PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 66 Kota Dingin, Brastagi


__ADS_3

Bab 66 Kota Dingin, Brastagi


Hari ini adalah jadwal berkunjung ke rumah nenek Tari. Mereka datang dari pagi dan pulang saat sore hari.


Iman dan Qonita sudah ada di kamar. Seperti biasa, mereka bercerita sambil berpelukan di tempat tidur.


"Sayang, Aku ada urusan ke Semarang. Pergi sama Jamal. Tiga hari. Boleh?" tanya Iman pada istrinya.


Qonita menegakkan kepalanya. Sekarang ia bisa melihat wajah suaminya.


"Keluar kota, lagi?" tanya Qonita kaget.


"Iya, Sayang. Kalau gak boleh..." Kalimat Iman terpotong karena Qonita bersuara.


"Ya udah, gapapa. Urusan kerjaan kan, Bang?" tanya Qonita memastikan.


Iman mengangguk datar.


Qonita kembali membaringkan tubuhnya dengan berbantalkan lengan suaminya. Wajahnya menyentuh dada suaminya. Qonita tidak bisa melihat wajah suaminya.


Ekspresi Iman datar. Dia telah berbohong pada istri yang sangat dicintainya. Hatinya berkecamuk, penuh rasa bersalah.


"Maafkan Aku, Sayang," ucap Iman dalam hati.


❤️❤️❤️


Binjai, Sumatera Utara


"Jadi, hari ini Yuna gak TK, Mi?" tanya Yuna pada Mayang, maminya.


"Iya, Sayang. Kita mau jumpa sama papi. Papi udah nunggu disana. Mami udah permisikan Kamu ke guru TK, Sayang."


"Asyik," teriak Yuna senang. Mayang tersenyum melihat kegembiraan anak semata wayangnya.


Mayang memang tidak memberitahukan Yuna sebelumnya. Mayang khawatir jika ternyata Iman tidak bisa datang. Ia takut membuat kecewa putrinya. Ia mendapat telfon dari Jamal semalam sore.


Perlengkapan yang akan dibawa sudah dipersiapkan. Mereka akan pergi semua, termasuk Bik Yati dan Mai. Mang Didi yang menjadi supirnya.


❤️❤️❤️


Brastagi, Sumatera Utara


Setelah 2,5 jam perjalanan, rombongan Mayang telah sampai di penginapan di daerah dingin, Brastagi.


Setelah mereka turun, Mayang langsung mengajak mereka masuk menuju bagian receptionist. Ternyata Iman dan Jamal sudah menunggu disana


"Papi," teriak Yuna berlari menuju papinya.


"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap Iman sambil memeluk dan mencium kepala putrinya.


"Wa'alaikum salam, Papi. Maaf Yuna lupa lagi. Abis senang banget seh, jumpa ama Papi." Yuna terkekeh kecil.


"Iya, Sayang. Makanya doain papi ya, biar kerjaannya lancar. Trus kita bisa sama-sama. Jangan ngambek, kalo ditinggal." Iman mengusap acak rambut Yuna.


"Iya, Pi." Yuna tersenyum manja.


Iman melihat Mayang sedang memperhatikan mereka. Iman mendekati Mayang. Ia menarik Mayang ke dalam pelukannya, lalu mencium kening Mayang.


"Im," ucap Mayang lirih. Mayang masih merasa canggung akibat pertengkaran mereka kemarin. Ia takut Iman masih marah padanya.


"Ayo, masuk," ajak Iman.

__ADS_1


Mereka pun masuk. Iman sudah memesan satu ruang besar. Ada 6 kamar disitu. Tetapi mereka hanya menggunakan 4 kamar saja.


Iman dan Mayang menempati kamar yang sama. Yuna akan tidur bersama Mai. Jamal tidur sendiri. Sedangkan bik Yati dan Mang Didi satu kamar karena mereka suami istri.


Setelah menyusun barang, mereka keluar menuju ruang tamu, ada 2 set sofa disana.


"Kita nginap berapa lama disini, Pi?" tanya Yuna pada papinya.


"Dua hari, Sayang. Kita puas-puasin main disini. Hari ke tiga, kita cari wahana permainan yang buka. Kalau gada kita mandi-mandi aja, lalu pulang," ungkap Iman.


"Asyik, padahal gak libur ya, Pi. Tapi kita malah liburan." Yuna terlihat sangat senang.


"Iya, Sayang. Makanya jangan iri ama teman Kamu, ya. Neh, buktinya kita senang-senang, mereka nggak, kan."


"Iya, Pi."


Iman mengajak mereka berkeliling. Mereka hanya menggunakan 1 mobil saja. Mang Didi sebagai supirnya. Jamal duduk di samping mang Didi. Yuna duduk di bangku tengah diapit oleh papi dan maminya. Sementara bik Yati dan Mai duduk di belakang.


"Mau naik kuda gak, Yuna?" tanya Jamal. "Kalau mau, kita berhenti disitu." Jamal menunjuk arah parkiran mobil.


"Mau, Om."


"Berani, kan?" tanya Jamal sambil melirik ke belakang.


"Nanti naik sama Tante Mai. Ya kan, Tante?" tanya Yuna melihat ke belakang.


"Iya," jawab Mai.


Mank Didi pun memarkirkan mobil. Iman membawa anaknya agar bermain kuda. Setelah membayar, Yuna dan Mai pun menaiki kuda berwarna coklat. Kuda mereka berjalan. Mayang sempat mengambil foto anaknya.


Setelah Yuna tidak terlihat, Iman terlihat mencari tempat.


"Kesitu aja, Bro." Iman menoleh saat pundaknya ditepuk Jamal. Ia melihat ke arah yang ditunjuk Jamal.


Mayang pun mengangguk.


"Iman mau kemana?" tanya Mayang pada Jamal setelah kepergian Iman.


"Kamar mandi," sahut Jamal.


Mayang tersenyum sambil menggeleng. "Kenapa harus nutupin, seh?"


"Apa?" tanya Jamal datar.


"Mau hubungin istrinya, kan?" tebak Mayang.


Jamal menghela nafas. "Terkadang, lebih baik diam agar semuanya berjalan lancar. Pura-pura tidak tahu, juga salah satu agar hati tidak merasa sakit yang lebih dalam," ujar Jamal.


"Sedari dulu, Kamu nggak mendukung Aku," ucap Mayang terus terang.


"Aku gak benci Kamu. Aku cuma kasian sama sahabatku."


"Aku dan Yuna yang korban disini," ucap Mayang dengan sorot mata tajam.


"Dulu. Tapi kalau sekarang, Qonita korbannya." Jamal menghadap lurus kedepan.


"Dia memiliki Iman seutuhnya. Kurang apa lagi dia, hah?"


"Nggak utuh, karna sekarang Iman sedang bersama Kamu."


"Tiga hari. Waktunya bersamaku cuma tiga hari. Sementara dia?" ucap Mayang kesal.

__ADS_1


"Kamu yang memilih posisi ini. Sementara Qonita sama sekali nggak mengetahuinya."


"Kalau gitu coba kasih tau, aja." Mayang terpancing emosinya, karena merasa Jamal tidak pernah mendukungnya.


"Kamu, yakin?" tanya Jamal menghadap ke arah Mayang.


Deg


Mayang terdiam.


"Kamu gak akan cerita ke Iman, kan?" tanya Mayang khawatir.


"Tentang apa?" Jamal tersenyum menyeringai.


Mayang nenelan ludahnya.


"Aku gak mau kehilangan Iman. Setelah semua pengorbananku, penderitaanku dan Yuna."


"Kalau gitu, jaga sikapmu."


"Kamu cuma asistennya."


"Benar, Aku babu disini. Tapi Aku..." Jamal berhenti bicara karena melihat Iman sedang berjalan ke arahnya.


"Mereka belum sampai?" Iman bertanya apakah Yuna dan Mai sudah sampai.


"Belum," sahut Jamal.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


Qonita POV


HP ku bergetar. Kulihat layar HP, tertera nama 'Suamiku'. Aku langsung menggeser tanda menjawab panggilan.


"Assalamu'alaikum, Abang. Udah sampai?" ucapku.


"Udah, Sayang. Maaf baru kasih kabar. Aku rindu."


"Is, kog Abang duluan seh, yang bilang," ucapku manja.


"Hahaha, ya udah kita ulang lagi, ya. Assalamu'alaikum, Makmum ku."


"Wa'alaikum salam, Imam Qonita. Abang, Qonita rindu." Aku tertawa kecil setelah mengucapkannya.


"Sama, Sayang. Aku udah hampir mau pesan tiket balik pulang, neh."


Aku mencebik mendengar ucapan suamiku. Sayang ini bukan video call. Bang Iman biasa akan langsung mengalihkan ke video call kalau kondisinya memungkinkan, makanya Aku nggak memintanya melakukan video call.


"Abang hati-hati disana. Jaga diri dan jaga kesehatan. Do'a Qonita selalu untuk Abang. Semoga Allah melancarkan segala urusan Abang. Dan Abang senantiasa dalam lindungan Nya. Aamiin."


"Aamiin. Begitu juga dengan Kamu dan anak-anak, Sayang. Aku pergi dulu ya, Sayang."


"Iya, Bang. Hati-hati."


"I love you, my heart." Aku tersenyum mendengarnya.


"I love you too, my king."


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam."


❤️❤️❤️


__ADS_2