PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 135 Fokus Pada Kebahagiaan Aja


__ADS_3

Pagi hari ini mereka sarapan di penginapan. Setelah itu duduk-duduk di ruang tamu.


"Tante, bukunya bagus ya, keren. Yuna suka." Yuna menyapa Qonita yang baru saja tiba di ruang tamu bersama Iman. Sedangkan Yuna terlihat asyik memainkan kado dari papinya, ia memperhatikan dengan fokus suara dari pena, serta gambar buku ensiklopedinya.


Tentu saja anak seusia Yuna menyukai buku tersebut. Buku itu dikemas semenarik mungkin, berwarna dan bergambar.


"Alhamdulillah kalau Yuna suka. InsyaAllah bermanfaat untuk Yuna ya, Sayang." Qonita duduk di sebelah Yuna. Dia mengelus sayang rambut Yuna.


"Bukunya cuma ini aja ya, Tante?" tanya Yuna antusias.


"Sebenarnya ada 4 paket, Sayang. Tapi tante cuma beli 2 paket aja, soalnya bawanya berat."


"Yah, padahal Yuna suka." Yuna memanyunkan bibirnya.


"Yuna mau lagi? Nanti Tante beliin online aja ya, langsung dialamatkan ke rumah Yuna. Mau?" Qonita menawarkan pada Yuna.


"Bener, Tante?" tanya Yuna bersemangat.


"Iya bener, Sayang," ujar Qonita.


"Yeay... Asyik. Makasi ya, Tante."


"Sama-sama, Sayang." Qonita tersenyum bahagia melihat Yuna menyukai hadiah pilihannya.


Iman yang duduk di samping istrinya, berbisik pada Qonita.


"Kamu tuh emang beda ya, Sayang. Kemaren Ichy yang berubah haluan jadi sayang Kamu dan melupakan Aku. Sekarang Yuna juga gitu. Aku gak tahu harus senang atau sedih, Sayang," ujar Iman.


"Abang apaan seh." Qonita terkekeh melihat protes manja suaminya.


Sementara Mayang sedari tadi memperhatikan Yuna yang terlihat bahagia berbicara dengan Qonita. Sedangkan Agil memperhatikan Mayang yang raut wajahnya menunjukkan ketidak senangan.


"Kata orang, rumput tetangga memang terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri," seru Agil pada Mayang.


Mayang mengernyit. Bingung dengan maksud ucapan Agil.


"Jangan cemburu melihat mereka, orang lain yang melihat kita juga akan menilai kita adalah keluarga bahagia." Agil tersenyum menggoda.


Mayang akhirnya mengerti. Saat ini Mayang sedang bersama Agil dan Rangga. Mungkin orang yang melihat mereka juga akan berfikir mereka adalah keluarga yang harmonis.


"Jangan tumbuhkan kebencian pada masa lalu mu, Mayang. Hidupmu gak akan tenang dan bahagia. Raih aja kebahagiaanmu dan Yuna. Jangan urusi hidup orang lain, apalagi jika hal itu dapat menyakiti hatimu," imbuh Agil.

__ADS_1


"Mas Agil gak tahu apa yang udah Aku lewati selama ini. Bahkan pepatah aja mengatakan bersakit-sakit dahulu lalu bersenang-senang kemudian. Tetapi itu nggak berlaku untukku. Dari awal hingga akhir, Aku selalu tersakiti," ungkap Mayang.


"Kamu yakin?" tanya Agil.


Mayang kembali mengernyit.


"Mayang... Kalau Kamu memang tersakiti dari awal, Kamu gak akan bertahan hingga 7 tahun. Aku yakin Kamu pasti bahagia. Bahagia menurut versi mu." Agil menatap dalam pada Mayang.


"Dan jika dugaanku salah, Kamu memang tersakiti dari awal hingga akhir, harusnya Kamu bahagia sekarang udah terbebas dari penjara yang menyakitkan itu. Lantas kenapa Kamu harus tidak terima?" tanya Agil.


Deg


Mayang terkejut mendengar ucapan Agil.


"Rubah arah bidikanmu, Mayang. Jangan terfokus pada sumber rasa sakitmu. Tapi fokuslah mencari kebahagianmu. Dan perempuan yang sekarang Kamu benci itu bukan sainganmu sekarang. Jadi jangan habiskan energimu hanya untuk perbuatan yang sama sekali enggak menguntungkan untukmu," sambung Agil.


❤️❤️❤️


Jam 10 pagi mereka akan pergi jalan-jalan. Yuna menaiki mobil yang sama dengan papinya. Di dalam mobil Qonita mengajak Yuna berbincang. Mulai dari menceritakan ketiga anaknya hingga kehamilan kembarnya.


Yuna yang duduk di tengah antara Iman dan Qonita, selalu menatap pada Qonita dan membelakangi papinya. Yuna merasa senang bercerita dengan Qonita.


"Papi turun aja, ya. Dikacangin gini. Heran, gak dianggap sama sekali," seru Iman.


"Papi kog marah, seh? Kan Yuna lagi cerita sama Tante. Tante baek kog, gak kayak yang dibilang mami."


Deg


Iman dan Qonita sama-sama terkejut.


"Memang mami bilang apa, Sayang?" tanya Iman. Matanya sudah memicing. Walau adiknya Mayang ada di depan sedang menyetir, tetapi Iman tidak memperdulikannya. Begitu juga dengan adiknya Mayang, hanya fokus menyetir saja.


"Mami bilang Tante yang buat papi melupakan Yuna," ucap Yuna polos.


"Tante gak sengaja buat Papi lupa sama Kamu, Sayang."


Deg


Iman terkejut. Kenapa Qonita malah membenarkan ucapan Mayang. Seharusnya ini kesempatan untuk meluruskan semuanya.


"Tante kemaren sakit. Papi harus jagain Tante, Sayang. Trus karna Tante hamilnya kembar, Papi Kamu takut ninggalin Tante, khawatir terjadi sesuatu sama kedua adek yang ada di dalam perut Tante. Padahal Papi dah rindu banget lho sama Yuna. Udah gak sabar pengen peluk dan main sama Yuna," ujar Qonita.

__ADS_1


"Bener, Pi?" tanya Yuna melihat ke arah papinya.


"Ya bener, Sayang. Papi dah rindu banget sama anak papi yang cantik ini, pengen papi peluk, papi c1 um, trus papi gelitikin." Iman pun memeluk, menc1 um dan menggelitiki tubuh Yuna. Yuna tertawa geli.


"Hahaha... Ampun, Pi." Yuna tidak tahan digelitiki terus oleh papinya.


"Papi gak akan pernah melupakan Kamu, Tuan Putri. Papi selalu sayang sama Kamu." Iman memeluk putrinya itu.


Qonita tersenyum melihat suami dan anak tirinya.


❤️❤️❤️


Sementara di mobil Agi, ada Mayang dan baby sitter Agil.


"Aku heran deh, Mas. Yuna kog bisa akrab gitu seh sama dia. Aku fikir Yuna cuma bakal main sama papinya aja," ujar Mayang pada Agil.


"Kenapa Kamu harus heran, Mayang? Kamu sendiri bisa dekat sama Rangga. Kenapa? Karena Rangga merasa nyaman sama Kamu. Sama kayak Yuna. Qonita mungkin bisa membuat Yuna merasa nyaman," ujar Agil.


Mayang memang sedang menggendong Rangga. Rangga juga terlihat akrab bersamanya.


"Tapi Aku gak rela, Mas. Dia merebut semua apa yang harusnya menjadi milikku," ungkap Mayang.


"Kamu yakin dia yang merebut milikmu? Andai Qonita gak ada, apa milikmu itu akan tetap menjadi milikmu, Mayang? Dan sekarang pertanyaannya, milikmu yang mana yang gak Kamu relakan dimiliki olehnya? Iman maksudmu?" tanya Agil.


Mayang menelan ludahnya mendengar pertanyaan Agil.


"Bukan gitu, Mas. Dulu Jihan, istri pertama Iman, bahkan gak bisa mendapatkan cinta Iman. Tetapi Qonita berbeda, semuanya dia dapatkan. Cinta Iman, Ichy, bahkan keluarga besar Iman juga sangat menyukainya," ucap Mayang.


"Kamu kecewa karena Iman mencintainya. Harusnya bukan Qonita yang Kamu salahkan. Itu menjadi urusan hati mantan suamimu. Bukan salah Qonita jika semua orang menyukainya. Aku aja yang baru beberapa hari mengenal dia, juga menyukainya," ungkap Agil.


Deg


Mayang terkejut.


"Mas Agil suka sama Qonita?" tanya Mayang dengan wajah kaget.


Agil mengangguk. "Aku menyukainya. Tetapi perempuan yang Aku cintai adalah Kamu." Agil mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum manis.


"Hahaha..." Agil tertawa melihat betapa shock nya Mayang tadi.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2