
Binjai, Sumatera Utara
Qonita dan teman-temannya sudah sampai di rumah kepling lingkungan tempat Mayang tinggal. Bersyukur Bapak kepling ada di tempat.
Mereka dipersilahkan masuk, istri kepling tersebut masih ingat kepada Rani, teman anaknya.
"Begini, Om. Maksud kedatangan kami kesini ingin menanyakan perihal Bu Mayang yang tinggal di rumah no. 21. Apa benar suami Bu Mayang adalah Bapak Sulaiman?" tanya Rani pada Pak Kepling.
"Kalau boleh Saya tahu, ada kepentingan apa kalian menanyakan hal tersebut?" tanya Bapak Kepling.
" Maaf, om. Kebetulan kami tadi kumpul dan mereka hendak mengantar Rani pulang. Di tengah jalan kami melihat Bang Iman bersama seorang perempuan dan anak kecil. Sebenarnya Bang Iman itu suami dari teman Saya, Qonita." Rani menunjuk ke arah Qonita.
Qonita hanya diam dengan raut wajah yang menyedihkan.
Pak Kepling menghela nafas panjang. " Begini, mereka pindah kesini beberapa tahun yang lalu. Saat itu belum memiliki anak. Sepertinya baru saja menikah."
Qonita tak mampu menahan kesedihannya, air mata Qonita jatuh dengan derasnya.
"Suaminya menjumpai Saya saat itu. Ia menunjukkan video akad nikah mereka, agar dikemudian hari tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat ia pulang, berhubung beliau bekerja di luar kota," sambung pak kepling.
"Saya juga masih menyimpan video tersebut. Siapa tahu diperlukan untuk menjadi bukti. Mereka hanya menikah secara agama saja. Informasi yang saya punya hanya itu, saran Saya sebaiknya masalah ini diselesaikan dengan baik-baik," ungkap pak kepling.
__ADS_1
Teman-teman Qonita saling melirik. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi temannya yang sedang menangis itu.
"Baik, Om. Terima kasih banyak untuk informasinya. Kami akan memikirkan terlebih dahulu jalan terbaiknya. Kalau begitu kami mohon izin pulang, Om."
"Ya, silahkan."
Qonita dan teman-temannya kini kembali ke mobil. Rani memeluk Qonita yang masih meneteskan air matanya.
"Minum dulu, Qonita." Tasya memberikan sebotol air mineral pada Qonita.
"Tenangkan diri Kamu, Qonita. Agar Kamu bisa mengambil keputusan dengan kepala dingin. Jangan terburu-buru, karna hasilnya gak akan baik. Ada kami yang siap menemani Kamu," ucap Leni dari kursi depan.
"Qonita gak tahu harus gimana. Sakit. Rasanya sangat sakit." Qonita memejamkan matanya. Air matanya kembali tumpah.
"Baik. Abang sangat baik."
"Suami Kamu bukannya dulu juga udah pernah nikah ya, Qonita? Dan istrinya udah meninggal, kan? Jadi kenapa dia harus menikah siri?" Tasya terlihat berfikir.
"Mereka dijodohkan. Mayang ini pacar abang dulu."
"Ha? Kamu tahu?" Teman-teman Qonita terlihat terkejut.
__ADS_1
Qonita mengangguk. "Mama mertua kemaren yang cerita. Mereka gak direstui. Karna yang namanya Mayang ini anak dari musuh papa mertua Qonita."
"Makanya mereka menikah diam-diam?" tanya Rani.
"Mungkin," jawab Qonita.
"Hubungan suami Kamu sama istrinya yang dulu gimana, Qonita," tanya Leni.
Qonita yang mengusap air matanya mendadak diam tampak berfikir. "Pantes, Abang cuek ke Mba Jihan. Kata Mama, Mba Jihan menderita sampai akhir hidupnya, karena Abang gak ada perhatiannya."
"Brengs3k!" umpat Leni sambil memukul setir. "Tapi dia baik ke Kamu, kan? Rasanya mau ku hajar aja suami Kamu itu," kesal Leni.
"Hust. Tenang Len." Tasya mengingatkan.
"Jangan gegabah Qonita. Fikirkan pelan-pelan. Masalahnya adalah suami Kamu menikahnya sebelum bersama Kamu. Satu kesalahannya adalah dia gak jujur ke Kamu," ujar Rani.
"Mana berani dia jujur, siapa yang mau di madu," ucap Leni masih terlihat kesal.
"Ya, si Mayang itu. Buktinya dia cuma dinikahi siri, kan. Artinya dia tahu kalau bang Iman itu punya istri," tebak Tasya.
"Iya, bener. Atau Kamu mau kasih tahu mertua Kamu Qonita? Kan mertua Kamu gak restui mereka. Mertua Kamu, sayang sama Kamu, kan?" tanya Rani.
__ADS_1
Qonita mengangguk. "Mereka juga sangat baik. Sayang ke anak-anak, juga."
"Lapor sekarang aja, Qonita. Shareloc. Biar mertua Kamu yang urus. Gimana?" Leni memberi usul.