PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 79 Bersama Siapa?


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Jamal POV


"Halo," ucapku saat menerima panggilan dari sahabat sekaligus bosku itu.


"Qonita sakit. Aku gak ke kantor sampai dia sembuh."


Cih. Dengan semena-mena dia mengabariku. Eh, tetapi Qonita sakit apa? Kenapa mendadak sekali.


"Kog bisa sakit?"


"Ck. Ya bisalah. Demam. Dia rindu Aku sampe demam gitu. Jadi ya harus kukelonin. Kan obatnya Aku."


"Cih. Kalau obatnya Elo harusnya dia udah sembuh sekarang. Kan udah dari semalam Lo ngelonin dia."


"Nikmatin proses nya lah. Kalau cepat-cepat mana enak, ga terasa."


"Jadi gimana keadaannya sekarang? Kapan Lo bisa kemari. Banyak yang harus Lo tanda tangani woiy."


Sengaja Aku berteriak, enak aja dia tinggal main perintah. Ya walau dia bosnya tapi seenggaknya dia tau keribetan Gue. Gimana gak ribet coba, selain ngurusin masalah kerjaan, Gue juga ngurusin masalah rumah tangganya.


Yang punya binik dua dia, yang pakek istrinya dia, eh yang pegang dan nerima telfon dari biniknya, Gue. Asem di Gue, kan?


"Dia masih demam, badannya lemas. Kirim orang aja kesini." Bos udah ambil keputusan.


"Oke. Tapi Lo besok kemari, kan? Banyak yang harus kita diskusikan."


"Huft." Kudengar ia menghela nafas panjang. "Dia sakit, dia nangis. Aku gak sanggup liatnya. Aku gak bisa ninggalin dia."


Huft. Kali ini Aku yang dibuat menghela nafas sangat panjang.


"Lo yang kesini aja bisa, gak?" Walau itu sebuah kalimat pertanyaan, tapi Aku tau dia tak membutuhkan jawaban. Otomatis Aku yang memang harus kesana. Itu pernyataan yang menggunakan tanda tanya. Gilak, belajar bahasa Indonesia dimana seh, dia.

__ADS_1


"Lo dimana? Lagi sama Qonita?"


"Nggak. Aku lagi di ruang kerja. Qonita rebahan terus di kamar. Badannya meriang."


"Dia tahu sesuatu?"


"Sepertinya enggak. Tapi, entahlah. Aku gak bisa keluar Kota lagi."


"Lo yakin?"


"Entahlah. Dia gak tenang kalau Aku keluar kota. Fikiran buruk selalu menghinggapinya. Aku lagi dimana, sama siapa, sedang berbuat apa. Ck. S!al."


"Feeling Gue dia ngerasain sesuatu. Walau nggak tau yang sejelasnya. Paling nggak dia gunain instingnya. Hati-hati naluri seorang istri itu kuat, Bro."


"S!al." Ku dengar dia mengumpat. Kalau Aku udah ngomong, dia pasti percaya. Feelingku jarang meleset, seh. Tepat sasaran. Door, kena. Sempurna.


"Nanti sore Aku aja yang kesana. Nungguin Lo, kerjaan bisa jadi numpuk. Lo harus siapin bonus spesial buat Gue."


"Ck. Atur aja. Gue gak akan jatuh miskin buat kasih bonus ke Lo."


"S!al. Lo malak Gue."


"Hahaha... Qonita belum setahun jadi istri Lo udah dapat rumah. Nah Gue udah dampingin Lo dari SMA dapat apa coba?"


"Gue tutup telfonnya. Istri Gue perlu pelukan suaminya. Bye."


Tuut...


Brengs3k bener tuh orang memang. Dasar bos lucknut.


❤️❤️❤️


Author POV

__ADS_1


"Sayang, makan buahnya, ya." Iman membawa sepiring buah yang sudah dikupas. Tadi sebelum menghubungi Jamal, dia minta dibuatkan buah untuk Qonita.


Qonita tersenyum. "Makasi, Abang." Matanya masih terlihat sayu.


"Aku suapin, ya." Qonita mengangguk.


Qonita duduk bersandar pada headboard. Iman menyuapinya, Qonita merasakan tulusnya cinta dan perhatian Iman.


"Bagaimana Qonita harus bersikap kepada Abang? Abang memberi cinta serta luka secara bersamaan," ucap Qonita dalam hatinya.


"Apa yang Kamu fikirin, Sayang?"


"Ha?" Qonita terkejut. Apa suaminya ini punya ilmu telepati.


"Aku kan udah bilang, cerita ke Aku, Sayang." Iman mengelus lembut pipi Qonita.


"Seandainya Qonita udah gak ada, apa anak-anak akan kembali kepada ayah mereka?"


Iman terkejut akan pertanyaan istrinya. "Kamu ngomong apa, Sayang. Kita akan membesarkan anak-anak bersama."


"Entah kenapa Qonita jadi memikirkannya, Bang."


"Karena sekarang Kamu lagi sakit? Gak harus orang yang sakit, kembali ke Rabb nya terlebih dahulu, Sayang. Bisa jadi malah Aku yang duluan dipanggil."


"Kalau Allah sudah menakdirkan seperti itu, Ikhlaskan Ichy bersama Qonita ya, Bang."


Iman dan Qonita saling bertatapan.


"Aku gak mau Kamu berfikir jauh kayak gini, Sayang."


"Qonita gak ikhlas kalau anak-anak bersama ayah mereka. Lebih baik di rawat bang Fiqri aja."


"Hust. Sayang. Jangan dibahas lagi, ya," pinta Iman lembut. "Kita akan membesarkan anak-anak bersama. Kamu dan Aku," ucap Iman penuh penekanan.

__ADS_1


"Gimana kalau seandainya Mayang yang duluan dipanggil. Apa Aku akan memabawa Yuna dalam keluarga kita, Sayang?" Iman bertanya dalam hatinya. Rasa resah mulai menggerogotinya.


__ADS_2