
Jakarta
Mayang akhirnya kembali ke Jakarta. Setelah meminta maaf pada Qonita, tidak ada lagi alasan untuk dia berlama-lama di Medan.
Deg
Mayang terkejut. Begitu sampai di depan rumah dia melihat ada mobil Agil di halaman rumah papanya.
Mayang menelan ludahnya. Dia bingung harus bagaimana. Apakah dia nanti langsung masuk dan berpura-pura tidak melihat Agil, atau menegur Agil sewajarnya saja.
"Maaf, Bu. Kita sudah sampai," ujar supir yang menjemput Mayang di Bandara. Mungkin supirnya heran kenapa Mayang masih diam saja dan tidak keluar dari mobil.
"Ya, Pak. Sebentar lagi Saya turun. Pak, apa Mas Agil semalam juga datang?" tanya Mayang pada supir.
"Setau Saya tidak, Bu. Tadi sebelum Saya pergi menjemput Ibu, Pak Agil belum datang," ujar sang supir.
"Trima kasih, Pak. Tolong bawakan barang Saya ke dalam ya, Pak."
"Baik, Bu." Supir pun turun sambil membawa barang-barang Mayang.
Sementara Mayang masih berfikir di dalam mobil, Agil datang apakah karena ada urusan bisnis dengan papanya atau bagaimana?
Andai saja tidak ada kejadian saat di puncak malam itu, Mayang akan dengan percaya diri menganggap Agil datang untuk menyambut kepulangannya. Tetapi tentu saja dia tidak bisa berfikir seperti itu, karena hubungan mereka sedang tidak baik saat ini.
"Huft." Mayang akhirnya turun dari mobil. Dia memutuskan akan tersenyum saja seandainya melihat Agil, meski mungkin Agil tidak akan membalas senyumannya.
Mayang masuk ke dalam rumah. Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Namun terdengar riuh tawa dari ruang tengah. Hati Mayang sudah dag dig dug dibuatnya.
"Mami..." teriak Yuna saat melihat Mayang. Yuna berlari menuju maminya lalu memeluk Mayang. Mayang pun balas memeluk putrinya itu.
"Mami, do'a Yuna dikabulkan Allah," ujar Yuna pada maminya. Dahi Mayang berkerut, do'a apa yang dimaksud putrinya itu.
"Yuna berdo'a agar kerjaan Om Agil cepat selesainya biar bisa datang kesini lagi bersama adek Rangga, Mi. Trus bisa main sama kita lagi. Yeay, akhirnya om Agil dan adek Rangga datang, deh. Yuna senang, Mi. Mami senang juga, kan?" cerocos Yuna.
"Iya, Sayang," sahut Yuna sungkan.
"Mami ke kamar dulu ya, Sayang," ujar Mayang.
"Lho, gak main sama adek Rangga, Mi?" tanya Yuna polos.
"Nanti Mami turun lagi ya, Sayang," jawab Mayang.
Mayang pun berjalan menuju ke lantai 2, dia harus melewati Agil dan Rangga dahulu. Mayang berhenti sejenak saat sejajar dengan Agil. Dia menatap ke arah Agil.
Deg
Hati Mayang menciut, ternyata Agil sedang memandang ke arahnya. Mayang tersenyum tipis, Agil membalas dengan sebuah senyuman yang lebar, sangat manis.
Deg
Mayang terpesona akan ketampanan Agil. Takut semakin salah tingkah, akhirnya Mayang mengangguk pertanda permisi, lalu menaiki tangga.
__ADS_1
Sedari tadi sebenarnya Agil terus memperhatikan Mayang. Hatinya tersenyum menyadari Mayang yang salah tingkah. Melihat perempuan yang sudah beberapa minggu ini dia rindukan membuat hatinya berdebar kencang. Senang, itulah yang dia rasakan.
❤️❤️❤️
Medan, Sumatera Utara
Saat dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, Qonita melihat gerobak penjual somay di depan sebuah mini market. Dia begitu berselera melihatnya.
"Berhenti, Om," ujar Qonita pada om Adi.
"Ada apa, Bu?" tanya supirnya.
"Beli somay dulu ya, Om." Qonita menunjuk ke arah penjual somay.
Om Adi tersenyum. "Baik, Bu."
Qonita pun memesan beberapa bungkus somay untuk di bawa pulang. Saat somay pesanannya sedang disiapkan, Qonita merasa haus sehingga ingin membeli minuman di mini market.
"Mas, Saya beli minuman ke dalam sebentar, ya," ujar Qonita pada penjual somay.
"Siap, Mba," sahut penjual somay.
Qonita pun masuk kedalam mini market. Qonita menuju rak minuman. Qonita memang tidak menyukai minuman dingin. Dia ambil dua botol air mineral.
Saat hendak menuju kasir, seorang laki-laki memanggil Qonita.
"Qonita..."
Deg
"Dek, Kamu lagi hamil? Selamat ya, Dek. Dapat laki-laki kaya ya, tuh mobilnya bagus begitu." Laki-laki itu menunjuk ke arah mobil yang mengantar Qonita.
Itu artinya laki-laki ini sudah memperhatikan Qonita sejak dia turun dari mobil.
"Minta uang, Dek. Abang kan udah lama gak nikmatin uang Kamu."
"Maaf, Qonita gak punya kewajiban memberikannya." Qonita melengos pergi.
"Dek, Kamu kog jadi pelit gini. Biasanya kalau Abang minta Kamu selalu kasih. Apa karna kita udah bercerai?" Laki-laki itu mengikuti Qonita ke kasir.
"Sekalian ini, Mba. Plastiknya dipisah." Laki-laki itu menyodorkan barang belanjaannya.
Pegawai kasir menatap ke arah Qonita meminta persetujuan.
"Saya yang bayar," ujar Qonita.
Mantan suaminya itu tersenyum.
Saat barang belanjaan mantan suaminya itu di scan harganya, Qonita terkejut karena salah satu yang dibeli mantan suaminya adalah alat peng am4n.
Deg
__ADS_1
Apa mantan suami ya ini sudah menikah lagi? Jikalau belum, untuk apa dia membeli alat peng am4n itu. Qonita menelan ludahnya.
"Astagfirullah..." ucap Qonita dalam hati.
Setelah membayar Qonita pun beranjak keluar. Dia langsung menuju penjual somay. Mantan suaminya itu masih terus mengikuti.
"Tiga ratus ribu aja, Dek. Abang mau beliin mainan untuk anak-anak. Rumah kalian dimana? Abang mau liat anak-anak," ujar mantan suami Qonita.
"Kalau Abang mau beliin mainan buat anak-anak ya kerja. Bukan malah minta sama Qonita," sahut Qonita.
"Ini, Mba. Somay nya sudah siap." Penjual somay menyerahkan pada Qonita.
"Berapa, Mas?" tanya Qonita pada penjual somay.
"84rb, Mba?" jawab penjual somay.
"Panggil Ibu, donk. Liat neh lagi hamil juga," bentak mantan suami Qonita.
"Oh maaf, Pak," seru penjual somay.
"Enak aja panggil Bapak. Panggil Abang," sentak mantan suami Qonita. "Buatkan 2 bungkus lagi. Dia yang bayar."
Penjual somay heran, laki-laki di depannya marah padanya karena memanggil mba pada Qonita, sementara dia sendiri minta dipanggil Abang.
Qonita menghela nafas. "Buatkan aja, Mas. Jadi berapa?"
"112rb, Mba, eh Bu." Penjual somay melirik ke arah mantan suami Qonita.
Qonita pun menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.
"Kembaliannya untuk Saya," ujar mantan suami Qonita.
"Makasih ya, Mas," ucap Qonita pada penjual somay. Dia pun beranjak pergi menuju mobil.
"Dek, uang Dek." Mantan suami Qonita menyodorkan tangannya meminta uang. "Dua ratus ribu aja." Mantan suami Qonita menurunkan jumlah uang yang dimintanya.
"Kerja, Bang. Jangan minta melulu," imbuh Qonita.
"Ya elah Dek, biasa langsung ngasih kalau Abang minta.
"Sekarang udah luar biasa, Bang," sahut Qonita.
"Kalian tinggal dimana? Minta alamatnya? Kartu nama mana, minta sini. Biasa orang kaya punya kartu nama, kan?" seringai mantan suami Qonita.
Difikiran laki-laki itu sudah dipenuhi dengan uang. Jika tidak dapat dari mantan istrinya itu, bukankah dia bisa meminta pada suami Qonita yang sekarang.
Laki-laki itu menyesal kenapa baru sekarang berjumpa dengan Qonita setelah proses perceraian mereka.
"Nanti Qonita kirim via chat. Assalamu'alaikum." Qonita pun masuk ke dalam mobil.
"Wa'alaikum salam." Laki-laki itu tersenyum licik.
__ADS_1
❤️❤️❤️