PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 25 Mengunjungi Rumah Udak


__ADS_3

Selesai mengajar Qonita mendapat pesan dari Iman yang mengabarkan kalau dia sudah di depan sekolah. Qonita bergegas keluar. Di depan mobil Iman sudah berdiri tersenyum menyambutnya.


Mereka pun masuk ke dalam mobil. Iman melajukan mobilnya sesuai dengan arahan Qonita.


"Udah dikabari kalo kita mau kesana, Sayang?" tanya Iman.


'Belum, Bang," jawab Qonita.


"Lho, gimana nanti kalau udak Kamu gada, Sayang?"


"Udak buka grosir dirumahnya, Bang. Jadi kemungkinan besar ada dirumah."


"Ohh... Aku seneng banget tau Sayang, sampe-sampe Aku diledekin sama Jamal. Sial banget tau gak Sayang, masa dia bilangin Aku ganteng-ganteng tapi aneh.”


“Lho, kenapa emang, Bang?"


"Habis di kantor tadi aku senyum-senyum terus. Hahaha..."


Qonita mencebik.


"Ichy juga seneng banget, Sayang. Tadi pagi pas sarapan Aku cerita ke dia. Tau gak reaksi dia gimana?" Melirik Qonita.


"Hmmm..."


"Dia sampe turun dari kursinya datangin Aku, terus peluk Aku, Sayang. Dia nanyak beneren, Aku bilang iya. Terus dia bilang makasi Pi, Ichy seneng banget."


Qonita terharu mendengarnya. "Maaf Bang, tapi Qonita belum bilang ke anak-anak."


"Gapapa, Sayang. Pelan-pelan aja."


"Bang..."


"Ya, Sayang."


"Kog Abang gak nanya mahar nya berapa gram?"


Iman tersenyum. "Memangnya Kamu mau berapa kilogram, Sayang?"


"Bang, ih seriuuuusss." Qonita merajuk manja. Pasalnya Iman terlalu suka menggodanya, Qonita tak mengerti kenapa Iman sering bercanda pada saat ia bertanya serius.


“Yang main-main siapa, Sayang. Tenang aja, udah Aku siapin. Jangan khawatir. Oh iya, uang kasih sayang nya mau dikirim ke nomor rekening siapa, Sayang? Kamu atau mama Kamu?”


Qonita berfikir. "Nanti Qonita tanyak mama dulu, Bang. Pengennya seh ke nomor mama aja. Tapi takut agak ribet, soalnya mama gak punya ATM."


"Lho, gak pake ATM?" Iman mengernyit.


"Iya, Bang, soalnya mama cuma punya 1 nomor rekening aja. Dan itu untuk gaji pensiunan dari almarhum papa. Jadi gak boleh pakai ATM," jelas Qonita.


Almarhun papanya dulu adalah seorang PNS. Ketika papanya meninggal, mamanya mendapatkan gaji bulanan yang langsung masuk ke rekening setiap awal bulan.


Iman mengangguk. "Tapi tau kan, nomor rekening mama Kamu?" Qonita menjawab dengan anggukan, karena Iman sedang melihat ke arahnya.


"Oke, kirimin ke Aku, sekalian nomor rekening kamu juga."


"Lho, kog nomor Qonita juga, Bang?"


"Iya jaga-jaga aja, Sayang."


Qonita melihat lama ke arah Iman. Iman jelas menyadari Qonita melihatnya walaupun iya menatap ke depan karena sedang menyetir.


"Kenapa, Sayang?"

__ADS_1


"Abang kog cuma nanyak nomor rekening doank? Gak nanyak jumlah uang kasih sayang nya berapa?"


Iman kembali tersenyum. "Memangnya mau berapa, Sayang?" tanya Iman lembut.


Qonita hanya melirik.


Iman tertawa. "Kamu tuh gemesin banget seh, Sayang. Aku gak nanyak, kamu heran. Giliran Aku tanyak, kamu gak jawab. Hahahaha..."


"Ya heran aja, Bang. Habis Abang cuma nanyak nomornya aja. Mahar juga gitu. Kog gak nanyak jumlahnya berapa. Emangnya gak bingung nanti mau transfer berapa," ujar Qonita.


Iman tak langsung menjawab. Ia sedang fokus memberhentikan mobil, karena lampu lalu lintas sedang menyala merah.


Setelah berhenti ia menatap ke arah Qonita. Lalu mengelus lembut kepala Qonita, yang tentu saja hanya mengenai jilbab Qonita.


Qonita terkejut. Ia menatap Iman.


"Udah Aku siapin, Sayang. Jadi Aku gak akan bingung nanti transfernya berapa. Tapi kalau kurang nanti bilang aja. Kalau ternyata uang Aku gak cukup, utang dulu boleh, kan? Hahaha..."


Qonita menggeleng melihat tingkah Iman.


Sementara Iman tertawa puas menjahili calon istrinya itu.


❤️❤️❤️


10 menit kemudian mereka tiba di rumah udak Zardi. Iman memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


"Assalamualaikum," ucap Qonita masuk mendekati udaknya yang sedang melayani pembeli.


"Waalaikum salam. Qonita sama siapa, Nak?" tanya udak Zardi sambil menerima uluran tangan Qonita yang hendak menyalamnya.


Iman langsung memperkenalkan diri. "Saya Iman, Udak."


Memasuki ke dalam rumah, Nanguda Linda menyambut Qonita. "Mana cucu-cucu kog gak dibawak?"


“Nggak Nanguda, tadi dari sekolah langsung kesini."


"Ini, siapa?" tanya nanguda Linda.


"Iman, Nanguda." Iman menyalam Nanguda Linda.


"Ohh, duduk lah dulu, Nak."


"Ini, Nanguda." Qonita menyerahkan dua plastik. Mereka tadi singgah untuk membeli buah dan brownies.


"Repot-repot, Nak."


"Nggak kog, Nanguda."


"Bentar, ya." Nanguda Linda beranjak kedepan, tak berapa lama datang kembali sambil membawa botol minuman dan beberapa cemilan.


Menyusul udak dibelakangnya. Grosir Udak Zardi cukup besar. Ada 3 orang yang membantu udak, ditambah nanguda dan anak udak yang ikut membantu jika pulang sekolah dan kuliah.


"Mama sehat, Nak?" tanya Nanguda Linda.


"Alhamdulillah sehat, Nanguda. Dinda mana Nanguda?" Qonita menanyakan keberadaan adik sepupunya.


"Tadi pergi sama kawannya."


"Anak ini, siapa? Calon Qonita?" tanya Nanguda tanpa basa basi.


"InsyaAllah, Nanguda." Iman yang menjawab. "Sekaligus mohon restu untuk menikahi Qonita," ucap Iman pasti.

__ADS_1


Udak dan nanguda sama-sama terkejut.


"Oh iya, kapan?" tanya Udak Zardi.


"InsyaAllah minggu ini hantaran, Udak. Datang ya, Udak. Di rumah mama, habis Dzuhur," jawab Qonita.


"Kapan mereseknya? Kog gak ngabari?" tanya Nanguda.


"Gak pake meresek Nanguda, langsung hantaran," jawab Qonita.


"Iyalah, pada kerja, kan. Zaman sekarang udah biasa gitu," sahut Udak Zardi. "Kerja dimana, Iman?"


“Khasanah Land, Udak, perusahaan dibidang properti," jawab Iman.


"Jadi apa disitu?" tanya Udak Zardi.


Qonita melirik Iman. Yang dilirik santai aja.


"Bantu papa ngembangin perusahaan, Udak." jawab Iman.


"Maksudnya, milik sendiri?"


Iman mengangguk. "Punya Papa, Udak."


"Suku apa, Iman?"


"Jawa, Udak."


"Pantes. Jangan panggil Udak, yang panggil Udak itu Qonita. Iman panggil Tulang. Ke istri Tulang, panggilnya Nantulang."


"Ohh, iya Tulang."


"Tau kan, kalo Qonita punya anak?"


Iman mengangguk. "Tau, Tulang. Saya juga punya 1 orang putri. 6 tahun. Istri Saya meninggal 2 tahun yang lalu."


"Jadi udah 2 tahun menduda? Tahan ya," ucap Nanguda Linda.


Iman tersenyum. "Iya, Nantulang."


"Jadi kapan rencana nikahnya?" tanya Udak Zardi.


“InsyaAllah kalau diizinkan 2 minggu setelah hantaran, Tulang."


"Kog cepat kali," tanya Nanguda Linda terkejut.


"Takut Qonita diambil orang, Nantulang." Iman sedikit bercanda.


Udak Zardi dan istrinya tertawa. Qonita tertunduk malu.


"Yang penting bagus-bagus aja. Sama-sama udah punya anak, sama-sama udah pernah berumah tangga,"ucap udak Zardi.


"Hilangin ego masing-masing. Kalo yang satu jadi api yang satu jadi air. Gantian, jangan cuma 1 orang aja yang ngalah. Sama-sama saling menghargai."


"Gada rumah tangga yang gak pernah ribut. Jangan sampe anak tau kalo kita lagi berantem. Nanti psikologinya terganggu. Itu yang harus kita selamatkan," sambung Udak Zardi.


"Iya, Tulang."


"InsyaAllah, Udak."


Ucap Iman dan Qonita bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2