PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 99 Ultah Opa Pras


__ADS_3

..."Ketika kamu merasa ingin menyerah, ingat mengapa kamu bertahan begitu lama."...


Medan, Sumatera Utara


Hari ini adalah hari ulang tahun opa Pras. Tidak ada perayaan meriah. Hanya kumpul keluarga, makan di salah satu resto pada sore hari.


Di usia paruh bayanya itu, berkumpul bersama anak dan cucu adalah anugerah terindah baginya. Melihat senyum dan tawa mereka adalah kado baginya.


Qonita pergi bersama ketiga anaknya dan juga Vivi. Karena suaminya masih di dalam pesawat. Akan langsung menyusul mereka nanti.


Pada saat Qonita dan keluarganya datang, sudah ada opa Pras, oma Herni, Tante Nana, Om Gagah serta kedua anak perempuannya. Qonita dan anak-anak menyalami mertua dan adik iparnya itu.


Seperti biasa, opa Pras menyambut hangat anak-anak Qonita. Anak-anak pun sudah sangat dekat dengan opa dan omanya. Opa Pras langsung mendudukkan Nabil dalam pangkuannya.


Tidak berapa lama, Jamal datang bersama istri dan sepasang anaknya. Mereka pun menyalami orang tua dari bosnya itu, yang sudah dianggap sebagai orang tua sendiri, sangking dekatnya.


"Gak bosnya, gak asistennya, telat datangnya," sindir opa Pras pada Jamal.


"Maaf, Om. Tadi ada kerjaan yang harus diselesaikan, dulu," ucap Jamal cengengesan.


"Bos Kamu itu gimana, bisa-bisanya belum sampe. Anak istrinya jadi datang sendiri. Apa dia kekurangan anggota?"


"OTW, Om. Nanti langsung kemari," ucap Jamal.


"Ya udah, kita makan aja, nanti Iman nyusul. Fuad ayo pimpin do'anya," pinta oma Herni."


"Iya, Oma." Fuad pun membaca do'a sebelum makan.


❤️❤️❤️


Sementara di meja lain yang cukup berjarak dari meja keluarga opa Pras, ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka. Seorang perempuan paruh baya beserta keponakannya.


"Bukankah itu keluarga Iman, Wied?" tanya Bu Irma pada Wiwied.


"Sepertinya iya, Tante. Kalau gak salah yang perempuan cantik itu kan adiknya bang Iman. Yang laki-laki itu sahabatnya Bang Iman," ujar Wiwied.


"Lalu siapa perempuan yang behijab itu? Dan kenapa Iman tidak ada bersama mereka?" tanya Bu Irma.


"Wiwied juga gak tahu. Kita perhatikan aja dulu, Tan." Wiwied dan Bu Irma terus melihat ke arah keluarga opa Pras.

__ADS_1


❤️❤️❤️


"Alhamdulillah makannya udah selesai. Sekarang gimana kalau kita buka kado?" Nana memberi usul.


"Buka buka..." Anak-anak antusias agar kado-kado yang tersusun di meja segera dibuka.


"Kado pertama dari istri tercinta dulu, donk. Ayo Oma, mana kadonya?" tanya Nana apada mamanya.


Oma Herni mengambil kotak berwarna biru. Menyerahkannya pada Ichy agar membukanya. Setelah dibuka ternyata hadiahnya adalah sebuah parfum dan dasi keren.


"Wouw, dasi merk ***, tahu banget kesukaan suaminya," ucap Nana.


"Makasi, Istriku Sayang." Opa pras memeluk dan menc!um oma Herni.


"Cie..." Yang hadir bersorak gembira.


"Lanjut, kado dari putri tercinta dan suaminya. Treng treng..." Nana menunjukkan sebuah voucher. "Bulan madu ke Bali. Terima beres pokoknya."


"Yang ini dari cucu-cucu papa." Nana menyuruh anak-anaknya membuka kado mereka. Sepasang jam tangan mewah, mereka berikan kepada opa Pras.


"Makasi Nana, Gagah, dan cucu opa yang cantik-cantik," ucap opa Pras.


"Lanjut dari bang Iman dan Kak Qonita."


"Cantik banget," ujar Nana melihat sebuah foto keluarga mereka dengan sebuah bingkai yang terbuat dari perak. "Ini pesan dimana, Kak? Keren banget. Mau..." seru Nana.


"Mohon maaf, label mantu kesayangan berpindah pada Qonita. Hadiahnya lebih spektakuler, lebih terasa dari hati," ucap opa Pras bercanda.


"Enak aja, Papa kan cuma punya dua mantu. 1 mantu laki-laki, dan 1 mantu perempuan. Jadi dua-duanya kesayangan," protes Nana.


"Udah, udah. Lanjut, ini kado dari siapa?" tanya oma Herni."


"Dari Kami," teriak Ichy, Fuad dan Nabil bersamaan.


"Dari Ichy, Fuad, Nabil dan Vivi, Ma," sahut Qonita.


"Wah, bener-bener didikan bundanya," ucap Nana, setelah melihat isinya adalah baju koko, sarung, sajadah, peci, serta mukenah yang senada dengan sarung."


"Alhamdulillah. Makasi ya, cucu-cucu Opa, Vivi." Opa Pras tersenyum melihat ketiga anak Qonita dan Vivi.

__ADS_1


"Yeay, kado terakhir. Pasti dari Kamu, kan, Ri?" tanya Nana pada Ria, istri Jamal.


"Iya, dari kami sekeluarga," imbuh Ria.


"Wouw, lengkap bingits," ucap Ria memeriksa kado dari sahabatnya.


"Ada baju formal couple, sweater couple, kacamata couple. OMG merk ***. Keren daebak."


"Makasi Jamal, Ria, serta cucu opa yang ganteng dan cantik," ucap opa Pras.


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang yang baru saja datang.


"Wa'alaikum salam." Serentak yang ada disana menjawab salam.


"Papi," teriak Ichy, Fuad, dan Nabil bersamaan.


Iman menyalam kedua orang tuanya, lalu istri dan anak-anaknya.


❤️❤️❤️


Sementara dua orang yang dari tadi memantau keluarga opa Pras terkejut melihat kedatangan Iman. Tak kalah terkejut lagi kala melihat Iman menc!um kepala Qonita. Lalu memeluk 3 orang anak kecil.


"Siapa perempuan itu? Kenapa Iman memeluk dan menc!umnya? Kenapa Iman tidak datang bersama Mayang?" tanya bu Irma mungkin kepada diri sendiri. Karena Wiwied pun sama tidak mengetahuinya.


"Ayo kita kesana," seru Bu Irma.


"Tapi Tante..." Wiwied merasa takut. Tetapi tantenya, bu Irma sudah berjalan menuju ke arah Iman.


Saat sudah berdiri dua langkah di dekat Iman, Bu Irma berhenti.


"Iman..." panggil Bu Irma.


Deg


Bukan hanya Iman yang terkejut, seluruh keluarga opa Pras terkejut, kecuali Qonita, Vivi dan anak-anak yang tidak mengetahui siapa perempuan paruh baya tersebut.


"Dimana Mayang? Kenapa Kamu tidak bersamanya?"


Deg

__ADS_1


Suatu pertanyaan yang mampu membuat Qonita terkejut.


❤️❤️❤️


__ADS_2