
Hari demi hari terlewati sudah. Seperti biasa, Qonita selalu menanyakan aktivitas anak-anaknya.
"Kakak, Fuad dan Nabil, nanti Bunda cari guru ngaji mau, gak?" tanya Qonita pada anak-anaknya.
"Mau, Bunda," ucap Fuad dan Nabil.
"Kan belajar ngajinya sama Kak Vivi, Bunda," ucap Ichy. Karena selama beberapa hari ini, Vivi mengajari mereka banyak hal. Mulai dari belajar menulis, belajar menghafal surah pendek, serta belajar mengaji.
Pekerjaan Vivi di rumah ini hanya mengurus anak-anak. Hal ini, dimanfaatkan oleh Vivi untuk mengajari ketiga anak itu.
"Iya, Sayang. Tapi nanti lebih fokus lagi, Nak. Biar Kakak, Fuad dan Nabil bisa jadi hafidz dan hafidzah. Aamiin." Qonita menyapu kedua tangannya pada wajahnya.
"Aamiin," sahut Vivi dan anak-anak.
❤️❤️❤️
Di kantor Iman
"Gimana jadwal hari ini?" tanya Iman pada asisten pribadinya, Jamal.
"Jam 9 kita ada meeting dengan Perusahaan Suksesional. Setelahnya lanjut ke Perusahaan Citra Mandiri."
Iman mengangguk.
❤️❤️❤️
Binjai, Sumatera Utara
Mayang dan Yuna baru saja sampai di rumahnya. Setiap hari Mayang lah yang mengantar dan menjemput Yuna TK.
"Assalamu'alaikum." Terdengar salam dari luar rumah. Suara yang sangat mereka rindukan.
"Papi." Yuna berteriak kesenangan sambil berlari kedepan menuju papinya. Iman menggendong Yuna. Mereka berpelukan dengan erat.
__ADS_1
Tak lama Mayang juga sudah berdiri dihadapan Iman, Iman memeluk dan mencium kening Mayang, masih dengan menggendong Yuna.
"Jawab salamnya dulu, Sayang." Iman menasehati putrinya yang belum menjawab salam darinya.
"Apa pi?" tanya Yuna bingung. Iman menggendong Yuna masuk ke dalam ruang keluarga dan duduk disana.
"Kalau Papi bilang 'Assalamu'alaikum', maka jawabannya apa, Sayang?" tanya Iman pada putri mungilnya itu.
"Wa'alaikum salam, Pi," jawab Yuna.
"Nah, tuh kan pinter." Iman mengusap rambut Yuna.
"Biasa Papi ngajarin pakai Bahasa Inggris." Yuna protes karena selama ini Iman tak pernah mengucap salam seperti tadi.
"Mulai sekarang ucap salam dulu, Sayang. Biar disayang Allah."
Mayang tertegun mendengar perkataan suaminya. Baru 2 minggu lebih suaminya menikah, ia sudah dikejutkan oleh beberapa hal.
Mayang sedari tadi hanya memperhatikan saja. Jika Iman pulang ia memang membiarkan anak semata wayangnya itu menguasai suaminya. Karena Yuna memang sering menanyakan kapan papinya akan pulang.
"Papi nginap berapa hari disini?" tanya Yuna pada Iman.
"Maaf, Sayang. Papi gak nginap. Papi ada kerjaan di Medan. Besok-besok kalau kerjaan Papi udah selesai, Papi pulang lagi."
"Kog Papi sibuk terus, sih. Kalau di Medan berarti bisa video call ya, Pi?"
"Gak bisa, Sayang. Kalau udah kerja Papi gak bisa pegang HP, Sayang. Hari ini kita main sepuasnya, oke. Papi bawa banyak bawa mainan, lho." Iman merayu anaknya yang sedang merajuk.
"Bro," teriak Iman.
"Oi," sahut Jamal.
Iman datang berdua bersama Jamal. Jamal juga bebas dirumah itu. Hanya saja Jamal lebih suka mengasingkan diri disana. Entah dia bercerita di luar bersama Mang Didi. Atau di dapur bersama Bik Yati dan Mai.
__ADS_1
Seperti sekarang ini, dia lebih memilih membaringkan tubuhnya di kursi panjang ruang tamu.
Jamal ke ruang keluarga sambil membawa kantung plastik berisi mainan. Jamal menyerahkannya pada Iman.
"Ini, Sayang. Buka donk, Papi temani main, ya." Iman menyerahkan mainannya pada Yuna.
Yuna membuka mainan tersebut. Yuna bermain ditemani Papi dan Maminya.
Setelah itu mereka makan siang bersama. Jamal ikut makan bersama. Selesai makan, mereka kembali ke ruang keluarga. Yuna kembali bermain disana.
"Tidur siang dulu, Sayang," ucap Mayang pada Yuna, setelah 1 jam bermain.
"Gak mau, Yuna mau main sama Papi," jawab Yuna merengut.
"Ya udah, tapi malam nanti tidurnya lebih cepat, ya." Mayang mengingatkan Yuna.
"Iya, Mi," jawab Yuna.
"Main sama Om Jamal dulu ya, Sayang. Papi ke kamar sebentar."
"Iya, Pi."
"Bro," panggil Iman pada Jamal. Jamal mengangguk.
Jamal mengerti harus bisa mengalihkan perhatian Yuna. Jangan sampai Yuna menyusul Papi dan Maminya ke kamar.
Bisa gawat kalau Yuna menyusul di waktu yang tidak tepat. Walau gajinya tidak akan mungkin dipotong, tetapi tatapan mematikan dari bosnya itu lebih kejam dari buah simalakama.
Iman menuju ke kamarnya, diikuti oleh Mayang. Mayang mengunci pintu kamarnya.
"Aku sangat merindukanmu, Im," ucap Mayang menyambar bibir Iman.
Iman membalas c!uman istri sirinya itu. Membiarkan Mayang meluapkan rasa rindunya.
__ADS_1
Lama mereka berc!uman, Mayang mulai memegang kancing kemeja Iman. Iman menahan tangan Mayang kala hendak membuka kancing paling atas itu.
"Maaf, Yang. Gak sempat. Aku harus pulang. Lain waktu, oke." Iman mengusap lembut wajah Mayang. Lalu memberikan sebuah c!uman.