PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 146 Kedatangan Ayah Lutfi


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Di Sabtu sore ini Iman dan Qonita sedang berada di ruang tamu. Mereka sedang menunggu kedatangan dari ayah kandung Fuad dan Nabil.


Sementara anak-anak berada di ruang tengah. Mereka sedang bermain. Qonita sudah mewanti-wanti kedua putranya agar nanti bersikap sopan pada ayah mereka.


Tidak berapa lama, yang ditunggu akhirnya datang.


"Assalamu'alaikum," sahut Ayah Lutfi.


"Wa'alaikum salam." Iman yang menyambut kedatangan tamunya itu.


"Saya Lutfi, ayahnya Fuad dan Nabil," ujar ayah Lutfi.


"Saya Iman, papinya anak-anak," seru Iman. Mereka berjabatan tangan. "Silahkan duduk."


Mereka pun duduk.


"Buatkan minum, Sayang." Iman menatap ke arah istrinya.


Qonita pun mengangguk. Lalu dia pergi menuju dapur.


"Maksud kedatangan Saya kesini adalah Saya ingin bertemu dengan Fuad dan Nabil," ucap ayah Lutfi.


"Selain itu?" tanya Iman.


"Ha? Maksudnya?" ayah Lutfi terpelongo.


"Apa ada tujuan lain selain untuk bertemu dengan Fuad dan Nabil?" Iman berterus terang.


Ayah Lutfi tersenyum menyeringai. "Bos seperti Anda pasti dapat menebaknya."

__ADS_1


"Berapa yang Anda inginkan?" tanya Iman.


"Tiga juta. Uang segitu tidak ada artinya untuk Anda, bukan?" imbuh ayah Lutfi.


Iman tersenyum. "Boleh kasih Saya alasan kenapa Saya harus memberikan sejumlah uang itu pada Anda?"


"Karena berkat Saya menceraikan Qonita, Anda jadi bisa menikahi Qonita dan tinggal bersama anak-anak Saya."


Iman tertawa mendengar ucapan mantan suami Qonita itu.


"Mungkin Anda lupa, Qonita lah yang mengajukan gugatan cerai pada Anda. Karena Anda sudah menyia-nyiakan istri sebaik dia," seru Iman.


"Ya, karena dia gak mau dipoligami. Padahal agama saja membolehkan laki-laki memiliki 4 istri."


"Jadi Anda merasa berhak berpoligami?" tanya Iman.


"Tentu saja. Sah berdasarkan agama," sahut ayah Lutfi.


"Kalau begitu artinya Anda sudah cukup secara materi, mampu memberi nafkah kepada istri-istri Anda. Kalau begitu Anda tidak layak meminta uang kepada Saya. Karena Anda sudah merasa sanggup beristri lebih dari satu," ujar Iman.


"Memangnya rezki Anda berkurang setelah berpisah dengan Qonita?" tanya Iman.


"Udah pasti," sahut ayah Lutfi.


"Anda bekerja dimana?"


"Saya tidak bekerja. Tapi satu hal yang pasti, rezki istri itu bisa ada karena ada rezki suami di dalamnya."


Mata Iman memicing. "Qonita jadi PNS setelah menikah dengan Anda?" tanya Iman.


"Ya enggak. Karena dia PNS makanya Saya mau nikahin dia."

__ADS_1


"Anda gak menyesal berpisah dengan Qonita?" tanya Iman.


"Ya menyesal. Tapi udah terjadi, ya apa boleh buat," jawab ayah Lutfi.


"Apa yang bisa Anda berikan pada Saya jika Saya memberikan uang itu? Nilai yang Anda minta sebesar gaji karyawan Saya yang bekerja selama sebulan."


"Bos mau apa? Perempuan Saya banyak kenalan." Ayah Lutfi berbicara setengah berbisik pada Iman.


Iman tersenyum. "Bagi Saya 1 Qonita aja udah cukup. Gak perlu yang lain."


"Jadi Bos mau apa?" tanya Ayah Lutfi.


"Jangan pernah ganggu Qonita. Dan bersikap baiklah didepan anak-anak," ujar Iman.


"Saya gak perduli dengan anak-anak. Saya yakin Qonita dapat menjaga mereka dengan baik. Sejak Saya berpisah dengan Qonita asupan keuangan Saya udah gak ada lagi. Berikan 3 juta. Saya gak akan datang kesini lagi," ungkap ayah Lutfi.


Tangan Iman mengepal. Ingin marah tapi dia pun punya kesalahan yang sama pada Yuna. Iman merasa kasihan pada Qonita, entah bagaimana Qonita dulu mampu bertahan hidup selama beberapa tahun dengan laki-laki dihadapannya ini.


Dari pertemuan perdana ini saja, laki-laki ini langsung memperlihatkan keburukan dirinya. Awalnya Iman ingin meminta agar ayah kandung dari kedua putranya itu sering-sering mengunjungi Fuad dan Nabil. Tapi dari pembicaraan mereka tadi, Iman jadi berubah fikiran. Kasihan anak-anaknya nanti.


Iman mengambil uang dari kantong celananya. Dia letakkan uang itu dimeja. Ayah Lutfi tersenyum cerah. Dia ambil uang itu tanpa rasa malu. Lalu dia simpan.


"Tepati janjimu. Jangan pernah ganggu Qonita, dan bersikap baiklah pada anak-anak." Iman memperingatkan ayah Lutfi.


"Beres," sahut ayah Lutfi.


Sementara Qonita yang ada di dapur bertanya-tanya apa yang sedang dibicarakan oleh suami dan mantan suaminya itu. Sebelum ayah kandung anaknya itu datang, Iman sudah berpesan padanya, bahwa dia tidak boleh kembali ke ruang tamu jika Iman belum memberi pesan padanya.


Iman memang mengatakan pada Qonita bahwa ada yang ingin dia bicarakan pada laki-laki bernama Lutfi itu.


Hp Qonita berbunyi. Tanda ada sebuah pesan masuk. Qonita membuka HP nya.

__ADS_1


'Bawa minumnya, Sayang.'


❤️❤️❤️


__ADS_2