PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 112 Qonita dan Mayang


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Qonita berjalan beriringan menuju luar gerbang sekolah. Om Adi selalu menunggu Qonita di luar dan mobil Mayang juga ada diluar.


"Om, kita ke Rainbow Cafe, ya. Nanti diujung belok kiri, jalan 100 meter langsung nemu, kog," ujar Qonita.


"Mau ngapain kesitu, Bu. Pak Iman udah tahu?" Om Adi memang sengaja bertanya demikian, karena dia tadi melihat Mayang bersama Qonita. Om Adi pernah melihat Mayang beberapa tahun yang lalu, karena dulu dia bekerja di rumah Opa Pras.


"Tadi saya udah bilang ke Abang, Om."


Ya, tadi Qonita memang mengirim pesan pada suaminya bahwa dia akan singgah sebentar di Rainbow Cafe di dekat sekolah dia mengajar. Dan suaminya sudah mengizinkan. Tentu saja Qonita tidak mengatakan bahwa dia akan berbicara dengan Mayang.


Sesampainya di Rainbow Cafe, hanya Qonita yang turun. Qonita sudah menawarkan pada Om Adi untuk mencicipi makanan dan minuman disitu, tetapi Om Adi menolak karena tadi sudah makan siang di rumah sebelum menjemputnya.


Qonita menunggu Mayang, mereka pun masuk bersamaan.


Setelah memilih tempat yang dipojok, mereka memesan minuman dan makanan ringan.


"Mungkin Kamu udah tahu siapa Saya. Saya ada disini untuk membicarakan hak Saya dan anak Saya." Mayang membuka obrolan dengan to the point.

__ADS_1


Qonita tersenyum. "Saya memang sudah mengetahui Mba beberapa bulan yang lalu. Tapi maaf, Saya nggak tahu mengenai hak Mba dan Anak Mba. Coba Mba tanyakan itu pada suami Mba. Karena suami Saya nggak pernah membicarakannya dengan Saya."


Deg


Mayang terkejut dengan jawaban Qonita.


"Saya meminta pengertian Kamu. Sebagai sesama perempuan Kamu pasti bisa merasakan bagaimana sakitnya di posisi Saya," ujar Mayang.


"Sepertinya Saya yang seharusnya berkata seperti itu, Mba. Karena dari awal Saya yang nggak mengetahuinya. Beda sama Mba yang memang tahu kenyataannya."


Deg


"Kami terpaksa melakukannya. Andai keluarga gak menentang kami, harusnya kami udah hidup bahagia bersama."


"Saya pun sama, Mba. Terpaksa menerima dengan ikhlas yang udah terjadi. Kenapa Mba gak ikhlaskan aja seperti sebelum-sebelumnya?"


Deg


Lagi dan lagi Mayang terkejut mendengar ucapan Qonita.

__ADS_1


"Karena semua udah mengetahuinya. Baik Kamu, keluarga Iman dan keluarga Saya."


"Masalah Mba bukan dengan Saya. Tapi dengan Abang dan keluarganya. Mba salah meminta pada Saya. Karena Saya nggak pernah melarang Abang bersama Mba."


Deg


"Kalau Kamu nggak melarangnya, mana mungkin Iman udah jarang menginap di rumah Saya sejak dia menikah sama Kamu. Kamu ngerti agama, harusnya Kamu tahu gimana caranya suami yang berlaku adil pada kedua istrinya."


Qonita tersenyum mendengarnya. "Karena Saya mengerti agama makanya Saya mengikhlaskan semuanya. Saya diam walau Saya udah mendapati Abang bersama Mba. Saya jadikan ini sebagai ladang pahala bagi Saya," imbuh Qonita.


"Saya gak bisa ungkapin usaha Saya agar Abang terhindar dari dosa karena dia tidak berbuat adil pada kedua istrinya, karena Mba gak akan bisa menerimanya," sambung Qonita.


"Sayyidina Ali Bin Abi Tholib berkata : Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu," ungkap Qonita.


Suara HP Mayang berdering. Mayang melihat layar HP nya. Suaminya yang menghubunginya. Mayang melirik pada Qonita. Mayang menolak panggilan suaminya.


Qonita melihat layar HP nya. Ada 3 Missed Call dari suaminya. Dia memang terbiasa men-silent HP nya jika sedang bekerja.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2