperbaiki diri, ya Sayang, ya." Iman menatap ke arah Qonita. "Biar jadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah." Iman malah makin menggenggam erat tangan istrinya.


"Aamiin," ucap Qonita, oma Herni dan opa Pras bersamaan.


"Mama senang kalian akur dan bahagia gini, anak-anak juga kompak banget kayaknya." Oma Herni melihat ke arah cucu-cunya yang ceria, terlihat asyik bermain bersama.


"Cucu-cucu Oma, sini Sayang. Minum dulu." Oma Herni memanggil Ichy, Fuad dan Nabil.


"Sini, duduk sama Opa." Opa Pras memangku Fuad.


"Belum TK, kan? Nginap sini sama Opa. Nanti Opa ajak jalan-jalan," ucap opa Pras pada Fuad.


"Belum, Opa. Kata Bunda tahun depan Abang masuk TK." Opa Pras mengangguk mendengarkan penuturan Fuad. "Jalan-jalan kemana, Opa?" tanya Fuad.


"Banyak, nanti kita keliling. Fuad mau kemana, nanti Opa temanin. Sama Opa mau bawa kamu keliling ketemu kawan-kawan Opa. Pamer cucu, Hahaha." Opa Pras terkekeh sendiri.


Opa Pras memang sudah lama iri melihat teman-temannya. Teman-temannya itu kerap membawa cucu laki-laki mereka untuk dibangga-banggakan.


"Sekali-kali Kamu bawa juga ke kantor, Man. Biar anak-anak mengenal lingkungan kerja Kamu. Lama-lama nanti akan nampak, mereka ada minat apa gak nerusin usaha Kamu."


"Opa juga dulu gitu ke Papi kalian, suka bawa ke kantor," sahut oma Herni.


"Iya, nanti sekali-kali Aku bawa mereka. Kamu juga ya, Sayang," ujar Iman pada istrinya.


"Iya, Bang." Qonita tersenyum.


"Lebih baik gak usah Qonita, cukup anak-anak aja," ucap oma Herni.


Qonita mengernyit, bingung kenapa oma Herni melarangnya pergi.


"Nanti yang ada, Kamu yang kerja. Bukan suami Kamu." Oma Herni mencebik pada opa Pras.


"Hahaha... Sekalian Ma, ganti suasana lah. Hahaha..." Terdengar opa Pras tertawa terkekeh.


Qonita yang bingung menatap ke arah suaminya. Iman menyeringai.

__ADS_1


"Nanti Aku kasih tahu jawabannya secara langsung, Sayang. Pas Kamu ikut Aku ke kantor," bisik Iman pada istrinya. Iman mengedipkan matanya pada istrinya.


Sementara Qonita, masih terus menebak-nebak apa maksud dari ucapan mertua dan suaminya. Kenapa sepertinya mencurigakan sekali. Hem...


__ADS_2