PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 16 Lembur


__ADS_3

Beberapa hari ini, semua berjalan seperti biasa. Ichy masih sering video call-an dengan Qonita. Terkadang ia menggunakan HP Oma Herni saat bersama omanya, terkadang menggunakan HP ART di rumahnya.


Iman setiap hari mengiriminya pesan, yang hanya di balas seperlunya saja.


Namun sore ini, Qonita kedatangan tamu tak diundang. Terkejut melihat pria yang menggunakan pakaian formal, dengan raut wajah yang terlihat cukup lelah, namun tak mengurangi kadar ketampanannya itu.


Pria itu terlihat baru turun dari pintu tengah mobilnya, yang artinya dia menggunakan supir, tapi bukan bersama Jamal.


Terpaksa Qonita mengajaknya masuk ke dalam rumah, mengingat di luar rumahnya tidak ada kursi karena sisa depan rumahnya hanya menyisakan sedikit ruang.


Rumah sederhana diatas tanah yang sangat kecil, yang dibelinya dari developer perumahan.


"Eh, ada Om. Om bawa mainan lagi ya, Om?" ucap Nabil yang baru keluar dari kamar.


"Ya Allah, Sayang. Salam dulu. Malah nanyak mainan," ujar Qonita malu.


"Hahaha, maaf Sayang. Om gak bawak sekarang. Tapi bakalan ada yang antar kog, mungkin besok baru sampe."


Iman mengusap kepala Nabil saat anak laki-laki itu menyalamnya.


Sementara Qonita mengernyit mendengar kalimat terakhir Iman.


Fuad yang mengetahui Iman datang, membawa beberapa buku. "Ini, Om. Kerjaan Fuad dan Nabil," ucap Fuad sambil memperlihatkan beberapa buku setelah menyalam Iman.


Iman melihat buku-buku tersebut. "Wah keren, udah pada pintar rupanya. Bagus tulisan dan mewarnainya. Ini buku yang Om kasih, kan? Suka, gak?"


“Suka, Om," jawab Fuad dan Nabil bersamaan.


"Keren, nanti kita beli buku yang baru lagi, ya."


"Iya, Om," ucap Nabil.


"Gak usah, Om," ucap Fuad bersamaan dengan ucapan Nabil.


"Hahaha..." Iman tertawa mendapatkan jawaban berbeda dari kedua anak kecil itu.


"Gimana ini, Bun. Adek bilang iya, abang bilang gak usah." Iman mengerling pada Qonita.


Qonita yang mendengar Iman memanggilnya 'bun', hanya bisa menunduk lalu menoleh. "Makasih, tapi bukunya masih banyak yang kosong."


Kecanggungan Qonita hilang saat Vivi membawakan teh dan kue untuk Iman. Ya, Vivi sudah sigap untuk perkara seperti itu. Selain menjaga anak-anak Qonita, ia juga membantu Qonita mengerjakan yang lain.


"Ayo Dek, kita main lagi," ucap Vivi pada Fuad dan Nabil.


Mereka bertiga menyusun lego.


"Padahal tehnya pengen dibuatin Kamu. Biar lelahnya hilang," ujar Iman menatap Qonita sendu.


"Maaf."


"Hahahaha, masa cuma maaf doank. Ganti yang lain donk," goda Iman.


"Hmm, Abang mau apa?" tanya Qonita.


Iman diam. Lama menatap Qonita. Qonita masih menunggu jawaban dari Iman.


"Mau Kamu terima Aku, jadi papinya anak-anak," ucapnya datar, tanpa candaan seperti biasa.


Qonita hanya membuka sedikit bibirnya, namun tak mengucapkan apa-apa. Lalu ia menunduk.


Hening


Iman memang sengaja tak membuka pembicaraan, ia sengaja menggoda Qonita, ia gemas melihat Qonita yang salah tingkah karena ucapannya.


"Entah kenapa fokusku selalu ke bibirnya," guman Iman dalam hati.


"Pulang kerja langsung kemari, ada keperluan apa?" tanya Qonita.


Iman menarik nafas. "Aku ada kerjaan diluar. Lama." Iman mengusap wajahnya. "Berharap Kamu mau Aku halalin, sebelum Aku pergi. Aku takut gak kuat menanggung beratnya rindu. Cukup kerjaan Aku aja yang berat.


"Berapa lama?" tanya Qonita.


Imam memekik senang dalam hatinya. Pertanyaan Qonita seakan angin surga baginya.


Pertanyaan itu diartikannya bahwa Qonita sebenarnya pun menginginkannya. Jika tidak, tak mungkin ia menanyakan berapa lama dia akan pergi.


Iman menjawab dengan menegakkan tiga jarinya.


"Tiga bulan?" tanya Qonita. Iman menggeleng.


Qonita sedikit terkejut. "Tiga tahun?"

__ADS_1


Iman menghela nafas berat, tidak menjawab pertanyaan Qonita. “Mau ya nikah sama Aku."


Qonita tak mampu berkata-kata, ia hanya memandang Iman, kali ini ia tak menurunkan pandangannya.


"Sayang, mau kan?" ulang Iman.


"Abang kapan berangkatnya?"


"Dijawab pertanyaannya Sayang, jangan malah nanyak balik."


"Menikah gak bisa terburu-buru seperti itu, Bang. Banyak yang harus difikirkan. Kita juga belum lama kenal. Jangan sampai menyesal dikemudian hari." Qonita berucap lirih.


"Sayang, mikirnya jangan terlalu berat. Apa yang Kamu ragukan? Apa yang mau Kamu ketahui tentang Aku? Aku jawab sekarang."


"Ini terlalu cepat, Bang. Saya harus tanyakan pada mama, abang dan keluarga besar Saya. Saya juga ingin merasa yakin, namun jawabannya belum saya dapatkan."


"Jawaban?" tanya Iman. Qonita mengangguk.


"Kamu udah Istikharah?" tanya Iman yang dijawab kembali dengan sebuah anggukan.


"Berapa lama?" Qonita mengernyit mendengar pertanyaan Iman. "Butuh waktu berapa lama untuk kamu bisa menjawabnya?"


"Saya gak tau."


Iman menghela nafas berat. "Ok, gini aja. Mulai kedepan, kita jumpai keluarga Kamu sama-sama. Aku akan utarakan niatku. Kamu lanjutkan Istikahrahmu."


"Tanyakan apapun yang mau Kamu tanyakan. Yang penting jangan menghindar dan jangan menolak perasaanmu sendiri," ucap Iman tegas.


"Bukannya Abang mau pergi?" tanya Qonita. Imam mengangguk.


"Lalu?"


"Kita lakukan setelah Aku pulang."


"Haa?" Qonita terkejut, bagaimana mungkin dia menunggu Iman pulang selama 3 tahun. Bagaimana jika situasinya sudh berubah.


"Tiga hari. Aku Cuma pergi tiga hari."


"Jadi tadi Abang bohong?" tanya Qonita kesal.


"Aku gak bilang tiga tahun, kan? Aku cuma angkat 3 jariku. Kamu yang mengartikannya 3 tahun."


"Tadi Abang bilang lama."


Qonita menghela nafas panjang.


❤️❤️❤️


"Paket," teriak seseorang dari luar.


Vivi membuka pintu dan menerima paket.


"Paket apa, Vi?" tanya Qonita.


"Gak tau, Bu."


"Coba buka."


Vivi membuka paket. "Mainan, Bu."


Qonita langsung teringat semalam Iman mengatakan akan ada yang antar. Dan benar, paket itu datang hari ini.


Anak-anak sibuk memainkan mainan yang baru mereka dapat. Qonita masuk ke kamar dan mengambil HPnya. Lalu mengirim pesan.


Qonita : "Assalamu'alaikum. Maaf mengganggu malamnya. Cuma mau bilang, makasi mainannya udah sampe. Anak-anak senang. Tapi ini udah terlalu banyak. Tolong jangan lagi."


Terdengar suara dering telepon. Tertulis nama Iman dilayar HP itu. Qonita menerima panggilan itu.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam, Sayang. Lagi apa?"


"Gak ngapa-ngapain. Paketnya udah sampe."


"Hem."


"Makasi."


"Sama-sama."


"Tapi cukup ya, Bang. Jangan lagi."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Udah terlalu banyak. Rumah kami kecil. Gak muat nampung banyak barang."


Tiba-tiba panggilan berubah jadi video call.


Qonita belum menerimanya.


"Kog gak diterima?"


"Lagi gak pakai jilbab, Bang."


"Pakai dulu lah sebentar, Sayang."


"Memang kenapa, Bang."


"Ada perlu. Penting."


"Ya udah, tunggu bentar."


Qonita meletakkan HPnya lalu memakai jilbab instan. Menggeser ke atas di layar HP mengalihkan panggilan ke video call.


Ia dapat melihat Iman masih menggunakan pakaian kerja dan duduk di kursi yang sepertinya itu kursi di kantor.


"Abang dimana?"


"Di kantor."


"Ha? Sama siapa?"


"Hahaha..." Iman mengarahkan HPnya ke sekeliling ruangan kantornya.


Terlihat ada 3 orang laki-laki duduk di sofa sedang sibuk dengan kertas dan laptop. Hanya Jamal yang Qonita kenal.


"Jangan khawatir, Sayang. Gada perempuan disini. Tenang aja, dari dulu Aku selalu ngehindari itu kog."


"Maaf, bukan seperti itu maksudnya."


"Hahaaha... Gapapa, Sayang. Kamu tuh makin gemesin tau gak."


"Udah makan?" Qonita mengalihkan.


"Udah. Aku senang kamu perhatian gini." Iman senyum-senyum , Qonita semakin merasa malu.


"Tadi ada apa harus sampai Video Call?"


"Tadi kamu bilang gak boleh kasih mainan lagi. Karna apa?"


"Udah kebanyakan, rumah kami sempit."


“Kalau gitu pindah aja ke rumahku."


Sebenarnya ini alasan Iman meminta video call dengan Qonita, dia ingin melihat wajah Qonita saat ia mengatakan kalimat itu.


Qonita terkejut. Menunduk, lalu kembali melihat HP. Namun tak mengeluarkan kata apapun. Inilah yang selalu membuat Iman gemas melihatnya.


"Ya udah, Bang. Lanjutin kerjanya. *** -" Qonita sengaja mengelak.


"Sayang," ucap Iman memotong ucapan Qonita.


"Hmm..."


"Hahahaa... Jadi udah terima dipanggil sayang neh?" goda Iman.


Wajah Qonita bersemu merah namun tak terlalu kelihatan di layar HP.


"Besok, Aku berangkat."


"Iya, hati-hati. Semoga dilancarkan dan dimudahkan."


"Aamiin. Kasih cium donk biar semangat."


"Ehm." Jamal sengaja berdehem mendengar ucapan bossnya itu.


Sedari tadi sebenarnya ketiga anggota Iman yang ikut lembur itu saling melempar senyum. Namun tak ada yang berani berbicara.


Iman mengabaikan Jamal. Dia memilih fokus pada sang pujaan hati.


Qonita hanya diam tapi masih menatap pada layar HP.


"Kan gak cium beneran, Sayang. Masa gak boleh juga, seh? Ya udah deh, kalau kamu gak mau biar Aku aja yang kasih. Mmuaach.”

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Bang."


"Waalaikum salam, Sayang."


__ADS_2