
Medan, Sumatera Utara
Qonita sampai di rumahnya, dia baru pulang mengajar. Ketiga anaknya sedang bermain.
"Udah pada makan siang belum anak-anak Bunda?" tanya Qonita.
"Udah, Bunda," sahut Ichy, Fuad dan Nabil kompak.
"Alhamdulillah. Tidur siang ya, Nak. Udah pada nguap, pasti ngantuk, kan?" Nabil memang sedang terlihat menguap.
"Iya, Bunda."
Qonita membawa Fuad dan Nabil ke kamarnya. Ichy tentu saja ikut. Qonita menepuk-nepuk pa ha Fuad dan Nabil agar mereka cepat tertidur. Tidak perlu waktu lama, Fuad dan Nabil pun tertidur.
Qonita mengajak Ichy ke kamarnya. Setelah sampai di kamarnya, Ichy pun berbaring. Qonita ikut berbaring di samping Ichy. Mereka tidur berhadap-hadapan.
"Ichy Sayang, gimana belajar di sekolahnya, Nak?" tanya Qonita.
""Enak Bunda. Teman Kakak baik-baik. Gurunya juga."
Qonita tersenyum mendengarnya. "Kalau Bunda baik gak, Nak?" tanya Qonita.
"Baik banget, Bunda," sahut Ichy.
"Sayang, walaupun Kakak bukan anak kandung Bunda, tapi Bunda sangat sayang pada Kakak layaknya anak Bunda sendiri. Jadi walaupun nanti kedua adek yang di dalam perut Bunda udah lahir, Bunda akan tetap sayang pada Kakak. Kakak juga sayang sama adek kembarnya kan, Nak?" tanya Qonita.
"Iya, Bunda. Kakak sayang sama adek Fuad, Nabil dan adek yang di dalam perut bunda," ungkap Ichy.
"Makasi, Sayang." Qonita membelai rambut putrinya. "Ya udah Kakak tidur, ya."
"Iya, Bunda."
Setelah Ichy tidur, Qonita meninggalkan kamar Ichy. Dia bertemu dengan Vivi.
"Gimana kuliah Kamu, Vi?" tanya Qonita pada Vivi.
"Alhamdulillah lancar, Bu," jawab Vivi.
Vivi memang sudah terdaftar menjadi mahasiswi di salah satu kampus swasta di Medan.
__ADS_1
"Tugas-tugasnya bisa Kamu kerjakan, kan Vi? Gak terganggu sama ngurus Fuad dan Nabil?" tanya Qonita.
"Alhamduillah bisa kog, Bu."
Qonita mengangguk senang.
❤️❤️❤️
Jakarta, Sumatera Utara
"Mas Agil, Poppy boleh ikut gak ke kantor Mas?" tanya Poppy pada Agil setelah mereka selesai sarapan.
"Bukannya kalian mau jalan-jalan?" tanya Agil.
"Belum, Mas. Makanya Poppy mending ikut ke kantor Mas Agil biar sekalian belajar," ujar Poppy.
"Ya udah, Kamu boleh ikut. Aku ke kamar dulu, sebentar lagi kita berangkat," imbuh Agil.
"Oke, Mas."
Agil beranjak ke kamarnya. Setelah sampai di kamar dia menghubungi nomor Mayang.
"Kamu bisa ke kantor Aku gak hari ini?" tanya Agil.
"Memangnya ada apa ya, Mas?" tanya Mayang bingung kenapa Agil menyuruhnya datang ke kantor.
"Poppy minta ikut ke kantorku. Aku gak bisa nolak. Kamu datang ya, kalau bisa dari pagi ini," seru Agil.
"Ya udah deh, Mas. Aku kesana. Tapi nanti agak siangan Aku jemput Yuna ke sekolahnya, ya," sahut Mayang.
"Oke gak masalah, kalau Aku gak ada kerjaan, kita jemput sama-sama. Sampai ketemu di kantorku."
"Oke, Mas."
Setelah mengantar Yuna ke sekolahnya, Mayang langsung menuju ke kantor Agil. Mayang memang belum pernah masuk ke kantor Agil, tetapi dia tahu dimana lokasinya.
Setelah sampai di kantor Agil, Mayang langsung bertanya pada bagian receptionist.
"Maaf, Mba. Ruangan Pak Agil dimana ya?" tanya Mayang.
__ADS_1
"Maaf, dengan Ibu siapa?" tanya salah satu pegawai perempuan.
"Saya Mayang."
"Oh, Ibu sudah ditunggu di ruangan Pak Agil. Ruangan nya ada di lantai 5, Bu. Ibu naik Lift di sebelah sana." Pegawai tersebut menunjuk ke arah posisi lift.
"Trima kasih, Mba."
"Sama-sama, Bu."
Mayang pun langsung menuju ke lift. Dia tekan angka 5. Setelah sampai dia mencari Ruangan Agil. Ada seorang perempuan yang sedang berjalan.
"Maaf, ruangannya Pak Agil yang mana ya?" tanya Mayang pada perempuan itu.
"Oh, yang itu, Bu." Perempuan tersebut menunjuk ke arah sebuah ruangan.
"Trima kasih," seru Mayang.
"Sama-sama."
Mayang mengetuk pintu ruangan Agil. Lalu dia membuka pintu. Tampak Agil sedang duduk di kursinya. Sedangkan Poppy sedang duduk di sofa.
"Sibuk, Mas?" sapa Mayang.
"Kamu udah datang?" tanya Agil berdiri menyambut kedatangan Mayang.
Mayang tersenyum lalu mendekat pada Agil. Mayang terkejut saat Agil menc1 um dahinya lalu menge cup singkat bibirnya.
"Mas," keluh Mayang.
"Aku rindu banget sama Kamu." Bukannya menghentikan aksinya, Agil malah mengulang menge cup bibir Mayang lalu dia peluk erat Mayang.
"Ehem." Poppy sengaja berdehem kuat.
"Eh, Kamu ikut kesini Poppy? tanya Mayang.
"Iya, Mba. Hitung-hitung observasi," ujar Poppy.
Mayang hanya mengangguk.
__ADS_1
❤️❤️❤️