
Medan, Sumatera Utara
Setelah makan malam, Iman dan keluarganya berkumpul di ruang keluarga.
"Kak, ada PR nggak, Nak?" tanya Qonita pada Ichy.
Meski sudah ada Nurul yang bertugas mengurusi Ichy, namun Qonita tidak pernah lupa memperhatikan ketiga anaknya.
"Nggak ada, Bun. Tadi siang Kakak udah belajar menulis sama Kak Vivi," sahut Ichy.
"Alhamdulillah, semangat belajarnya ya, Sayang," seru Qonita.
"Fuad dan Adek belajar apa hari ini?" Qonita mengalihkan pandangannya pada kedua anak laki-lakinya.
"Tadi hafal surat Al-Qadr, Bunda." Fuad yang menjawab.
"MasyaAllah, udah banyak hafalannya ya, Sayang." Qonita tersenyum bahagia.
"Kakak juga udah hafal, Bunda. Dek Nabil hafal juga bisa, tapi masih sikit-sikit." Ichy menerangkan pada bundanya.
"Alhamdulillah, anak bunda pintar dan hebat, MasyaAllah." Qonita memberi penghargaan kepada anak-anaknya.
"Nabil mau lanjutin hafalan Surat Al-Qadr nya sama Bunda gak, Nak? Biar lancar yok, kita ulang." Qonita mengajak Nabil mengulang kembali hafalannya.
"Mau, Bunda." Nabil pun duduk di sebelah bundanya.
Tadinya Qonita hendak ingin mengajari Nabil saja, karena Nabil yang belum hafal suratnya. Namun Ichy dan Fuad ikut bergabung, tentu saja Qonita dengan senang hati menghafal surat pendek itu bersama ketiga anaknya.
Sementara Iman tersenyum puas melihat anak dan istrinya. Kebersamaan seperti inilah yang menentramkan hati. Anak dan istrinya adalah kebahagiannya, pelipur laranya.
Disaat hati sedang direcoki oleh rasa penghianatan dari teman kuliahnya yang membawa kabur uangnya sebesar 7 M, maka anak dan istrinya adalah obatnya, penenang hatinya.
Iman menaikkan sebelah bibirnya, dalam hati dia berucap, 'maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?'
Suara HP Iman berbunyi, tertulis nama Mayang disana. Dia tahu, pasti anak perempuannya yang sedang menghubunginya.
Iman melirik ke arah Qonita. Dia memberi kode pada istrinya itu. Qonita mengangguk. Iman lalu berjalan ke arah kamar mereka. Setelah sampai di kamar, Iman menerima video call dari putrinya yang satu lagi.
"Assalamu'alaikum, Sayang." Iman tersenyum menatap putrinya yang berada di Jakarta itu.
"Wa'alaikum salam, Pi. Papi sehat?" tanya Yuna.
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat, Sayang. Kamu gimana kabarnya? Sekolahnya lancar, kan?"
"Yuna sehat, Pi. Sekolah enak, Pi. Tadi kami berenang," seru Yuna.
"Wah, keren. Seneng donk anak Papi yang cantik ini?"
Iman melirik ke arah pintu kamar karena mendengar suara handle pintu terbuka. Istri tercintanya menyusulnya ke kamar.
"Seneng donk, Pi. Oh iya, Pi. Mami mau nikah lho sama om Agil," ungkap Yuna.
Iman dan Qonita saling melirik mendengarnya.
"Alhamdulillah, kabar baik, Sayang. Semoga Yuna dan Mami bahagia ya, Nak. Nanti Yuna harus hormat dan sayang sama Om Agil, ya," ujar Iman.
"Nanti om Agil jadi papanya Yuna ya, Pi? Tapi papinya Yuna kan Papi?" imbuh Yuna polos.
"Papi akan tetap jadi Papinya Kamu, Sayang. Sampai kapanpun Papi akan terus sayang sama Kamu. Dan nanti Kamu akan punya 2 ayah, Papi dan om Agil. Jadi banyak deh yang sayang sama Kamu, Nak," ungkap Iman.
"Enak ya, Pi..." sahut Yuna.
"Iya, Sayang."
"Pi, Mami mau ngomong." Iman dapat melihat putrinya itu sedang menatap ke arah lain, sepertinya sedang berbicara dengan mantan istrinya, Mayang.
"Assalamu'alaikum, Im," ucap Mayang. Iman sudah dapat melihat Mayang pada layar HP nya.
"Wa'alaikum salam. Selamat ya, semoga acaranya nanti berjalan lancar. Semoga Kamu bahagia, Mayang. Aku yakin Agil dapat menjadi suami yang baik untuk Kamu dan papa yang baik untuk Yuna," ujar Iman.
"Aamiin. Makasi, Im. Qonita mana?" tanya Mayang.
"Ada, ini. Kamu mau ngomong?" tanya Iman.
"Iya."
Iman pun memberi HP nya pada Qonita.
"Assalamu'alaikum, Mba," sapa Qonita tersenyum.
"Wa'alaikum salam. Qonita, Aku mau minta maaf atas segala kesalahanku padamu. Aku akan memulai hidup baru bersama Mas Agil. Aku gak mau dosa-dosaku di masa lalu menghantui kehidupan baruku nanti. Tolong maafin Aku, ya." Mayang terlihat cemas.
Qonita tersenyum. "Qonita udah maafin Mba, kog. Lagian kan kemaren Mba Mayang juga udah minta maaf. Qonita juga minta maaf ya Mba, atas kesalahan Qonita yang secara sadar atau tidak udah nyakitin hati Mba dan Yuna. Qonita berdoa semoga urusan dan niat Mba dimudahkan dan dilancarkan. Aamiin."
__ADS_1
"Aamiin. Makasi ya, Qonita. Jangan lupa nanti datang, ya. Kalau undangannya udah siap, nanti Aku kirim."
"InsyaAllah, Mba," sahut Qonita.
"Qonita, sebenarnya ada yang ingin Aku tanyakan," ujar Mayang.
"Mau tanyak apa, Mba?"
"Em, gini. Aku tiba-tiba merasa takut. Takut pernikahanku yang kedua ini kembali gagal. Aku takut gak bisa jadi istri yang baik buat Mas Agil. Aku takut Mas Agil kecewa sama Aku. Apalagi Aku dengar mamanya Rangga, istri Mas Agil dulu sangat sabar," ungkap Mayang.
"Sangat wajar Mba merasa demikian. Qonita juga dulu seperti itu, kog. Tapi jangan sampai apa yang Mba khawatirin itu malah membuat semuanya jadi tambah kacau. Hilangkan kekhawatiran Mba itu dengan cara memantaskan diri Mba sendiri," seru Qonita.
"Itu dia masalahnya, Aku sendiri masih ragu sama diriku sendiri. Aku masih banyak kurangnya. Apalagi disisi lain, banyak orang yang menaruh suka pada Mas Agil. Bahkan Aku ragu, apakah Aku bakal jadi menikah sama Mas Agil," ungkap Mayang sedih.
"Itu bukan masalah, Mba. Bahkan sampai sekarang pun, Qonita yakin ada perempuan diluar sana yang menyukai Bang Iman."
Iman terkejut saat namanya di bawa-bawa. Qonita tersenyum melihat suaminya yang dahinya mengernyit karena kebingungan.
"Apalagi Mas Agil yang masih single. Tentu banyak yang menyukainya. Tapi kuncinya disini adalah Mas Agil. Mas Agil memilih Mba Mayang. Artinya Mas Agil yakin Mba Mayang adalah perempuan terbaik untuk menjadi istrinya dan ibu dari anaknya," imbuh Qonita.
Iman yang mendengar penuturan istrinya, senyum-senyum sendiri.
"Jadi abaikan fikiran-fikiran buruk Mba, itu. Nanti Qonita share bacaan yang InsyaAllah bisa sedikit membantu menenangkan hati Mba, ya. InsyaAllah jika Allah meridhoi, semuanya akan berjalan lancar, Mba," sambung Qonita.
"Aamiin. Makasi banyak ya, Qonita. Aku tunggu lho, yang Kamu bilang tadi," ujar Mayang.
"Siap, Mba. Nanti Qonita kirim, ya."
"Iya. Udah dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Mba."
Qonita mendekati suaminya kala panggilan video itu sudah terputus. Dia kembalikan HP suaminya.
"Abang ada perlu sesuatu?" tanya Qonita pada suaminya.
"Nggak ada, Sayang. Kenapa?" tanya Iman.
"Nggak apa, Bang. Qonita lihat anak-anak dulu ya, Bang. Tadi mereka Qonita tinggal, Qonita titip sama Vivi."
"Ya udah Sayang, Aku ikut." Iman langsung bangkit dari rebahannya.
__ADS_1
Iman dan Qonita pun melihat anak-anak mereka.
❤️❤️❤️