PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 15 Reuni


__ADS_3

Hari ini Qonita menghadiri reunian di salah satu restoran yang tempatnya agak jauh dari rumahnya. Dia memilih naik ojek online karena tak terlalu hapal jalan di daerah tersebut.


Reunian ini dengan teman kuliahnya dulu, lebih tepatnya sama-sama ikut dalam satu organisasi kampus, sehingga yang hadir dari angkatan berbeda namun masih tahun yang berdekatan.


Sekitar 24 orang hadir di acara tersebut. Riuh canda tawa terdengar disana. Saling menggoda dan mengejek satu sama lain. Mengingat kenakalan dan kelucuan tingkah di masa lalu.


Namun tak ada yang sakit hati. Saling memahami bahwa ini hanya ajang candaan saja.


"Nabila apa lagi, apa perlu dicariin?" ucap Fadil.


"Apa belum bisa move on dari Amir?" imbuhnya lagi.


"Sibuk banget seh Bang, ngurusin Bila, Abang tuh perlu terapi udah 2 tahun nikah belum ada hasil juga," ejek Bila.


"Betul tuh Dil, sini Gue ajarin. Gak tokcer banget," sambung Rio ikut mengejek Fadil.


"Santai, Bro. Kami nikmatin pacaran, biar puas berduaan dulu," ucap Fadil.


"Hallah, ngeles kayak bajai," celetuk Dina.


"Kamu juga Din, nunggu apa lagi? Kapan merit sama Toni? Udah gak sabar neh makan rendang," ucap Rio kembali.


"Yee... gimana mau merit, kuliahnya belum selesai. Kemaren pas kerja katanya mau ngumpulin uang dulu. Sekarang malah nyambung kuliah di luar," jawab Dina.


"Cari yang pasti aja Din, waktu kamu terlalu berhaga buat nunggu yang gak pasti." Kali ini Didi yang berbicara.


"Masa' iya putus udah 6 tahun juga.," ucap Dina.


"Kamu gimana, Qonita? Gak niat nikah lagi?" tanya Arya.


"Weeesss... Ini pertanyaan titipan apa gimana, Bro?" Melirik Riyan yang duduk di sebelah kanan Arya.


“Masih ada kak Qonita didalam situ, Bang Riyan?" Goda Putri pada Riyan dengan menunjuk dada Riyan.


Riyan memang menyukai Qonita. Semua tahu. Tapi tak pernah ia menyatakan cintanya pada Qonita. Dan saat ini ia masih berstatus lajang.


"Ya gak lah Dek, kak Qonita kan ada disitu." Tunjuknya pada posisi Qonita. "Masa iya Abang kantongi," ujarnya lagi.


"Uuhuk uhuk uhuk," goda Tia.


"Priwiwiit..." goda Akmal.


Qonita hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Ngomong donk Qonita, apa kek jangan senyum doank. Nanti ada yang kesemsem baru tau," ucap Yuli.


Ketika Qonita hendak mengucapkan sesuatau ada yang memanggil namanya.


"Qonita," ucap seorang laki-laki tak berapa jauh dari meja mereka.


Semua menoleh pada asal suara itu. Qonita terkejut. Sejak kapan ada Iman disini.


"Belum selesai reuniannya, Sayang?" ucap Iman setelah posisinya hanya berjarak 1 langkah dari tempat duduk Qonita.


Ya, Iman mengetahui kalau ini adalah acara reuni. Karna sejak melihat Qonita ada di tempat yang sama dengannya, Iman mengirim pesan dan sudah dibalas oleh Qonita.


Banyak yang terkejut atas panggilan sayang yang mereka dengar termasuk Qonita.


Bagaimana mungkin laki-laki ini memanggilnya demikian didepan banyak orang.


"Boleh gabung?" Iman bertanya sambil memandang ke arah teman-teman Qonita.


"Silahkan, Bang."


"Boleh, Bang."


Serentak teman-teman Qonita menjawab.


"Duduk sini aja, Bang," ucap Mila sambil berdiri. Pindah dari posisinya yang tadi duduk di sebelah kanan Qonita.


"Pak Sulaiman?" ucap Ozy yang duduk di ujung. Sulaiman menoleh.


"Maaf, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya," ungkap Iman.


“Benar Pak, 3 minggu yang lalu Saya mendampingi Papi saya, mengunjungi kantor Bapak. Nama saya Ozy," ucap Ozy.


Imam mengangguk. "Panggil Iman aja. Ini diluar urusan kantor," ucap Iman dan memberikan senyuman kecil.


"Panggil abang aja ya, Bang. Soalnya saya 3 tahun di bawah kak Qonita, " ungkap Ozy. Imam mengangguk.


"Abang gantengnya gak dikenalin, Kak? Mana tau mendadak kecantol ama Dina, bakalan Dina lepas tuh si Toni," ucap Dina bercanda pada Qonita.


Qonita melirik Iman. Ketika hendak bersuara, lagi-lagi Iman lebih dahulu bersuara.


"Perkenalkan, nama Saya Sulaiman, panggil Iman aja," ucap Iman.


"Status. Celetuk 2 orang perempuan yang hadir disitu bersamaan."


Iman tersenyum. "Saya duda dengan 1 orang anak perempuan berusia 6 tahun."


"Cerai atau -?" Celetuk salah satu perempuan.


Dan dipotong oleh Fadil. "Huuussst!" Fadil menggeleng khawatir pertanyaan tersebut menyinggung Iman.


"Gapapa, tanyakan aja apa yang mau ditanyak. Saya juga senang bisa kenal sama teman-teman Qonita." Melirik Qonita. "Istri saya meninggal 2 tahun yang lalu."


"Tahan ya Bang, 2 tahun belom nikah," goda Tia.


"Haahhha..." Iman tertawa mendengarnya.


"Eh, ketemu kak Qonita kapan, Bang?" tanya Putri.


"Sekitar 3 minggu yang lalu," jawab Iman.


"Haa?"

__ADS_1


"Apa?"


"Lho!"


Kalimat itu terlontar bersamaan, yang tentu saja berasal dari para perempuan.


"Jadi hubungan sama Qonita udah sampai mana neh?" Rio berani bertanya karna rasa penasaran menimpanya, sejak Iman mengatakan bahwa mereka baru bertemu 3 minggu yang lalu.


Sementara laki-laki bernama Sulaiman ini, sudah memanggil sayang pada Qonita, teman seangkatannya.


Sebelum berucap Iman melirik Qonita. Qonita pun mengarahkan pandangannya pada Iman. Tatapan mereka bertemu.


Iman tersenyum manis kala mata mereka bersitatap, sementara Qonita memasang ekspresi datar. Seolah ingin mengucapkan sesuatu pada Iman.


Sambil tersenyum Iman berucap. "InsyaAllah, jika Allah meridhoi kami akan segera melangsungkan pernikahan," jawabnya lembut tapi pasti.


"Aamiin."


"Alhamdulillah."


"Cieeee..."


"Yeaaaayyy..."


Terdengar riuh tanggapan dari teman-teman Qonita setelah mendengar pernyataaan Iman.


"Wah, banyak yang patah hati neh," ucap Yuli.


"Iya..."


"Ho oh..."


"Betul."


Celetukan dari para perempuan.


"Kak Qonita, calon nya Kakak punya kembaran atau adek yang masih single gak, Kak? Mau donk satu," ucap Putri manja.


"Gak ada Dek, bang Iman cuma punya 1 adek perempuan."


"Weessssss..."


"Ehm..."


"Tes... tes..."


Kali ini terdengar kicauan dari para lelaki.


"Cantik lho," ucap Qonita tersenyum.


"Wuihh..."


"Keren..."


"Aku suka, Aku suka..."


Masih riuhan dari para lelaki.


"Tapi... udah nikah dan punya anak dua. Hahaha.." Qonita terkekeh geli.


"Yah..."


"Kirain..."


"Huffft..."


Keluhan para lelaki, merasa kecewa.


"Rasain, ucap Nabila mengejek.


Iman mendekat pada Qonita lalu berbisik, "Udah mulai nakal, ya. Jangan sering-sering. Nakalnya sama Aku aja." Mengedipkan sebelah matanya pada Qonita dengan senyuman yang sangat lebar.


"Bos," ucap Jamal mendekat pada Iman.


"Bang Jamal." Qonita kaget. "Udah lama?" tanya Qonita.


Jamal melirik pada Iman.


"Nungguin dari tadi, Bang?" tanya Qonita lalu melirik pada Iman.


"Nggak, kog. Tadi kebetulan kami ada rapat disitu." Jamal menunjuk ruangan yang agak tertutup.


"Abang, kog gak ikut. Malah disini?" tanya Qonita pada Iman.


"Udah selesai. Makanya bisa kesini. Jamal lagi makan tadi," ucap Iman.


"Abang, belum makan siang?" cecar Qonita pada Iman.


"Udah, Sayang," jawab Iman.


"Bener udah, Bang?" Qonita malah bertanya pada Jamal untuk memastikan.


"Astagfirullah Sayang, Kamu lebih percaya sama dia?" Iman berpura-pura kecewa.


"Ck." Qonita menoleh pada Jamal menunggu jawaban.


"Kami udah maksi dari jam 12 Qonita. Habis itu rapat. Siap rapat laper lagi. Maklum energi cukup terkuras. Hehehe..." ucap Jamal.


"Ohh..." jawab Qonita.


"Bos -" ucap Jamal menoleh pada Iman. Tapi tak melanjutkan perkataannya.


Iman mengerti maksud asprinya itu. "Pulang sekarang?" tanya Iman pada Qonita.


"Luan aja, Bang," jawab Qonita.

__ADS_1


Iman menggeleng. "Kami antar."


Qonita terdiam.


"Kenapa, Kamu bawa sepeda motor?" tanya Iman.


Qonita menggeleng. "Tadi naik ojol."


"Haa?" Iman mendesah. "Masih lama, ya?" tanya Iman pada teman-teman Qonita.


"Nggak juga kog, Man. Ini juga udah pada mau balik kog. Luan aja Qonita. Gapapa kog," ujar Riyan.


"Temen-temen, luan ya. Assalamualaikum," ucap Qonita.


"Waalaikum salam. Hati-hati," jawab teman-teman Qonita.


"Ayo semuanya." Iman mengangguk permisi pada teman-teman Qonita.


Setelah kepergian Iman, Qonita dan Jamal. Banyak yang bertanya perihal Iman pada Ozy.


"Siapa Iman itu, Zy?"


“Pimpinan Perusahaan XXX. Terlahir dari keluarga terpandang. Aku dengar banyak yang menyodorkan anak gadis mereka untuk dijadikan istrinya," jawab Ozy.


"Namun dari sekian banyak gadis yang direkomendasikan tak satu pun yang dia lirik. Padahal istrinya udah meninggal cukup lama," sambung Ozy.


"Widih, keren."


"Bukan dia yang keren, tapi Qonita. Buktinya Qonita mampu ngalahin gadis-gadis itu."


"Iya bener, mimpi apa ya Qonita ketiban duren gitu."


"Qonita manis, pintar, baik. Tapi setau Aku keluarga Qonita gada yang sehebat Iman itu. Kenal dimana ya, mereka?"


"Kalau udah jodoh pasti ada aja jalannya. Qonita pantas kog dapat pendamping hebat seperti dia," ucap Riyan.


"Cuit cuit cuit.. Yang cintanya gak kesampaian," ucap Fadil.


"Gimana mau sampe, gerak aja nggak. Cuma mencintai dalam diam doank. Begh!" sindir Yuli.


Riyan hanya tersenyum kecut.


❤️❤️❤️


Jamal duduk di kursi supir. Iman membukakan pintu untuk Qonita lalu menyuruh Qonita menggeser duduknya.


"Lho, Abang gak duduk didepan?" Menunjuk kursi posisi di samping Jamal.


"Nggak donk, Sayang. Aku tuh mau disamping Kamu. Beriringan sama Kamu, gak di depan apalagi di belakang Kamu. Pasangan itu posisinya ada disamping, Sayang." Iman mengerling pada Qonita.


"Bang..." ucap Qonita.


"Ya , Sayang."


"Jangan panggil sayang."


"Kenapa?"


"Gak bener."


"Sapa bilang? Bener kog Aku sayang Kamu!"


Qonita mengela nafas. "Tapi gak boleh panggil seperti itu."


"Jamal, panggil orang yang kita sayang dengan kata sayang, gak dilarang, kan?" tanya Iman pada Jamal.


"Gak dilarang Bos, belum ada undang-undangnya." Jamal mengerti dia harus membela bosnya.


"Tuh kan, udah biasa kali panggilan gitu." Iman menggoda Qonita.


"Biasakan yang benar, Bang. Jangan membenarkan yang biasa." Iman menyeringai mendengar kalimat Qonita.


"Salahnya dimana, Sayang?"


"Kita gada hubungan..." Qonita mendadak tak melanjutkan ucapannya.


“Hubungan apa, Sayang?" tanya Iman. Qonita diam menunduk.


"Jamal, kita ke kantor KUA, sekarang!" ucap Iman.


"Haa?" Jamal terkejut.


"Bang," seru Qonita.


"Lho, kan biar dibuat bener, Sayang. Harus ada hubungankan, tadi kamu bilang. Makanya kita legalkan, Sayang."


"Hufft!" Qonita menghela nafas panjang. "Trus tadi kenapa Abang bilang kita akan segera nikah?" tanya Qonita sebal.


"Kan bener Sayang, menikah itu kan hal yang dianjurkan untuk disegerakan."


"Tapi gak ngaku-ngaku juga, Bang."


“Bukan ngaku Sayang, cuma mengucapkan yang baik-baik. Ucapan itu kan termasuk doa, Sayang."


Qonita menyerah berdebat dengan laki-laki yang ada disampingnya itu. Ia akhirnya memilih memalingkan pandangannya ke arah jendela.


Iman tersenyum menyeringai, gemas melihat Qonita.


Sesampai di depan rumah. "Singgah, Bang?" ucap Qonita.


Iman tersenyum lalu menggeleng. "Maaf Sayang, masih ada yang harus dikerjakan. Salam sama anak-anak."


"Kenapa tadi ngantar kalau masih ada urusan?" tanya Qonita menyesal.


"Gapapa, Sayang. Aku gak rela kalau salah satu temen kamu nanti yang bakal antar Kamu. Ingat jangan pernah mau diantar yang lain."

__ADS_1


Qonita menggeleng mendengarnya. "Makasi Bang, Bang Jamal. Hati-hati. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," seru Iman dan Jamal.


__ADS_2