PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 18 Takut Terbakar


__ADS_3

Qonita menjalani aktivitasnya seperti biasa. Semua tanggung jawabnya dilaksanakan, tapi entah kenapa dia terlihat tidak bersemangat.


Sudah 2 hari ini dia terlihat berbeda, tatapannya kosong dan wajahnya sendu. Ya, ini adalah hari ketiga dia tak mendengar kabar dari orang yang sering memanggilnya 'sayang'.


Harusnya laki-laki itu sudah pulang semalam. Apa dia sibuk? Apa dia berputar arah setelah percakapan terakhir itu?


Apa dia...


Arrghh...


Qonita tak sedang baik-baik saja. Berulang kali dia menggelengkan kepalanya. Hari ini dia tak bisa membohongi perasaannya. Dia butuh waktu untuk menyendiri.


Sepulang mengajar, ia katakan pada Vivi dan anak-anaknya ingin beristirahat di kamar karena kurang enak badan.


❤️❤️❤️


"Bos yakin, gak kasih dia kabar?" tanya Jamal yang tentu saja sudah mengetahui cerita tentang bosnya itu.


"Hem," ucap Iman sambil berdiri lalu berjalan menuju sofa di ruangan kantornya, lalu merebahkan badannya. 


Jamal mengikuti bosnya dan duduk di sofa seberang.


"Gak takut dia salah menduga?" Jamal menatap bosnya yang sedari tadi memejamkan matanya.


"Ini yang terbaik. Aku memang sengaja melakukannya."


"Bisa jadi dia merasa sedih, saat ini." Jamal mengeluarkan pendapatnya.


"Malah bagus. Biar dia menyadari apa maunya." Masih dengan mata terpejam.


"Aku beresin kerjaan dulu. Masih ada waktu 1 jam lagi. Semoga nanti sore kita dapatkan hasil yang baik." Jamal beranjak dari duduknya.


"Ya," sahut Iman diantara setengah sadarnya.


❤️❤️❤️


"Silahkan diminum," ucap Fiqri pada 2 orang laki-laki dihadapannya. 


"Trima kasih," jawab Iman dan Jamal bersamaan, lalu meneguk minuman tersebut.


"Maaf, Saya datang kembali. Maksud kedatangan Saya masih sama. Saya ingin menikahi Qonita," ujar Iman.


"Semakin lama, ingin Saya semakin besar. Bukankah lebih baik jika disegerakan saja," ungkap Iman penuh keyakinan dan ketegasan.


Fiqri manggut. "Apa jawaban Qonita? Apa dia bersedia menikah dengan Kamu?"


"Dia bilang harus bertanya pada mama, abang dan keluarganya. Terakhir kali kami berjumpa, kami menyepakati akan menemui bersama-sama, sepulang Saya dari luar kota," jawab Iman.


"Sebelum menjumpai orang tua Abang, Saya ingin menanyakan terlebih dahulu kepada Abang, selaku wali Qonita," sambung Iman.


Zuraida, isteri Fiqri menyentuh tangan suaminya. Fiqri menoleh pada istrinya yang duduk di samping kanannya. Isterinya itu menatapnya.


"Katakan, jika ada yang ingin Adek sampaikan?" ujar Fiqri mengerti isterinya seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Maaf jika demikian yang Kamu katakan, kenapa Qonita tidak ada disini sekarang?" tanya kakak ipar Qonita itu.


"Saya tidak mengabarinya kalau akan kesini," ungkap Iman. "Sudah 3 hari ini Saya tidak berkomunikasi dengannya."


Fiqri mengernyit. "Apa terjadi sesuatu?"


Iman menghela nafas. Memikirkan kalimat baik yang harus diutarakannya.


"Terakhir kali kami berkomunikasi ketika Saya sedang di luar kota. Dari pembicaraan itu Saya memutuskan untuk tidak menghubunginya, hingga Saya mendapat restu untuk menikahinya."


Fiqri diam tetapi tidak dengan istrinya. "Pembahasan seperti apa?" tanya Zuraida.


Fiqri menepuk pelan telapak tangan istrinya untuk menenangkan, seolah mengucapkan sabar.


"Tiba-tiba dia membahas tentang bermain api." Iman diam sejenak. "Saya khawatir hubungan kami yang tanpa ikatan ini membuatnya merasa terbakar, oleh karena itu Saya bersungguh-sungguh ingin menghalalkannya segera."


"Saya tidak bisa memutuskan apa-apa sekarang. Saya harus berbicara dulu dengannya. Kamu tunggu saja kabar dari Saya. Saya juga sepakat, sebaiknya kalian membatasi komunikasi, sampai dia membuat keputusan," ujar Fiqri.


"Maaf Bang, tapi Saya berniat menjumpai Qonita untuk menjelaskan padanya. Mohon izin sepulang dari sini Saya ingin kerumahnya," ucap Iman.


Fiqri menoleh pada istrinya meminta pendapat, istrinya mengangguk. "Baiklah, Saya harap Kamu dapat menjaga batasan di antara kalian."


Imam mengangguk mengerti.


❤️❤️❤️

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Iman dan Jamal.


"Om," sapa Nabil saat melihat Iman yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Waalaikum salam. Masuk, Pak," sahut Vivi mengetahui Iman yang datang.


"Qonita ada?" tanya Iman karena tak melihat keberadaan Qonita.


"Ada Pak, lagi istirahat, ibu kurang enak badan."


"Sakit apa?" tanya Iman terkejut.


"Gak tau Pak, udah 2 hari ini ibu bawaannya lemas." Mendengar itu Iman langsung melirik pada Jamal sambil menelan ludah. "Sebentar Saya panggil ibu ya, Pak," sambung Vivi.


Di dalam kamar, Vivi membangunkan Qonita. "Pak Iman datang, Bu."


"Haa? Pak Iman?" tanya Qonita antara percaya dan tidak, bingung apakah dia sedang bermimpi.


"Iya Bu, berdua sama Pak Jamal."


Qonita mengangguk. "Iya, sebentar. Tolong buatkan minum, Vi."


"Iya, Bu." Vivi keluar dari kamar Qonita.


Setelah menggunakan jilbab dan melihat penampilannya di cermin, Qonita segera membuka pintu kamarnya.


Tentu saja ia langsung dapat melihat kedua tamunya itu. Karena pintu kamarnya langsung berhadapan dengan ruang tamu.


"Assalamualaikum," ucap Qonita.


"Waalaikum salam," jawab Iman dan Jamal.


"Katanya Kamu lagi sakit, Qonita? Sakit apa?" tanya Jamal.


"Oh enggak kog, Bang. Cuma sedikit kurang enak badan aja. Dibawa istirahat juga hilang."


"Tapi katanya udah 2 hari?"


"Cuma kecapean aja kali, Bang."


Iman hanya diam mendengarkan percakapan antara Jamal dan Qonita. Namun pandangannya tak lepas dari Qonita.


"Om, makasi ya mainannya kemaren udah sampe. Banyak banget, Om." Fuad tersenyum lebar.


Iman mengangguk lalu mengelus rambut Fuad.


"Widih, Om mau lihat donk, main sama Om, ya." Jamal sengaja agar bosnya bisa berbicara berdua, dengan yang menurut bosnya itu calon istrinya.


"Iya, Om. Adek ikut maen sama Om, yok," ujar Fuad.


"Ayok," jawab Nabil.


Setelah ditinggal bermain, Qonita menoleh pada Iman. Lalu menunduk kembali.


"Cepat sembuh," ujar Iman. Qonita mengangguk tanpa melihat Iman.


"Maaf." Satu kata yang diucapkan Iman itu mampu membuat Qonita memandang Iman.


"Maaf untuk semua kesalahanku. Maaf gak kasih Kamu kabar. Maaf udah biarin Kamu merasa terbakar. Maaf juga udah buat Kamu sedih sendirian," ungkap Iman dengan wajah sendu penuh penyesalan.


"Abang gak salah. Gada yang perlu dimaafkan." Qonita menggeleng.


"Aku takut Kamu keberatan kalo Aku sering hubungi Kamu. Aku gak bisa untuk gak panggil Kamu sayang, makanya Aku tahan untuk gak chat dan telpon Kamu. Aku juga berat Sayang, bahkan sejam gak dengar kabar Kamu, Aku udah uring-uringan.


Iman memandang lekat Qonita. "Setelah telpon kita yang terakhir, Aku berpikir cukup lama. Aku tau Aku udah buat Kamu susah dengan perasaanku. Aku gak akan ganggu Kamu dulu, makanya aku putuskan Aku bakal cari cara agar dapatkan restu untuk menikahimu. Baru Aku temui Kamu."


"Aku tadi ke rumah abangmu." Qonita terhenyak. "Aku kembali meminta restu padanya. Aku juga ingin berjumpa dengan Ibumu."


"Maaf..." Iman mengulang permintaan maafnya. "Jangan sakit, jangan sedih. Sayang, aku mencintaimu. Biarkan aku menjagamu dan anak-anak."


Qonita hanya mampu terdiam masih dengan pandangan yang tertuju pada tatapan Iman.


"Bang Fiqri suruh Aku nunggu, dia harus tanyak Kamu dulu. Dengar keputusan Kamu. Qonita Yasmin Siregar, maukan menikah denganku?"


Qonita tak mampu menjawab. Buliran airmatanya mengalir tanpa henti.


"Jangan nangis," ucap Iman dengan suara berat. Ia merasa frustasi melihat air mata Qonita yang tak kunjung berhenti.


Ingin menghapus airmata di pipi Qonita tapi tentu saja tak boleh dilakukannya.

__ADS_1


"Gapapa kalau Kamu gak bersedia menikah denganku. Jangan nangis, jangan sedih. Aku mau lihat Kamu bahagia. Jika keberadaanku mem-" ucapan Iman terhenti karena Qonita menggeleng.


"Nggak, bukan seperti itu." Suara Qonita terdengar lirih.


"Iman masih terus menatap Qonita menunggu kalimat berikutnya dari perempuan yang ia cintai itu. Namun Qonita terlihat tak mampu bersuara.


"Kamu maunya gimana, Sayang? Aku akan penuhi kemauan Kamu, termasuk buat gak temui Kamu lagi jika itu bisa buat Kamu bahagia," ucap Iman sebenarnya sangat berat.


Namun airmata Qonita yang sempat terhenti sesaat itu kembali keluar. Iman mengernyit. Berfikir kenapa Qonita malah menangis.


"Kamu bersedia menikah denganku?" Namun Qonita hanya diam tak menjawab.


Iman mengganti pertanyaannya. "Kamu suka sama Aku? Qonita semakin menunduk.


“Tolong jawab, Sayang. Biar Aku tau kedepannya harus bagaimana," desak Iman.


Qonita lalu mengangguk. Iman tersenyum bahagia melihat itu. "Alhamdulillah. Makasi, Sayang," ujar Iman.


"Tapi Saya masih ragu untuk menikah lagi, Bang."


"Gapapa, Sayang. Yang penting Aku tau isi hatimu. Selanjutnya jadi PR untukku. Membuatmu menerima lamaranku tanpa ragu." Sambil terseyum Iman berucap demikian.


"Oh ya, ada oleh-oleh untuk kalian. Untukmu aku menyediakan 2 pilihan." Qonita mengernyit.


"Jawabanmu menentukan hadiah mana yang akan Aku kasih. Aku sudah tau hadiah mana yang akan Aku beri padamu hari ini, ucap Iman sambil tersenyum.


“Kalau kamu mau bertanya tentang kedua hadiah itu boleh," goda Iman.


Qonita menggeleng.


"Ya udah deh, Aku jelaskan. Hahah." Iman tertawa. "Kedua hadiah itu adalah anting dan cincin."


Qonita terhenyak.


"Dan Aku memutuskan untuk memberi anting hari ini," ujar Iman.


Qonita diam, hanya berkedip.


"Sengaja Aku pilih Anting. Biar Kamu gak berat nerima hadiah dari Aku. Kamu bisa pakai karena Aku gak akan bisa lihat." Iman menunggu reaksi Qonita tapi perempuan itu masih memilih diam.


"Aku akan terus berusaha dan berdoa untuk dapat menghalalkanmu. Disaat semua merestui dan Kamu mengiyakan, disitu cincin itu Aku berikan. Dan suatu saat, Aku bisa melihatmu menggunakan anting itu, ungkap Iman.


"Namun jika pada akhirnya harapanku tak bisa direalisasikan, biarkan anting itu terus bersamamu sedangkan cincin itu bersamaku," sambungnya.


"Abang akan memberi cincin jika keadaannya bagaimana?" tanya Qonita penasaran.


"Oh, cincin itu aku beri hari ini seandainya..." Iman sengaja berhenti, sebenarnya hanya menggoda Qonita saja.


Namun tatapan Qonita menuntut Iman untuk melanjutkannya.


"Seandainya tadi, ketika Aku meminta maaf, Kamu menangis lalu menyatakan rindu padaku. Marah padaku karna tak memberimu kabar. Memukuliku hingga aku mendekapmu lalu aku berlutut padamu sambil memberi sebuah cincin. Hahaha..." Iman tertawa puas.


Qonita hanya menggeleng, heran mendengar kekonyolan Iman.


"Bang, udah malam," ujar Qonita. Iman mengangguk. "Tapi ada yang harus kita bicarakan," sambung Qonita.


"Hubungi Aku, kapanpun Kamu ada waktu. Kita memang harus membicarakan banyak hal." Qonita mengangguk.


"Jamal, kita pulang," ucap Iman memanggil Jamal.


"Om pulang dulu, ya." Sambil berjalan keluar.


Mengambil barang dari mobil lalu menyerahkan pada Fuad, Nabil, Vivi lalu terakhir pada Qonita.


Qonita mengernyit pasalnya oleh-oleh yang ia dapatkan juga sama banyaknya dengan anak-anak.


Dia pikir oleh-oleh untuknya sesuai dengan yang tadi Iman ucapkan.


"Ada di dalam," ucap Iman berbisik pada Qonita sambil mengerling padanya.


"Makasi, Om." ucap Fuad dan Nabil


"Makasi, Pak," ucap Vivi.


"Hati-hati, Bang. Makasi untuk oleh-olehnya," ucap Qonita.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."

__ADS_1


__ADS_2