
Ini hari kedua Qonita tidak mengajar. Demamnya sudah turun, tetapi badannya masih terasa meriang. Ia kerap merasa kedinginan.
Iman masih setia menemaninya. Urusan kantor bukan menjadi masalah baginya. Ada Jamal yang sangat bisa diandalkan.
"Assalamu'alaikum," ucap oma Herni dan opa Pras memasuki rumah anak pertamanya.
"Wa'alaikum salam," jawab Iman. Masih dengan posisi duduk di sofa. Qonita tidur berbantalkan paha suaminya. Sementara seluruh tubuhnya ditutupi dengan selimut.
"Qonita kedinginan?" tanya oma Herni karena melihat menantunya tidur berselimut di hari menjelang siang ini.
"Iya, Ma. Tadi malam dia gak bisa tidur. Badannya meriang."
"Udah dibawa berobat?" tanya opa Pras.
"Udah, Pa. Kemaren udah Iman bawa ke rumah sakit."
"Kenapa gak kasih tahu kalau mantu kesayangan Mama lagi sakit?"
"Maaf, Ma. Qonita gak mau ngerepotin banyak orang. Iman aja disuruh kerja dari semalam. Mama tahu dari mana kalau Qonita sakit?"
"Papa tadi pagi ke kantor. Kata Jamal Kamu udah dua hari gak masuk karna jagain Qonita. Papa langsung nelpon Mama. Jemput Mama, terus langsung kesini. Lain kali itu kasih kabar kalau kalian kenapa-kenapa," protes oma Herni.
"Kalau belum ada perkembangan, kenapa gak dibawa berobat aja lagi, Man?" tanya opa Pras.
"Qonita gak mau, Pa."
__ADS_1
"Cucu Papa pada kemana? Kog gada yang kelihatan?"
"Fuad ama Nabil lagi jemput Ichy. Sebentar lagi juga sampai."
"Ichy. Jangan. Abaaang." Qonita berteriak. Dia terbangun dengan nafas memburu, seperti baru saja mimpi buruk.
"Sayang, Kamu mimpi buruk lagi?"
"Astagfirullah." Qonita menggeleng. "Qonita nggak ingat, Bang. Cuma rasanya nggak enak."
"Udah 3 kali Aku dengar Kamu ngigau, Sayang."
"Kita ke rumah sakit lagi ya, Sayang," tawar oma Herni pada Qonita.
"Mama, Papa. Udah lama datang?" Qonita berdiri menyalami kedua mertuanya.
"Maaf, Qonita gak tahu kalau Mama dan Papa datang."
"Gak apa, Sayang. Mama dan Papa memang mau jenguk Kamu, Papa tahu dari Jamal kalau Kamu sakit. Kita berobat lagi, ya," ajak oma Herni.
"Gak usah, Ma. Qonita udah mendingan. Cuma lebih sering ngerasa kedinginan aja," tolak Qonita lembut.
"Gunakan semua fasilitas terbaik, Qonita. Minta apa yang Kamu inginkan. Apa gunanya suami Kamu kerja kalau gak bisa kasih yang terbaik untuk anak dan istrinya," sahut opa Pras.
"Abang udah bawa Qonita ke rumah sakit terbaik, Pa. Qonita cuma butuh istirahat aja, kog."
__ADS_1
Sementara Iman mengabaikan perkataan papanya itu. Tidak lama terdengar suara dari luar.
"Assalamu'alaikum." Muncul Nabil, Fuad, Ichy dan Vivi.
"Wa'alaikum salam."
"Oma, opa," teriak ketiga anak tersebut mendekat dan menyalam oma dan opa mereka.
"Wah cucu-cucu Oma kompak bener," ucap oma Herni melihat kebersamaan ketiga cucunya.
"Hai, jagoan. Kapan-kapan ikut Opa jalan-jalan lagi, ya," ucap opa Pras saat Nabil duduk di pangkuan opa Pras. Sedekat itu mereka. Opa Pras memang sering mengajak Fuad dan Nabil bersamanya.
"Iya, Opa," jawab Nabil senang.
"Gimana tadi belajarnya Sayang, seru?" tanya Qonita pada putrinya yang sudah menempel di sebelahnya.
"Seru, Bunda. Tadi nempel daun di buku menggambar, Bunda. Trus dihiasi jadi cantik. Terus hari ini Kami dikasih permen. Kakak dapat 3 Bunda, karena bisa menjawab pertanyaan dari Miss."
"Adek dapat permen dari Kakak. Udah habis tadi dimakan," terang Nabil.
"Abang juga dapat," ungkap Fuad.
"Alhamdulillah. MasyaAllah, pinter banget anak Bunda." Qonita mengelus sayang rambut Ichy.
"Ganti baju dulu, Sayang. Nanti kita makan siang sama-sama, ya." Oma Herni menyuruh Ichy untuk mengganti seragam TK nya. Oma Herni juga membawa bahan makanan dan satu ART di rumahnya untuk membantu memasak di rumah Iman.
__ADS_1
Mereka pun makan siang bersama. Serta melakukan Sholat Dzuhur berjamaah.