
Brastagi, Sumatera Utara
Seharian Iman mengajak rombongannya berkeliling. Semua sudah masuk ke kamar masing-masing guna mengistirahatkan tubuh. Mata sudah mulai mengantuk dan badan sudah lelah.
Iman dan Mayang berada di kamar mereka. Mayang jelas tidak akan membiarkan waktu berharga berdua dengan Iman terbuang sia-sia.
"Im," ucap Mayang sambil mendekat pada Iman yang sedang duduk di ujung tempat tidur.
"Hem." Iman meletakkan HP nya. Lalu men-charge HP nya itu.
"Kamu masih marah sama Aku?" tanya Mayang sendu.
"Nggak." Iman menatap wajah istrinya.
"Aku sangat merindukanmu, Im. Maafkan, Aku." Mayang memeluk tubuh suaminya. Menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Jangan berfikir cuma Kamu yang berat menjalaninya, Yang. Aku pun sama." Iman mengelus rambut istrinya.
"Iya, maafkan Aku." Mayang mengecup bibir suaminya.
Iman menangkup wajah istrinya. Memberi balasan pada apa yang dilakukan istrinya. Lama mereka saling memagut. Hingga akhirnya Mayang membuka kaus hitam yang dipakai Iman.
Lama mereka melakukan pemanasan. Iman tak kunjung memasuki istrinya. Ia memegang keningnya.
"Kenapa Aku malah memikirkan Qonita. S!al, Aku malah membayangi bercinta dengan Qonita," umpat Iman dalam hati.
Iman berusaha mengenyahkan pikirannya pada Qonita. Tapi malah membuat ga!rahnya menurun. Ia bisa melihat Mayang sudah berada pada kondisi sangat menginginkan. Hingga ia membiarkan fikirannya seolah-olah ia sedang bergumul bersama istrinya yang berada di Medan itu.
Mayang merasakan nikmat yang luar biasa setelah sekian lama ia tak lagi mendapatkannya. Jarangnya pertemuan serta pertengkaran mereka kemaren, membuat dirinya lama tak disentuh oleh suaminya itu.
Entah mengapa Mayang merasa Iman terlihat berbeda. Lebih agresif dari biasanya. Ia menyukainya. Hingga akhirnya Iman mengerang setelah mendapatkan pelepasannya.
"Sayang," ucap Iman setelah mencapai puncaknya. Lalu ia berbaring setelah memberikan kecupan di kening Mayang.
❤️❤️❤️
Tok tok tok
__ADS_1
Jamal mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Jamal, ini Aku." Iman berucap setelah mengetuk pintu sebanyak 3 kali.
Cekrek
Pintu kamar terbuka. Wajah Jamal terlihat sayu, mungkin ia sudah tertidur tadi.
"Ada apa, Bro. Gilak, tidur Gue diganggu," sungut Jamal.
"Maaf, Aku butuh tumpangan beberapa menit." Iman tersenyum jahil.
"Bukannya ngelonin istri Lo yang udah lama gak dibelai, malah kemari." Jamal merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Ya udah kutidurin, lah. Begitu udah tidur, ya kutinggal. Mau nelpon sayangku dulu. Kangen, neh," seringai Iman.
"Busyet, kamar 2 lagi kosong. Kenapa gak kesana aja, seh."
"Emang sengaja kesini, biar Qonita gak curiga. Berarti kan tidurnya bareng, Kamu." Iman tersenyum penuh kemenangan.
"Ck." Jamal mendecak.
Karena tadi sebelum mengetuk pintu kamar Jamal, Iman terlebih dahulu menghubungi asprinya itu, ternyata nomornya sedang tidak aktif. Sehingga Iman akhirnya mau tidak mau mengetuk pelan pintu kamar Jamal, agar tidak mengganggu yang lain.
"Gak usah diajarin, Gue udah duluan nelfon anak binik Gue. Tuh, HP Gue non aktifin setelah selesai menghubungi mereka. Maksud hati biar gada yang ganggu, tapi apa daya ada orang gak punya perasaan sama sekali. Hobinya ganggu melulu."
"Itulah gunanya sahabat. Hahaha..."
"Brengs3k," umpat Jamal.
❤️❤️❤️
"Assalamu'alaikum," ucap Qonita di saluran HP Iman. Tentu saja Jamal juga bisa mendengarnya. Karena Iman melakukan panggilan video.
"Wa'alaikum salam, Sayang." Iman menjawab salam istrinya. "Kamu udah tidur?"
"Belum, Bang. Lagi nungguin telfon dari Abang." Qonita tersenyum.
__ADS_1
"Maaf lama, Sayang. Lain kali gak usah nungguin Aku, Sayang. Tidur aja, ya. Biar badan Kamu vit besok. Kan harus kerja."
"Qonita kepikiran Abang. Qonita rindu. Kayak Abang manggil-manggil nama Qonita, gitu."
"Ya jelas lah, Sayang. Di setiap detak jantungku, kusebut namamu," ucap Iman. Walau ia sebenarnya kaget. Apa mungkin Qonita bisa merasakan ketika ia membayangkan Qonita saat beradu bersama Mayang tadi.
"Gombal." Qonita mencebikkan bibirnya.
"Beneran, Sayang. Buktinya Kamu bisa ngerasain, kan. Aku tuh disini kepikiran Kamu terus. Rindu serindu-rindunya, Aku neh."
"Uek." Jamal merasa mau muntah mendengar omongan lebay Iman pada Qonita. Sedari tadi ia ingin protes saat mendengar gombalan-gombalan sahabatnya itu.
"Ck. Ada nyamuk, Sayang. Besar banget. Baru kenyang ngisap darah, trus langsung teler."
"Apa tidur Bang Jamal keganggu karna kita, Bang?" tanya Qonita sungkan. Karena waktu memang sudah hampir menunjukkan pukul 11 malam.
"Nggak lah, Sayang. Dia malah seneng dengar suara kita. Soalnya dia sekalian mau belajar caranya romantis ke istrinya."
"Ge-er banget," ejek Qonita.
"Ya udah, Sayang. Kamu istirahat, ya. Besok pagi kan harus kerja."
"Iya, Bang. Abang juga istirahat, ya. Maafin Qonita ya, Bang. Abang ridho ama Qonita kan, Bang?"
"100% ridho, Sayang. Maafin Aku juga, ya."
"Iya, Bang. Qonita maafin," ucap Qonita tersenyum lebar.
"Lho, emang Aku ada salah apa, Sayang?" tanya Iman bingung.
"Salah Abang buat Qonita jadi sakit." Qonita menampakkan wajah murung. Iman mengernyit melihatnya. "Sakit malarindu," ujar Qonita manja.
"Ya Allah, Sayang. Kamu tuh, ya. Buat kaget, aja. Untung Aku gada sakit jantung, Sayang."
"Hahaha..." Qonita terkekeh. "Ya udah ya, Bang. I love you, mmuaach."
"I love you too, my love. Mmuaach."
__ADS_1
❤️❤️❤️