
...Bab 13 Kencan...
Selesai makan mereka lanjut menuju arena permainan anak. Tempat yang cukup luas dengan beberapa arena permainan seperti mandi bola, prosotan, tembak bola, susun lego, arena cooking, arena profesi dan trampolin.
Serta terdapat beberapa tempat duduk untuk orang tua yang ingin beristirahat sambil melihat anak bermain.
Tentu saja mereka menambah biaya pendamping anak, karena jumlah anak dua, tetapi pendamping nya berjumlah tiga orang.
30 menit setelah mengikuti anak-anak bermain, Qonita memilih beristirahat di bangku panjang yang agak sepi. Qonita bisa melihat Iman berbicara pada Vivi, tak lama berjalan ke arahnya.
"Capek?" tanya Iman.
" Sedikit," jawab Qonita. Mereka sama-sama tersenyum.
"Kenapa gak ajak Ichy?"
"Sengaja. Mau Quality time sama Kamu dan anak-anak Kamu," jawab Iman.
Qonita diam. Teringat perbincangannya sama bang Fiqri. Yang menyatakan bahwa Iman tak berinteraksi dengan anak-anaknya.
Namun bang Fiqri mengatakan mungkin belum.
Dan ternyata sekarang Iman mengajak anak-anaknya bermain. Akrab, bahkan bisa dikatakan sangat akrab.
"Mikirin apa?" tanya Iman.
Qonita menoleh. "Kamu ke rumah abang?"
"Ya, ke rumah bujing Kamu juga."
"Kenapa?"
Kali ini Iman menoleh lama. "Aku serius, Qonita. Mari kita mulai lembaran baru, Aku, Kamu, dan anak-anak."
"Kenapa harus saya? Saya dengar kamu udah dikenalin sama banyak gadis."
"Banyak banget malah," ucap Iman.
"Lalu?"
"Aku maunya Kamu, Sayang."
Qonita mendesah dan memejamkan matanya. "Kan udah dibilang jangan panggil seperti itu."
"Kan udah Ku bilang nurut aja. Aku maunya sama Kamu. Bukan sama mereka walau mereka masih gadis. Sama gadis itu susah Qonita.”
Qonita mengernyitkan dahinya.
Iman mendekatkan dirinya pada Qonita. "Susah malam pertamanya, mau diajarin cara dapetin anak laki-laki atau perempuan yang ada mereka menjerit-jerit. Hahaha..." Iman mengerling menggoda Qonita.
"Astagfirullah." Qonita menggeleng melihat tingkah Iman.
"Hahaha..." Iman makin tergelak mendengar Qonita beristigfar.
"Kan bener, kalau sama Kamu, kita sama-sama udah ngerti, langsung action gak pake ribet. Bukan begitu?" lanjut Iman.
"Hentikan. Jangan dibahas lagi," seru Qonita.
"Hal kayak gini perlu dibahas, Qonita. Ini penting." Iman semakin menggoda Qonita.
"Cukup udah cukup. Kamu gak malu disini banyak orang. Kalau mereka denger gimana?"
"Mau ke tempat yang lebih privacy? Biar kita bebas bahasnya?"
"Bang..." ucap Qonita kesal.
__ADS_1
Mereka beradu tatap
Hening
Hening
Qonita menelan ludahnya. Sadar akan 1 kata yang keluar dari mulutnya.
Sejak kapan ia memanggil 'bang' pada Iman.
"Makasih. Aku senang dengan panggilan itu. Mulai sekarang, panggil seperti itu. Kamu mau kupanggil apa, hem?"
Qonita hanya mampu menunduk. Tak berani menunjukkan wajahnya pada Iman.
"Ok. Aku panggil Kamu 'sayang' aja, ya."
Qonita yang menunduk memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan posisi Iman.
Iman tersenyum melihat reaksi Qonita.
❤️❤️❤️
Selesai bermain, Iman membawa mereka masuk ke salah satu toko mainan anak. Iman meminta Fuad dan Nabil memilih mainan yang mereka suka.
"Udah cukup, Sayang. Ini udah banyak. Di rumah kan masih banyak mainan," seru Qonita pada anak-anaknya.
"Gapapa, ambil aja. Hadiah dari Om." Iman mengerling pada Qonita.
"Jangan dibiasain."
"Huussh, udah nurut aja," seru Iman.
"CK."
"Hahaha..." Iman tertawa mendengar decakan Qonita.
"Ok, hadiah untuk Fuad dan Nabil udah. Sekarang giliran Kak Vivi dan Bunda. Mau apa?" tanya Iman pada Qonita dan Vivi.
"Saya gak usah, buat Vivi aja," jawab Qonita.
"Vivi mau apa? Baju, sepatu, jam?" tanya Iman.
"Gak usah, Pak. Makasi," seru Vivi.
"Wah, Mirip Bunda, ya. Hahaha..." Iman tertawa sambil membawa masuk anak-anak ke Toko pakaian khusus wanita.
"Vi, pilih yang Kamu suka. Terserah mau apa. Wajib. Kalau gak, kita gak pulang." Ancam Iman pada Vivi.
"Bunda juga, Om?" tanya Fuad dengan polosnya.
"Bunda nanti Om beliin SPECIAL." Menekankan kata special. "Soalnya bunda suka gak nurut." Bisiknya pada Fuad tapi masih dapat didengar Qonita.
"Cantik," ucap Nabil yang masih dalam gendongan Iman, menunjuk pakaian blink-blink yang dipasang pada patung.
"Iya, cantik kayak bunda." Iman melirik pada Qonita.
"Bunda cantik. Bunda Cantik," ulang Nabil.
Qonita menoleh pada Nabil. Tak lama pandangannya bertemu dengan Iman, mereka saling melempar senyum kecil.
❤️❤️❤️
"Ok, waktunya pulang. Kali ini, Om yang antar!" ujar Iman.
"Gak usah, makasih. Kami naik Taxi online aja." Qonita menolak.
__ADS_1
"Nurut, Sayang," tegas Iman.
Qonita terkejut Iman memanggil demikian di depan Vivi dan anak-anaknya.
"Kog Om panggil sayang ke Bunda?" tanya Fuad.
Iman dan Qonita saling melirik.
"Karna Om sayang sama bunda sama kayak Om sayang sama Fuad dan Nabil." Menggelitik dan menciumi Nabil yang kemudian terkekeh geli.
❤️❤️❤️
Qonita duduk di samping Iman yang mengendarai mobil. Vivi dan anak-anak di belakang. Tak lama Fuad dan Nabil tertidur di mobil, efek kelelahan bermain.
"Ibu dan Bapak sehat?" Qonita menanyakan kabar Oma Herni dan Opa pras.
Iman mengangguk. " Alhamdulillah sehat, mama rindu sama Kamu. Skali-skali datang donk, jangan nunggu disuruh dulu."
"Maaf, Saya gak bisa sering-sering keluar, waktu libur Saya manfaatin buat anak-anak. Kadang ke rumah neneknya juga."
"Oh iya. Aku belum pernah ke rumah mama Kamu, kapan Aku diajak kesana?"
"Kenapa mau ketemu mama?"
"Ya kenalan lah." Iman berucap tegas. Lalu mendekat dan berbisik pada Qonita. "Kenalan sama camer. Hahaha..."
Sesampai di rumah Qonita, Iman menyuruh Qonita membuka pintu. Dia akan mengangkat Fuad dan Nabil yang masih tidur.
Setelah selesai, Iman pamit pulang.
"Trima kasih untuk hari ini," ucap Qonita lalu menunduk.
"Hem, sama-sama. Makasih juga udah mau pakai jam dari Aku." Melirik ke arah tangan Qonita.
"Oh iya, tunggu sebentar." Melangkah ke arah mobil lalu menyerahkan paper bag pada Qonita.
"Ini apa lagi?" tanya Qonita. Tak mau menerima paper bag yang disodorkan Iman.
"Hadiah Special." Iman tersenyum menggoda.
"Maaf, Saya gak bisa -" ucapan Qonita langsung dipotong Iman.
"Huuusst. Nurut, Sayang." Iman menatap lekat pada Qonita dengan wajah syahdu.
"Tapi..." Qonita hendak menolak tetapi langsung dipotong Iman.
"Aku gak terima penolakan. Mulai sekarang, jangan sungkan sama Aku." Iman menatap lama pada Qonita.
Qonita lama terdiam. Dia menyadari bahwa Iman intens menatap padanya.
Tatapan Iman pada mata Qonita perlahan turun pada bibir Qonita.
"Apel fuji." Guman Iman dalam hati. Iman menelan ludahnya.
Entah kenapa, setiap melihat bibir Qonita, dia selalu tergoda. Tergoda untuk mencicipnya. Mencicip apel fuji merk Qonita.
"Ambil!" perintah Iman.
Qonita pun menerima paper bag pemberian Iman. "Makasih."
"Sama-sama. Aku pulang." Qonita mengangguk.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam." Diam menatap kepergian Iman.
__ADS_1
❤️❤️❤️