PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 68 Mayang dan Qonita bersedih


__ADS_3

Brastagi, Sumatera Utara


Setelah Iman keluar kamar, Mayang membuka matanya. Sebenarnya sedari tadi ia belum tidur. Hanya saja ia terus berusaha memejamkan matanya pasca pergumulannya dengan Iman, suaminya.


Air matanya mengalir. Mayang mengusap air mata di wajahnya itu.


"Bagaimana bisa Kamu memikirkan dia saat berc!nta dengan ku, Im. Ku fikir dulu Kamu yang akan menyebut nama ku saat kamu bersama mereka. Ternyata Aku salah. Bisa-bisanya kamu memanggilku, Sayang," bathin Mayang.


Sedari dulu, Iman tak pernah memanggilnya dengan 'sayang'. 'Yang', begitulah Iman akan memanggilnya.


Panggilan papi dan mami pun memang sengaja mereka samakan, agar Iman tak salah sebut ketika bersama salah satu istri dan anaknya.


Tapi kali ini, Iman menyebut panggilan istri lainnya. Mayang pasti bisa memprediksi, panggilan 'sayang' itu pasti milik Qonita, istri suaminya yang sekarang.


"Aku fikir Kamu begitu berga!rah karena kita sudah lama tidak melakukannya, Im. Ternyata bukan. Kamu memikirkan istrimu yang lain. Apa Kamu udah gak mencintaiku lagi, Im?" tanya Mayang pada hatinya.


Air mata Mayang kembali mengalir. Ia juga tahu, suaminya keluar malam-malam begini di saat semua orang sudah tertidur, pasti ingin menghubungi istrinya itu.


Cekrek


Mayang menghapus air matanya dan kembali memejamkan matanya. Iman sudah kembali ke kamar mereka.


""Kog bangun?" tanya Iman karena melihat istrinya terbangun.


"Kamu dari mana, Im?" tanya Mayang berpura-pura.


"Keluar bentar, ayok tidur lagi." Iman merebahkan badannya disamping Mayang, membawa Mayang dalam pelukannya.


❤️❤️❤️


Keesokan harinya Iman kembali berjalan-jalan bersama rombongannya. Mayang lebih banyak diam. Iman tak mempermasalahkan.

__ADS_1


Di sela-sela kebersamaannya bersama anak dan istri sirinya itu, Iman mencuri-curi waktu untuk menghubungi istri dan anak-anaknya yang ada di Medan.


❤️❤️❤️


Hari ini mereka akan pulang. Ini hari ketiga Iman menghabiskan waktu bersama Yuna dan Mayang.


Karena wahana permainan tutup, akhirnya Iman mengajak mereka mandi di salah satu pemandian yang cukup terkenal disana.


Selesai mandi-mandi, mereka berpisah mobil. Iman memeluk anak dan istrinya. Menitipkan mereka pada Mang Didi, Bik Yati dan Mai.


"Kalian masih berantem?" tanya Jamal yang sedang menyetir pada Iman yang duduk di sebelahnya. Mereka sedang jalan pulang.


"Nggak. Kenapa?" Imam mengernyit bingung.


"Kuperhatikan Mayang lebih banyak diamnya. Wajahnya juga murung. Kufikir beneran Kamu nidurin dia kemaren malam." Jamal tersenyum mengejek.


"Ya emang kutidurin lah. Masa' iya ku anggurin," ucap Iman ketus.


Iman tak menjawab, hanya wajahnya terlihat berfikir. Ia tahu, Jamal bukan tipe orang yang suka asal menebak. Walau ia dan Jamal suka berseloroh dan berbicara asal, tetapi jarang Jamal bertanya jika tak mendasar.


Iman menyadari Mayang lebih banyak diam. Iman fikir karena Mayang masih teringat akan pertengkaran mereka.


Tetapi pertanyaan Jamal membuat Iman merunut kejadian demi kejadian yang mereka lewati.


Benar. Ada sesuatu yang salah. Tapi apa? Bukankah malam pertama mereka disana Mayang terlihat bahagia saat mereka memadu kasih.


Imantak menemukan jawaban atas pertanyaan Jamal tadi.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara

__ADS_1


Iman akhirnya sampai dirumahnya. Qonita dan anak- anak menyambut hangat kedatangannya. Terlebih Qonita, entah kenapa ia menahan lama pelukan suaminya, seolah tak ingin melepas.


"Sayang," ucap Iman.


Qonita menegakkan kepalanya. Menatap wajah suaminya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Iman kaget melihat mata Qonita berair.


"Qonita rindu. Abang capek, kan? Mau istirahat?" tanya Qonita.


"Kita gabung sama anak-anak aja ya, Sayang. Aku rindu sama mereka."


Qonita merengut. "Rindu sama anak-anak, aja?"


"Hahaha..." Iman tergelak mendengarnya. "Sama anak-anak aja Aku rindu, apalagi sama bundanya anak-anak. Ya rindu banget, lah. Sabar ya, Sayang. Sekarang jatahnya anak-anak dulu. Giliran Kamu, setelahnya." Iman berbisik pada Qonita. Lalu memagut manja dagu istrinya.


Setelah tadi bermain dan bercanda bersama anak-anak. Kini giliran Iman yang akan bermain bersama istrinya. Mereka kini ada di kamar. Duduk berhadapan di tempat tidur.


"Cerita sama Aku, Sayang. Kamu, kenapa?" tanya Iman pada Qonita.


Qonita menggeleng. "Qonita gak kenapa-kenapa, Bang. Cuma rindu Abang aja."


Iman menangkup wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya. "Gak mau cerita? Apa karna Kamu lagi halangan, Sayang?" tanya Iman. Karena ketika Iman membuka laci tolet, ia melihat ada beberapa tes pack disana.


Qonita menunduk. "Maaf ya, Bang."


"Hei, Sayang. Bukan salah Kamu. Aku kan udah bilang, Aku gada masalah dengan itu. Kita udah punya tiga anak. Udah lengkap, jangan sedih."


"Udah telat dua hari sebelum Abang pergi. Qonita berharap hamil. Pas Abang pulang bisa kasih hadiah, ke Abang. Ternyata nggak, Qonita halangan. Padahal biasa gak pernah telat," ungkap Qonita.


"Gak apa, Sayang. Jangan sedih." Iman menarik Qonita ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Apa karena Aku keluar kota, Sayang? Kamu kepikiran sama Aku? Apa kepergianku menambah beban fikiranmu? Karena kisah pahit masa lalumu. Maafkan Aku, Sayang," ucap Iman dalam hatinya.


__ADS_2