
..."Bukan hal mudah untuk melepaskan atau mempertahankan apa yang semula baik, tiba-tiba berubah drastis menjadi amat buruk."...
"Jangan, Pa. Demi anak yang Qonita kandung, tolong jangan usir Abang."
Anak yang Qonita kandung? Apa maksudnya Qonita Hamil? Iman merasa terkejut akan penuturan istrinya. Baru 3 hari dia meninggalkan istrinya, dan begitu dia kembali, ada banyak hal yang terjadi.
Yang pertama, istrinya ternyata sudah mengetahui tentang Mayang dan Yuna. Yang kedua, sekarang istrinya mengaku hamil. Sejak kapan Qonita mengetahuinya? Kenapa tidak memberitahukan padanya?
"Kamu hamil, Nak?" tanya oma Herni terkejut. Qonita mengangguk.
"Ini kado dari Abang untuk Papa." Qonita mengambil selembar kertas dari kantong baju gamisnya.
Foto janinnya, hasil dari USG. Selembar kertas itu dihias dengan pita. Memang disiapkan untuk menjadi sebuah hadiah. Opa Pras mengambil foto tersebut. Melihat foto janin itu, calon cucunya.
Opa Pras memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Sungguh ia merasa bahagia. Tapi mengetahui kabar ini di saat seperti ini sungguh sangat ironis sekali bukan?
Sementara Iman terkejut lagi dibuat istrinya. Kado darinya? Bahkan dia sendiri saja baru tahu kalau istrinya sedang hamil. Bagaimana bisa itu menjadi kado darinya untuk papanya.
"Sayang..." imbuh Iman menatap pada istrinya.
Qonita mengangguk dan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Astagfirullah," pekik Qonita. Qonita merasa sesuatu keluar dari ***********.
"Kenapa, Kak?" tanya Nana bingung, tiba-tiba saja kakak iparnya itu menjerit.
Qonita memegang daerah bagian bawah dirinya, dia melihat tangannya. Tidak ada darah. Tetapi kepalanya terasa pusing. Tidak lama setelah itu badannya terkulai karena dia kehilangan kesadarannya.
Bersyukur ada Nana dan Oma Herni disampingnya, mereka dapat menangkap tubuh Qonita sehingga tidak sampai terjatuh di lantai.
"Kak."
"Qonita."
Nana dan yang lain berteriak terkejut memanggil Qonita.
"Bawa ke rumah sakit," ucap oma Herni.
Iman hendak menggendong istrinya. Namun belum sempat dia berdiri, dia malah terjatuh, entah karena terkejut dan rasa bersalah yang besar membuat tubuhnya jadi sempoyongan.
"Biar Aku, aja," ucap Jamal melihat sahabatnya itu. Jamal menggendong Qonita.
Jamal tahu pasti saat ini Iman sudah tidak tahu harus berkata dan berbuat apa pada istri sahnya itu. Kalut. Sahabatnya itu pasti sangat kalut. Terlihat dari tangannya yang bergetar menggendong istrinya tercinta.
__ADS_1
"Biar Gagah yang antar." Gagah pun keluar mempersiapkan mobil.
Mereka pergi ke rumah sakit. Nana menitipkan anak-anak pada Vivi dan Ria. Ria tinggal di rumah. Sementara Nana dan yang lain menyusul ke rumah sakit.
❤️❤️❤️
Rumah sakit
Qonita di bawa ke IGD. Setelah perawat mendengar cerita tentang apa yang terjadi pada Qonita, Qonita di bawa menuju ruangan lain untuk diperiksa kehamilannya. Hanya Iman yang ikut masuk dalam ruangan tersebut.
Awalnya Qonita diperiksa dengan USG melalui perut. Tetapi hasilnya tidak kelihatan. Iman was-was dibuatnya. Karena kehamilan yang masih muda, Dokter menyarankan menggunakan ultrasonografi transv4 g! n4l karena janin masih terlalu kecil untuk dilihat menggunakan metode 3D.
Tes USG tersrbut dilakukan dengan memasukkan probe (alat sensor ultrasound) pada bagian bawah. Setelah iman mengizinkan, dokter pun meminta perawat mempersiapkan Qonita. Perawat membantu membuka celana d4 l4m Qonita.
"Ada flek, dok," ucap Perawat kepada dokter.
Deg
Tubuh Iman lemas mendengarnya.
❤️❤️❤️
__ADS_1
..."Sungguh menyakitkan melihat orang yang sangat kamu cintai, bersedih dan terluka. Tetapi, lebih menyakitkan lagi ketika kamu mengetahui bahwa kamulah penyebabnya."...