
Medan, Sumatera Utara
Hari ini adalah hari Jumat. Qonita dan Iman berangkat kerja dari rumah opa Pras. Ichy diantar TK oleh opa Pras, tentu saja kedua adiknya dan Vivi ikut menemani. Setelah mengantar Ichy, Opa Pras membawa Fuad dan Nabil ke kantor papanya.
Sepulang kerja, Qonita kembali ke rumah mertuanya, dia sampai di rumah tepat pukul 12. Sudah ada suami, mertua dan anak-anaknya disana. Sudah berpakaian baju koko.
"Lho, Abang kog udah pulang?" tanya Qonita heran karena suaminya berada di rumah opa Pras.
"Iya, Sayang. Sekali-sekali Aku pengen sholat Jum'at bareng anak-anakku," jawab Iman.
"Ehem, bukannya karna Kamu dengar saran dari Papa, ya? Ada 2 aset bagus begini, bukannya dikawal sebaik mungkin," ujar opa Pras.
Tadi ketika mau pulang dari kantor Iman karena mau menjemput Ichy, opa Pras memang menyarankan pada anaknya agar hari ini pulang saja dan sholat Jumat dari rumah saja.
"Iya, Pa.. iya. Aku pulang karena saran dari Papa buat nemani anak-anakku Sholat Jum'at. Puas?" sahut Iman.
"Sori, Man. Cuma mama Kamu yang bisa buat papa puas. Bukan begitu, Ma?" Opa Pras mengerling pada istrinya. Oma Herni hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ocehan suaminya.
"Astagfirullah. Ada anak-anakku disini, Pa," keluh Iman. Opa Pras hanya tersenyum menyeringai.
"Sayang, tadi malam kita kan gak menjalankan sunnah rasul. Pulang Aku sholat kita tunaikan, yuk," bisik Iman pada istrinya.
"Astagfirullah, Abang." Qonita mencubit perut suaminya. Omongan suaminya ini gak kalah nakal dari omongan mertuanya tadi. Bener-bener ungkapan like father like son.
"Hahaha... maaf, Sayang. Habis papa mancing-mancing Aku. Lah Akunya gak salah donk kalau kepancing." Iman berkata dengan polosnya.
"Ehem, antena Papa bergerak-gerak. Biasa karna ada yang nyeritain," sindir opa Pras.
"Udah... udah... Ambil Wudhu sana, trus pergi." Oma Herni memutus perdebatan suami dan anaknya. Bisa panjang kalau dibiarkan.
Opa Pras, Iman, Fuad dan Nabil pun bergerak ke mesjid. Tinggallah oma Herni, Qonita, Ichy dan Vivi.
"Gimana kehamilan Kamu, Nak?" tanya oma Herni pada Qonita. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, oma Herni memang mendengar Qonita mual-mual seperti mau mun t4h.
"Yang ini mualnya lebih parah, Ma. Rasanya gak nyaman," sahut Qonita.
__ADS_1
"Ada obat anti mualnya?" tanya oma Herni.
"Ada, Ma. Susunya juga Qonita beli yang anti mual."
"Sabar ya, Sayang. Itulah keistimewaan untuk kita perempuan. InsyaAllah jadi pahala untuk kita," imbuh oma Herni, mengelus pundak mantunya.
"Aamiin," sahut Qonita.
1 jam kemudian, para laki-laki tiba di rumah.
"Ayok, makan." Oma Herni mengajak, suami, anak dan cucu-cunya untuk makan.
Mereka pun menuju meja makan.
Qonita mengambilkan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Vivi ikut membantu membantu.
"Lho, Kamu gak makan, Sayang?" tanya Iman karena istrinya tidak mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"Maaf ya, Bang. Tadi Qonita udah makan duluan."
"Iya, Pi. Adeknya laper. Tadi Bunda makannya banyak, Pi." Ichy ikut menerangkan.
Yang lain tersenyum mendengarnya. Qonita tertunduk malu.
❤️❤️❤️
Setengah jam setelah makan, anak-anak tidur siang. Tadi mereka berkumpul di ruang keluarga, bercerita bersama. Kini, Iman dan Qonita sudah berada di dalam kamar.
"Sayang, main yuk." Qonita menoleh setelah mendengar ucapan suaminya.
"Main apa, Bang?"
Iman tergelak. Akhirnya Qonita mengerti permainan yang diinginkan suaminya.
"Abang pengen?"
__ADS_1
"Iya, Sayang. Udah lama, kan? Kamu makin m0n t0k, Sayang. Aku makin gemes," ujar Iman.
"Gendut banget ya, Bang?" tanya Qonita khawatir.
"Agak berisi, Sayang."
"Tuh kan, pantes aja, bajunya udah pada gak muat. Padahal baru 6 minggu ya, kog udah terasa begini."
"Namanya lagi hamil, Sayang."
"Iya, seh Bang. Tapi yang ini agak beda, Qonita lebih cepat lapar, makanya berat badannya nambah banyak ini."
"Gapapa, Sayang. Yang penting sehat. Gimana, mau gak?" tanya Iman memastikan.
Qonita mengernyit heran. Bingung mau apa yang dimaksud suaminya.
"Mau mainnya gak, Sayang?"
Qonita menggangguk malu.
"Kamu pengen, Sayang?"
Pertanyaan suaminya membuat Qonita membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Kalau pengen kenapa gak bilang? Aku dengan senang hati kasih lho, Sayang."
"Rindu..."
"Rindu?" tanya Iman bingung.
Qonita menangguk. "Rindu mesra sama Abang."
Ya, mereka memang sudah agak jarang berc1n ta. Berawal dari Qonita masuk rumah sakit. Lalu kemaren Iman pergi ke Jakarta. Wajar saja istrinya merindukan hal melenakan yang biasa diberikan suaminya.
"Ok baby, Kamu akan kubuat menjerit n1k mat." Iman menggigit telinga istrinya.
__ADS_1
❤️❤️❤️