
Jakarta
Iman akhirnya memutuskan pergi bersama Qonita untuk menghadiri acara ulang tahun Yuna.
Sebelumnya Qonita sudah menanyakan pada Ichy, Fuad dan Nabil. Dan ketiga anaknya memperbolehkan mereka pergi, tentunya dengan menjanjikan oleh-oleh pada mereka.
Iman dan Qonita menuju rumah Pak Erlangga. Mayang memang meminta pada Iman agar berangkat bersama.
"Assalamu'alaikum," ucap Iman dan Qonita.
"Wa'alaikum salam, Papi." Yuna berlari menuju papinya. Iman pun merentangkan tangannya menyambut putri keduanya itu.
"Selamat ulang tahun, Sayang." Iman menc1 um Yuna.
"Papi datang sama siapa?" Yuna melihat ke arah Qonita.
Qonita tersenyum kepada Yuna. Sedangkan Iman melirik pada istrinya.
"Tante ini istrinya Papi yang sekarang, Sayang." Mayang yang menjawab pertanyaan putrinya itu.
Iman lupa menanyakan pada Mayang apakah Yuna sudah mengetahui perpisahan mereka atau belum. Seingat Iman, dulu Mayang mengatakan agar dia saja yang akan memberitahukan secara pelan-pelan kepada Yuna agar Yuna tidak kaget dan bersedih.
Mendengar ucapan maminya, Yuna melihat Qonita dengan raut wajah datar.
"Halo Yuna. Selamat ulang tahun, ya. Sehat selalu, Sayang." Qonita menjulurkan tangannya.
Yuna menyambut tangan Qonita, dengan mata yang tetap mengawasi Qonita. Entah apa yang difikirkan oleh Yuna, matanya menatap terus pada Qonita.
Mayang mengajak Iman dan Qonita untuk masuk dan duduk terlebih dahulu. Sambil menunggu barang-barang dimasukkan ke dalam mobil.
"Mas, kenalkan ini papinya Yuna dan istrinya," ujar Mayang pada Agil yang sedang duduk di ruang tamu.
"Agil." Agil berdiri dan menjabat tangan Iman dan Qonita.
Iman dan Qonita pun menyebutkan nama mereka masing-masing.
"Im, nanti kalian naik di mobil adikku, ya. Aku dan Yuna naik di mobilnya mas Agil. Papa dan Mama naik di mobil Abangku." Mayang menjelaskan pada Iman.
"Oke," jawab Iman.
"Yuna mau bareng Papi, Mi. Yuna rindu sama Papi. Boleh kan, Pi?" tanya Yuna pada Iman. Yuna sedang duduk dipangkuan papinya.
"Boleh banget, Sayang. Papi malah senang," ujar Iman.
__ADS_1
"Lho, nanti temennya Mami gak ada donk, Sayang," seru Mayang.
"Kan ada om Agil dan Adek Rangga, Mi. Atau Mami ikut di mobil Papi aja," ungkap Yuna.
Mayang melirik pada Agil.
"Kamu takut bareng Aku kalau gak ditemani Yuna?" tanya Agil menggoda Mayang.
"Bukan gitu, Mas," ujar Mayang pada Agil lembut.
"Ya udah biarin lah Yuna bareng papinya. Kasian udah lama gak jumpa. Kamu bisa quality time sama Rangga. Ehem, sama papanya juga." Agil mengedipkan matanya pada Mayang. Mayang tersenyum tertunduk malu.
'Kenapa nggak ada sedikit pun rasa cemburu ku pada laki-laki ini. Apa Aku benar-benar udah gak mencintai Mayang sama sekali.' Iman berkata dalam hati.
❤️❤️❤️
Mereka pun akhirnya berangkat. Yuna duduk ditengah antara Iman dan Qonita. Adiknya Mayang yang mengendarai mobil, di sampingnya ada seorang temannya.
"Pi, mana kado untuk Yuna?" tanya Yuna pada Iman.
"Ada, Sayang," jawab Iman pada putrinya.
"Bun, mana kadonya?" tanya Iman. Iman terpaksa memanggil 'bun' pada Qonita. Iman khawatir jika dia memanggil 'sayang' pada Qonita, Yuna tidak akan suka pada istrinya itu.
"Hati-hati, kadonya berat, Nak," ujar Qonita pada Yuna.
Yuna mencoba mengangkatnya. "Wah, berat Tante. Boleh dibuka?"
"Boleh, Sayang. Tante bantu buka, ya."
Yuna pun mengangguk. Sementara Qonita mulai membuka kertas pembungkus kadonya.
"Apa ini?" tanya Yuna heran ketika melihat isinya adalah beberapa buku tebal full warna.
"Ini buku ensiklopedia untuk anak, Sayang. Dalam buku ini ada penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan anak seusia Kamu, Nak," ujar Qonita.
"Ini apanya?" tanya Yuna menunjuk sesuatu yang mirip pulpen.
"Ini penanya. Bisa mengeluarkan suara kalau diarahkan ke bukunya. Kita coba, ya." Qonita pun memcontohkan penggunaan pena pada buku ensiklopedia tersebut.
Terdengar suara dari pena. Ada penjelasan tentang sesuatu, suara hewan, dan lain-lain.
"Wah, keren," seru Yuna.
__ADS_1
"Disimpan dulu ya, Nak. Nanti dibaca di tempat terang ya. Kalau disini kan gelap, nanti matanya bisa sakit," imbuh Qonita.
"Iya, Tante. Makasi ya, Tante."
"Sama-sama, Sayang."
"Hoam." Yuna menguap. Dia mulai mengantuk.
"Tiduran aja, Nak." Qonita menggeser tubuhnya merapat ke pintu mobil.
"Tidur sini, Sayang." Iman menepuk pahanya, agar Yuna merebahkan badannya.
"Kakinya hati-hati, awas kena perut tante ya, Sayang. Soalnya Tante lagi hamil," imbuh Iman.
"Lagi hamil, Pi? Mau ada adeknya?" tanya Yuna antusias.
"Iya, Sayang. Adik Kamu," ujar Iman.
"Kenapa jadi adiknya Yuna, Pi? Kan bukan mami yang hamil," ujar Yuna bingung.
"Karena adeknya anak Papi, Sayang."
Yuna tetap bingung. Namun karena sudah mengantuk, dia pun tidur.
❤️❤️❤️
Mereka sudah sampai dipuncak. Mayang menunjukkan kamar untuk Iman dan Qonita.
Qonita merebahkan badannya. Perjalanan yang cukup lama bagi ibu hamil, membuat kaki dan pinggang Qonita terasa pegal.
Iman memijat kaki Qonita. Qonita yang sempat memejamkan matanya jadi membuka matanya.
"Gak apa, Bang. Qonita cuma ingin istirahat sebentar," ujar Qonita.
"Sebentar aja Aku kusuk ya, Sayang. Gantian donk. Kemaren-kemaren, pas Aku pulang kerja, Kamu pijatin Aku. Sekarang istriku lagi hamil, ya Aku pijatin donk. Biar pegalnya hilang."
Qonita tersenyum. "Makasi ya, Abang Sayang. Nanti kalau capek berhenti aja ya, Bang. Qonita tidur sebentar, ya."
"Iya, sayang. Tidur aja, ya."
"I love you, hubby."
"I love you too, sweety."
__ADS_1
❤️❤️❤️