PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 54 Penyesalan


__ADS_3

Binjai, Sumatera Utara


Mayang masih menangis di dalam kamarnya. Bik Yati mengetuk pintu, memberanikan diri masuk walau belum ada jawaban.


Bik Yati melihat Mayang dalam keadaan sangat menyedihkan. Menangis seorang diri, tanpa ada keluarga yang mendampingi. Mau mengadu kemana? Bahkan seluruh keluarga Mayang, sudah meninggalkannya.


"Yang sabar, Bu," ujar Bik Yati sambil mengusuk punggung Mayang.


"Yuna dimana, Bik?" tanya Mayang karena setelah Iman pergi, dia tak melihat Yuna lagi.


"Bibik suruh keliling sama Mai dan Mang Didi. Kasihan kalau Yuna harus melihat Ibu dengan kondisi seperti ini.


Mayang mengangguk. "Makasi, Bik."


Bik Yati mengangguk walau Mayang tidak bisa melihatnya. Karena posisi bik Yati dibelakang Mayang.


"Apa Iman akan ninggalin Kami, Bik?" tanya Mayang sambil menangis.


"InsyaAllah nggak, Bu. Ibu dan Bapak saat ini sama-sama emosi. Nanti kalau udah membaik, InsyaAllah akan kembali seperti semula." Bik Yati terlihat menenangkan Mayang.


"Aku salah, Bik. Aku mendesaknya tadi. Dan dia marah karena Aku nyebut nama istrinya." Mayang menghapus air mata di pipinya.


"Ibu nyebut nama Bu Jihan juga?" tanya Bik Yati sopan.


Mayang hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


"Kalau boleh Bibik kasih pendapat Bu, lebih baik Ibu tidak usah lagi menyebut-nyebut nama Bu Jihan. Bu Jihan sudah tenang disana. Tetapi yang disini..." Bik Yati terdiam.


Mayang membalikkan badannya, mengahadap bik Yati.


"Kenapa, Bik?" tanya Mayang penasaran.


"Ini cuma pemikiran Bibik, saja. Selama ini, Bibik melihat Bapak itu sangat baik, Bu. Sayang sama Ibu dan Yuna. Hanya saja, situasi yang membuat Bapak gak bisa punya waktu banyak untuk bisa kesini."


"Dan kalau dari apa yang Ibu ceritakan pada Bibik, bukankah Bapak selama ini tidak berlaku yang sama pada Bu Jihan selama mereka menikah? Bisa jadi Bapak menanggung beban penyesalan selama ini, Bu." Bik Yati mengemukakan pendapatnya.


"Tapi Aku dan Yuna juga menderita disini, Bik."


"Benar, Bu. Tapi apa kita tahu apa yang dirasakan Bapak selama ini? Atau pertanyaannya diganti jadi gini, apakah Bu Jihan bahagia selama menikah sama Bapak?"


Deg


Mayang terdetak. Jelas selama ini dia tahu kalau Jihan pun sama tak bahagia sepertinya. Perlakuan Iman pada Jihan tak sama seperti perlakuan Iman padanya.


"Apakah Ibu tahu alasan Bapak kenapa tidak berlaku adil pada Bu Jihan, dulu? Bisa jadi karena Bu Mayang," imbuh bik Yati.


Deg

__ADS_1


Kali ini Mayang menelan ludahnya. "Kenapa karena Aku, Bik?" tanya Mayang tak mengerti. "Aku gak pernah melarang Iman untuk berbuat baik pada Jihan, dulu."


"Benar, Bu. Tapi bukankah karena keberadaan Bu Mayang, sehingga apa yang sudah direncanakan Bapak jadi berantakan semuanya?" ujar Bik Yati.


"Bapak mau meninggalkan Bu Mayang, tapi gak mungkin tega. Bapak mau mencintai Bu Jihan, tetapi ada Bu Mayang. Perempuan yang selama ini bapak sayang."


Mayang terlihat memikirkan kalimat demi kalimat yang diucapkan Bik Yati.


"Mungkin Bapak pun selama ini juga menderita, Bu. Menderita karena bersalah kepada kedua istri dan anaknya. Kalau difikir-fikir, Bapak tanggung jawabnya juga banyak, Bu. Selain harus mengurus perusahaan, bapak juga harus membagi waktu disini dan disana tanpa ketahuan."


Mayang semakin terlihat menyesal. Karena apa yang dikatakan oleh Bik Yati bisa jadi semua benar adanya.


Rasa kasihan muncul pada suaminya. Benarkah suaminya juga menderita selama ini? Benarkah suaminya menanggung rasa bersalah pada Jihan?


Selama ini suaminya tak pernah mengeluhkan apapun. Iman datang hanya untuk membahagiakan dia dan Yuna saja.


Lantas kenapa sekarang dia menuntut apa yang tak bisa Iman berikan kepadanya.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


Iman sudah sampai dirumahnya. Ia melihat istri dan anak-anaknya berkumpul, ceria bersama.


"Assalamu'alaikum," ucap Iman.


"Wa'alaikum salam." Serentak istri dan anak-anaknya menjawab.


Sementara Qonita langsung menyodorkan tangannya hendak menyalam suaminya. Iman pun menyambut tangan istrinya lalu menc!um kening istrinya itu.


Iman lalu berjongkok memeluk ketiga anaknya. Menyalami mereka satu persatu dan mencium kepalanya.


"Papi mandi dulu, ya. Gerah banget Papi ini," ucap Iman pada anak-anaknya.


"Iya, Pi," jawab ketiga anaknya.


Qonita mengikuti suaminya ke kamar. Ia menggenggam tangan suaminya. Iman tersenyum manis padanya.


Sesampai di kamar Qonita langsung menuju lemari. Ia menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


Sementara Iman duduk di tempat tidur. Membuka satu kancing kemejanya. Lalu merebahkan badannya.


"Capek banget ya, Bang?" tanya Qonita ketika sudah duduk disamping suaminya.


"Iya, Sayang." Iman menggaruk-garuk kepalanya. Lalu mengambil posisi duduk.


"Qonita bantu lepas ya, Bang." Qonita mulai membuka satu demi satu kancing kemeja suaminya.

__ADS_1


"Mau bantu mandiin juga gak, Sayang? Aku lelah banget, neh." Iman mulai menggoda istrinya.


"Ha?" Qonita terkejut. Ia menelan ludahnya.


"Mau, ya," bujuk Iman manja.


"M...maksudnya Abang duduk di bangku, gitu?" tanya Qonita bingung bagaimana cara memandikan orang dewasa seperti suaminya. Jika ditanya bagaimana cara memandikan anaknya, tentu saja Qonita sangat mahir melakukannya.


"Hahaha..." tawa Iman pecah dikamar mereka.


Iman mengelus rambut istrinya. "Kamu tuh lugu banget seh, Sayang."


Iman mulai menangkup wajah istrinya. Menatap wajah polos istrinya. Lalu mulai mendekatkan wajah mereka.


Cvp


Iman mengecvp 'apel fuji' miliknya. Qonita dan Iman saling memandang kala bibir mereka sudah terlepas.


Iman kembali mendekati wajah istrinya. Bukan kecvpan melainkan sebuah lvmatan. Qonita yang awalnya terlihat pasrah, lama-lama mulai ikut membalas c!uman suaminya.


Lama mereka melakukannya. Iman terlihat tak mau menyudahi c!umannya. Ia masih menikmati bermain bibir dan lidah bersama istrinya.


"Kamu udah mandi, Sayang?" tanya Iman pada istrinya.


Qonita mengangguk. "Udah, Bang."


"Huft. Mau Aku lakuin disini gak adil buat Kamu. Akunya belum mandi. Tapi masih wangi walau udah kena keringat gini." Iman menciumi arah ketiak kanan dan kirinya.


Qonita terkekeh kecil mendengar pernyataan sepihak suaminya. "Muji diri sendiri, Bang." Ia lalu mencebikkan bibirnya.


"Coba neh cium sendiri." Iman menarik paksa Qonita dalam pelukannya. Qonita kini berada dalam dekapan suaminya.


Benar Qonita menyukai aroma parfume suaminya. Keharuman radiant musk membuat Qonita terpikat hingga terjerumus lebih dalam pada aroma maskulin dan berkelas itu.


Qonita semakin membenamkan dirinya lebih dalam dan menikmati wewangian mewah dan tahan lama itu.


"Suka, hum?" tanya Iman mengetahui istrinya sudah dalam mode posisi nyamannya.


Qonita tersadar. Ia menegakkan badannya dan menatap wajah suaminya.


"Abang kan mau mandi. Ya udah, mandi sana. Bajunya udah Qonita siapin."


Iman mencebik. "Belum mandi aja, Kamu udah lengket kayak lem bidadari gini, Sayang. Gimana kalau Aku udah mandi?" goda Iman tak mau menyebut lem se tan.


Qonita tersenyum malu. "Aroma parfume Abang enak wanginya."


"Ya udah, mandi lagi mau, ya? Kita belum pernah mandi bareng, kan? Biar romantis, Sayang."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban istrinya, Iman menggenggam tangan Qonita, membawanya ke dalam kamar mandi.


❤️❤️❤️


__ADS_2