
Senin yang cerah ini, semua menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Qonita sudah sembuh. Ia sudah memantapkan hatinya untuk melupakan apa yang dilihatnya di Binjai beberapa hari yang lalu.
Bukan dia bersikap bodoh atau egois pada diri sendiri, tapi dia ingin kembali bahagia seperti sebelum dia mengetahui kenyataan pahit tentang fakta suaminya. Bukankah dia juga berhak bahagia?
Qonita mencoba menutup rapat apa yang dia ketahui, seperti yang selama ini suaminya lakukan. Andai dia membongkar kebohongan suaminya selama ini, siapa yang akan bahagia karenanya? Tidak ada, bukan.
Bahkan akan banyak hati yang terluka, ketiga anaknya, keluarganya, dan keluarga dari pihak suaminya. Terutama kedua mertuanya, bukankah suaminya selama ini menutup rapat karena Mayang adalah anak dari musuh papa mertuanya itu.
Andai mertuanya tahu, sesakit apa hati mertuanya selama ini dibohongi oleh anak yang selama ini dibangga-banggakan. Bukankan Qonita sendiri akan merasakan sakit yang sama andai kata mertuanya bertikai dengan suaminya.
Lebih parah lagi, jika berakibat buruk pada pernikahan mereka. Kegagalan pernikahannya yang pertama saja sudah memberikan beban berat pada dirinya beserta keluarga besarnya. Apa jadinya jika dia kembali gagal belum sampai 1 tahun pernikahannya.
Berdamai dengan diri sendiri, itu tekadnya kali ini.
"Bismillah, kuhadapi hari ini dengan senyuman dan hati yang ikhlas. Ridhoi langkah hamba Ya Allah. Damaiku mendamaikan duniaku. Kudamaikan hatiku agar damai duniaku." Qonita berucap dengan sebuah senyuman. Tentu saja hanya dia yang mengetahuinya. Karena dia sedang ada di kamar dan suaminya sedang di kamar mandi.
❤️❤️❤️
Selesai kerja Qonita tidak langsung pulang ke rumah. Hanya berbekal cemilan yang dia beli dipinggir jalan, dia menuju kantor suaminya.
Setelah bertanya pada receptionist tentang keberadaan suaminya, ia menuju lantai 3 ruang tempat suaminya bekerja.
__ADS_1
Tok tok tok
Qonita mengetuk pintu.
"Masuk." Itu suara asisten pribadi suaminya, Jamal.
Qonita masuk. Iman dan Jamal yang menoleh pada Qonita merasa terkejut.
"Sayang..." ucap Iman kaget.
"Assalamu'alaikum Pak Bos dan asisten hebatnya Pak Bos." Qonita tersenyum cerah menyapa suaminya dan Jamal.
Qonita terkekeh mendengar kekompakan suami serta sahabat suaminya itu.
"Cie, makin kompak aja, neh," goda Qonita sambil berjalan menuju suaminya lalu menyalam dan mencium tangan suaminya.
Bukannya duduk di kursi kosong, Qonita malah memilih duduk di pangkuan suaminya.
"Qonita kangen," ucapnya lirih lalu memeluk suaminya.
"Astagfirullah. Kirain Pak Bos aja yang gak tau tempat, rupanya Bu Bos juga udah terinveksi virus TTM," sindir Jamal karena merasa tidak dianggap oleh 2 makhluk di depannya.
__ADS_1
"TTM?" tanya Qonita tidak mengerti.
"Iya, virus tidak tahu malu," ungkap Jamal berjalan menuju sofa. Untuk apa dia bertahan duduk di depan kursi kebesaran bos, jika hanya akan membuatnya iri saja.
"Hahaha, Abang kog kayak yang lagi cemburu," ucap Qonita bercanda. Dia berdiri dari pangkuan suaminya, menarik tangan suaminya agar bergabung bersama Jamal di sofa.
"Repot amat pake acara cemburu segala," bantah Jamal.
"Ya udah neh, teman sejatinya Qonita kembalikan. Siang biar sama Bang Jamal, aja. Tapi malam harus sama Qonita ya," ucap Qonita genit sambil mengerling pada suaminya.
"Kog harus nunggu malam seh, Sayang. Ada tempat jangan dianggurin donk." Iman balas mengerling pada istrinya. Qonita mengerti tempat yang suaminya maksud adalah ruang kecil tempat mereka melakukan yang asik-asik tempo hari.
"Astagfirullah, salah apa Aku sampe dinistakan kayak gini," umpat Jamal dengan suara kuat.
Qonita dan Iman sama-sama terkekeh.
"Qonita bawa batagor banyak. Kita makan, ya." Qonita melihat suaminya dan suaminya pun mengangguk.
"Ini, Bang." Qonita menyerahkan batagor pada Jamal.
"Alhamdulillah, rezki anak sholeh," ucap Jamal senang.
__ADS_1