
Tak lama Fiqri dan rombongan terlihat pulang dari mesjid.
Mereka kembali duduk di kursi ruang tamu.
"Assalamualaikum." Terdengar ucapan dari luar.
"Waalaikum salam." Jawaban dari beberapa orang dari dalam rumah.
"Silahkan masuk, Bu Herni. Wah, yang cantik ini siapa?" tanya Bujing Jelia menatap anak perempuan yang ada disamping oma Herni.
"Ichy, anak Saya bujing," sahut Iman yang ikut berdiri begitu mengenal suara yang memberi salam tadi.
"Salam dulu, Sayang," ucap Iman melihat kearah anaknya. Mereka pun bersalaman.
“Ini suami Saya, Bu," ucap oma Herni.
"Pras," ucap opa Pras sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan bujing Jelia.
"Saya Jelia, bujingnya Qonita. Duduk dulu, Pak Pras." Mempersilahkan opa Pras duduk bergabung bersama para kaum Bapak di ruang tamu.
"Bu Herni dan Ichy kita kesini aja, ya," ucap bujing Jelia sambil berjalan mengarah ke ruang tengah. Oma Herni dan Ichy mengikuti bujing Jelia.
"Ini, Bu," oma Herni menyodorkan buah tangan yang dibawanya kepada Bujing Jelia.
"Wah, kog repot-repot. Makasih Bu," jawab bujing Jelia.
"Bunda." Teriak Ichy begitu melihat Qonita.
Berlari ke arah Qonita dan langsung memeluknya. Begitu pun dengan Qonita, yang langsung mendekap Ichy dalam pelukannya.
"Apa kabar, Sayang? tanya Qonita sambil membawa Ichy berjalan ke arah Oma Herni.
"Sehat, Bunda. Papi gak asik bunda, datang duluan," keluh Ichy. Yang lain tertawa mendengarnya.
"Sehat, Bu?" tanya Jelia sambil menyalam Oma Herni.
"Alhamdulillah sehat, Sayang."
"Ini kenalin Mama, Uwak dan Bujingnya Qonita." Bujing jelia memperkenalkan satu persatu lalu mereka bersalaman.
“Silahkan dimakan, Bu," ucap Bujing Jelia pada Oma Herni.
"Terima kasih, Bu."
"Ichy mau es krim, Nak?" tanya Qonita pada Ichy yang dijawab dengan anggukan.
"Ada acara tadi, Bu?" tanya Bujing Jelia pada Oma Herni.
"Iya Bu, sepupunya Iman ada yang hantaran. Tadi acaranya belum selesai. Makanya Iman, kami suruh datang duluan, soalnya agak sedikit alot tadi," ujar Oma Herni sambil menyeringis.
“Habis sepupunya, menyusul Iman ya Bu, Haha..." sela Bujing Tika.
__ADS_1
"Semoga, Bu. Aamiin," seru Oma Herni.
"Aamiin," ucap Bujing Jelia.
"Kenapa bang Iman, Ma?" tanya puput yang baru datang dari arah samping.
"Kepo," sahut Sari sambil mengejek.
"Kalo masih ada stok yang kayak Iman kenalinlah, Bu. Disini banyak anak gadisnya," ujar Bujing Tika pada Oma Herni dan mengabaikan pertanyaan putrinya itu.
"InsyaAllah, Bu," jawab Oma Herni.
Puput mengarahkan pandangannya pada Oma Herni. "Ibu ini, siapa?"
"Saya mamanya Iman."
"Oh, pantesan bang Iman ganteng, mamanya cantik gini. Masih muda lagi, cocok jadi kakaknya bang Iman." Puput mendekat dan menyalam Oma Herni. Oma Herni hanya tersenyum.
"Anaknya bang Iman gak ikut, Bu?" tanya Puput.
"Ikut. Itu, lagi sama Qonita."
"Ya Allah, cantik kali, ini siapa namanya? Sini sama Tante." Kali ini mendekat pada Ichy, berusaha mengambilnya dari pangkuan Qonita.
"Kakak gak mau, Bunda," seru Ichy sambil memegang tangan dan baju Qonita agar tak bisa ditarik Puput.
"Eh, gapapa, Tante baik kog. Ayok Tante ajak main sama yang lain disana." Menunjuk ke arah samping.
Ichy menggeleng.
"Enggak, biar anak-anak main disana. Ayok, siapa tadi namanya, Ichy ya. Ayok Tante kenalin sama kawan-kawan." Menarik paksa Ichy.
Ichy tertarik ke arah Puput. "Huuaaaa... Huu uuuu..." Ichy pun akhirnya menangis kuat. Puput terdiam.
Qonita langsung mengambil dan memeluk Ichy. "Gapapa, Sayang. Udah jangan nangis, ya."
"Kenapa?" tanya Iman yang sudah ada di ruang tengah, karna begitu mendengar suara tangisan Ichy dia langsung menuju asal suara.
"Tantenya jahat, Pi." Tangan Ichy menunjuk pada Puput.
Iman menghela nafas. "Gapapa, Sayang. Kan ada Bunda. Katanya kangen ama Bunda."
"Papi juga kan kangen ama Bunda. Kog malah duduk disana?" Ichy menunjuk arah ruang tamu.
Deg
Iman terdiam mendengar kepolosan putrinya.
"Hahahah... Jadi Ichy sama Papi sama-sama kangen sama Bunda Qonita, ya?" tanya bujing Tika meledek.
"Iya, Nek," jawab Ichy.
__ADS_1
Iman menggaruk kepalanya sambil melirik Qonita.
Oma herni tersenyum.
Qonita menunduk.
"Ichy jangan takut sama Tante, Sayang. Tante sepupunya Kak Qonita, lho," seru Puput. "Sini sama Tante, yok. Tante gak jahat kog, cuma mau ajak main."
"Gak mau. Ichy mau ama Bunda," teriak Ichy.
Iman menghapus wajahnya. Bingung bagaimana memperlakukan sepupu Qonita yang berbeda sendiri itu.
"Biarin dia sama Qonita, Put. Ichy sayang sama Qonita. Begitu juga dengan Papinya," ucap Iman datar lalu kembali ke ruang tengah.
❤️❤️❤️
Iman POV
Hari saat bujing Jelia mengadakan syukuran dirumahnya, bersamaan dengan hantaran Dhini, adek sepupuku.
Papa dan mama mengatakan bahwa kami harus menghadiri acara di rumah Tante Mia dulu. Baru setelah itu ke rumah Bujing Jelia.
Ahh, sebenarnya pengen kesana dari pagi, mumpung ada jalan ketemu dengan keluarganya.
Namun, pembahasan akan acara lamaran itu berlangsung cukup panjang, pertanyaan ini dan itu semua diajukan. Agar jelas semua begitu kata mereka. Huuhht. Gak tau apa, aku udah kebelet pengen pergi aja.
Akhirnya melihat waktu, mama menyarankan agar aku pergi terlebih dahulu.
Lumayan banyak juga, keluarganya. Bujing Jelia memang sangat pengertian, aku dikenalkan pada semua. Dan, saat dikenalkan pada mamanya Qonita, aku memanggil beliau dengan 'nantulang'.
Om Ferdi yang mengajariku. "Nanti ketemu mamanya, panggil 'nantulang'," ucap om Ferdi.
"Kog nantulang?" tanyaku bingung.
"Biar mamanya langsung tau, kalo Kau serius dekatin anaknya. Begitu Kau harus panggil mamanya kalo jadi sama dia. Kalo papanya masih ada Kau panggil 'tulang'."
Ada untungnya Aku ikut ke acara hantarannya Dhini, hahha...
Yang buat kesel itu adek sepupunya Qonita. Apa-apaan caper sama Aku dan Ichy. Sampe buat Ichy nangis segala. Hahaha, anak kecil aja tau mana yang baik mana yang jahat, untung Ichy gak nyebut dia 'mak lampir'.
Kupikir setelah kubilang bahwa Aku dan Ichy menyukai Qonita, dia akan diam, gak bawel dan sibuk mendekatiku. Ternyata aku salah.
Ketika aku permisi mau ke kamar mandi, eh ternyata dia nungguin Aku. Keluar dari kamar mandi, dia malah sengaja mendekatiku.
"Abang suka sama kak Qonita?" tanyanya.
"Iya, untuk itulah Aku dan keluargaku disini," jawabku.
"Kak Qonita kan janda, Bang. Cerai sama suaminya. Abang kan bisa dapat yang gadis. Lagian kak Qo -"
Langsung kupotong saja kebawelannya itu. Males Aku lama-lama.
__ADS_1
"Aku duda, Qonita janda, cocok donk. Nah kalo gadis cocoknya sama lajang. Apa jangan-jangan gada lajang yang mau sampe sibuk ngejar-ngejar duda," jawabku kemudian berlalu.
Gak tau apa dia, Aku udah nolak berapa perempuan yang berpuluh kali lipat jauh diatas dia. Cih, mau ngata-ngatain Qonita lagi. Kalo gak ingat disana ada Qonita, udah habis dia kubuat.