
Medan, Sumatera Utara
Saat ini oma Herni dan opa Pras sedang berkunjung ke rumah putranya. Sudah rindu pada cucu-cucunya, itulah alasan opa Pras dan oma Herni datang.
"Oma, bener ya nanti kalau bunda udah melahirkan, nanti bunda gak sayang lagi sama Kakak?" tanya Ichy yang sedang melendot pada omanya.
"Kata siapa, Sayang? Gak benar itu," sahut oma Herni.
"Kata mamanya teman Kakak, Oma. Pas di sekolah. Katanya nanti kalau anak Bunda udah lahir, nanti bunda cuma sayang sama adek kembar aja," ungkap Ichy.
"Bukan gak sayang sama Ichy lagi, cuma nanti kan Bunda akan capek tuh ngerawat dua adek bayi. Jadi nanti Ichy, Fuad dan Nabil harus udah mandiri, ya. Kan udah jadi kakak dan abang-abang, harus udah bisa ngurus diri sendiri," ujar oma Herni.
"Iya, Oma," sahut Ichy.
Qonita baru tiba dari dapur. Dia membawakan minuman untuk mertua dan anak-anaknya.
"Diminum Ma, Pa," ucap Qonita pada mama dan papa mertuanya.
"Iya, Sayang, makasi," sahut oma Herni.
Opa Pras hanya mengangguk.
"Gimana tadi hafalan suratnya, Nak? Bisa?" tanya Qonita pada Ichy.
"Bisa, Bunda. Tadi Kakak hapal pas di depan kelas." Ichy bersemangat menjelaskan.
"Alhamdulillah, semangat terus menghafalnya ya, Nak. InsyaAllah bisa jadi hafidzah. Aamiin," imbuh Qonita.
"Iya, Bunda. Biar bisa menberikan mahkota ya, Bunda," ujar Ichy.
"Iya, Sayang." Qonita mengelus sayang rambut putrinya.
"Gimana kehamilan Kamu, Nak?" tanya oma Herni pada Qonita.
"Alhamdulillah sehat, Ma. Udah 21 minggu. Tapi jenis kelaminnya enggak kelihatan pas kemaren USG." Qonita menjelaskan pada oma Herni.
"Gak apa, Sayang. Yang penting sehat. Iman gak sering keluar kota lagi, kan? Atau lembur mungkin?" tanya oma Herni lagi.
"Enggak, Ma. Udah gak pernah. Abang jadi suami siaga." Qonita tertawa kecil mengatakannya.
__ADS_1
"Harus itu. Apalagi Kamu hamil kembar. Kalau ada apa-apa, jangan segan ngomong sama Mama." Oma Herni memang sangat sayang pada mantunya itu.
"Siap, Ma. Makasi."
❤️❤️❤️
Jakarta
Saat itu Mayang sedang ke dapur. Dia sedang membawa gelas bekas minuman mereka tadi.
"Kamu serius sama Agil, Mayang?" tanya tante Sarah yang memang sengaja menyusul Mayang ke dapur.
"Iya, Tante. Mas Agil baik. Dia juga sayang sama Yuna," ungkap Mayang.
"Apa Kamu udah cukup baik untuk Agil?" tanya tante Sarah.
"Kalau itu Mas Agil yang bisa menilainya, Tante, bukan Mayang atau pun orang lain."
"Asal Kamu tahu, orang tuanya Agil kemaren meminta Poppy untuk menjadi istrinya Agil. Dan Kami sudah menyetujuinya. Untuk itulah kami disini," ungkap tante Sarah.
"Maaf untuk kesalah pahaman ini, Tante. Tapi bukankah orang tua Mas Agil sudah menjelaskan keadaan yang sebenarnya? Dan Tante akhirnya kemari untuk jalan-jalan, bukan?" seru Mayang.
Deg
"Agil itu keponakan Saya. Saya cuma nggak mau ada orang yang memanfaatkan kekayaannya saja."
"Jangan khawatir, Tante. Keluarga Saya juga berasal dari tingkat yang ekonominya juga setara sama Mas Agil. Dan Yuna sendiri sudah punya tabungan. Papinya memberi 5 M untuknya. Jangan khawatir, papinya Yuna juga sangat kaya, Papinya gak akan melepas tanggung jawabnya pada Yuna." Mayang sengaja berkata demikian.
Deg
Tante Sarah terdiam mendengarnya.
"Ya maaf, Tante gak bermaksud seperti itu. Tante hanya ingin yang terbaik untuk Agil."
"Gak apa-apa Tante. Saya juga hanya mengatakan perihal kekhawatiran Tante saja."
"Kalau begitu Tante permisi ke depan."
"Silahkan, Tante."
__ADS_1
❤️❤️❤️
Medan, Sumatera Utara
Ketika sudah berada di kamar, Iman memanggil istrinya. Tadi dia sempat mendengar pertanyaan putrinya pada mamanya.
"Sayang..." panggil Iman.
Qonita menoleh. "Ya, Bang."
"Tadi Aku dengar anak Kamu nanyak ke Mama, kalau Kamu udah melahirkan, Kamu cuma akan sayang sama si kembar."
Deg
Qonita terkejut mendengarnya. Dia tahu yang dimaksud suaminya adalah Ichy.
"Kenapa Ichy ngomong gitu, Bang? Apa Qonita udah kelihatan mulai gak sayang sama Ichy?" Qonita khawatir tanpa sengaja dia melakukan seperti itu.
"Bukan, Sayang. Aku ngasih tau Kamu, biar Kamu bisa jelasin ke Ichy, kalau apa yang dia dengar dari luar itu gak sepenuhnya benar," ungkap Iman.
"Dari luar? Memangnya siapanyang bilang, Bang?" tanya Qonita bingung.
"Mama temannya yang bilang di sekolah."
Deg
Qonita tidak menyangka, sesuatu yang seharusnya tidak disampaikan ke anak sekecil Ichy malah disampaikan oleh orang dewasa.
Memang terkadang, para orang tua yang sedang menunggu anaknya, gemar membicarakan orang lain. Sesuatu yang sepatutnya tidak dilakukan.
"Makasih udah kasih tahu Qonita ya, Bang. Nanti mana tahu Qonita mulai berubah, tolong Abang ingatkan Qonita ya, Bang," pinta Qonita.
"Sayang, maaf. Aku kasih tahu Kamu bukan bermaksud seperti itu. Aku cuma gak mau Ichy terinfeksi omongan-omongan orang. Itu aja." Iman khawatir istrinya salah paham.
Qonita tersenyun. "Iya, Bang. Qonita tahu, InsyaAllah Qonita ngerti. Qonita cuma manusia biasa, hati manusia gampang berubah-ubah, makanya Qonita minta Abang ingatkan Qonita seandainya Qonita mulai berubah."
"Iya, Sayang. Kita saling mengingatkan, ya."
"Iya, Bang."
__ADS_1
Iman mengecup dahi istrinya.
❤️❤️❤️