PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 126 Bukan Suami Bersama Lagi


__ADS_3

Qonita menyalam suaminya. "Kog gak ngabari kalau Abang mau pulang? Kalau tahu Abang pulang hari ini, Qonita dan anak-anak menunda nginap disini."


"Nginap?" tanya Iman bingung. Dia pikir papanya berusaha memisahkan dia dan istrinya, sehingga membawa pergi Qonita dan anak-anaknya.


Qonita mengangguk.


"Kenapa mendadak pengen nginap disini?" tanya Iman bingung.


"Mama yang ajak mereka kesini. Kasihan istri Kamu lagi hamil muda, Kamunya keluar kota," seru oma Herni.


"Papa juga bisa bawa main anak-anak kalau Qonita lagi kerja. Kenapa, Kamu keberatan?" Opa Pras tersenyum menyeringai.


Opa Pras memang sengaja menyuruh istrinya agar mengajak Qonita dan anak-anak menginap di rumahnya. Opa Pras juga yang meminta agar pekerja di rumah Iman mengatakan bahwa Qonita dan anak-anak dibawa pergi olehnya.


Opa Pras ingin memberikan pelajaran pada anak sulungnya itu. Makanya opa Pras sengaja menolak telefon dari anaknya, dia sudah tahu bahwa anaknya akan pulang.


"Bukan, Pa. Iman cuma gak biasa aja pulang gak melihat istri dan anak-anak Iman." Iman menelan ludahnya.


"Bukan karna Kamu pikir Papa menyembunyikan mereka?" tanya opa Pras mengejek.


Skakmat


Iman hanya diam, karena tebakan papanya memang benar.


"Papa mau istirahat." Opa Pras beranjak pergi ke kamarnya.


"Mama duluan ya, Sayang," seru oma Herni pada Qonita.


"Iya, Ma."


Setelah kedua orang tuanya pergi, Iman kembali memeluk istrinya.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Sayang." Iman mendekap erat istrinya. "Dan anak kita." Iman berlutut hendak mencium perut istrinya. "Sehat-sehat Sayang." Iman mengelus sayang perut Qonita.


"Ayok ke kamar," ajak Iman. Iman dan Qonita pun menuju kamar milik Iman dulu.


Iman dan Qonita merebahkan badan di tempat tidur. Iman menarik Qonita ke dalam pelukannya.


"Sayang... Aku udah menalak Mayang," ungkap Iman.


Qonita mendongak. "Mba Mayang pasti kecewa."


"Dia bersedih. Tetapi terus bersamaku juga akan membuatnya bersedih. Aku gak bisa kasih dia kebahagian yang layak."


Qonita mengangguk. "Semoga Mba Mayang mendapat laki-laki yang bisa membahagiakan dia dan Yuna. Aamiin."


"Sayang... Kamu tahu tentang Yuna?" tanya Iman.


"Kemaren pas ketemu, Mba Mayang ada nyebut nama Yuna, Bang," ujar Qonita.


"Sayang... Tolong maafkan Mayang jika dia kasar sama Kamu, ya. Ini salahku sampai Kamu terlibat dalam masalah kami."


"Gak apa, Bang. Qonita bisa ngerti kenapa Mba Mayang seperti itu. Pada dasarnya, dia seorang istri yang gak ingin kasih sayang suaminya terbagi, dan dia juga seorang ibu yang gak ingin anaknya menderita."


Iman mengangguk. "Sayang... ada yang perlu Aku sampaikan pada Kamu." Iman duduk. Ini adalah masalah serius yang harus dibicarakan.


"Ada apa, Bang?" Qonita sudah ikut duduk di tempat tidur.


"Saat ingin berpisah, Mayang mengajukan syarat padaku." Iman berhati-hati mengucapkannya. Masalah uang adalah masalah sensitif. Qonita menatap dalam pada suaminya, menunggu apa yang ingin diucapkan oleh suaminya.


"Dia meminta Aku memberi nafkah untuk Yuna 10 M." Qonita terkejut mendengarnya. "Aku baru kasih 5 M. Maaf, Sayang, Aku gak bilang dulu ke Kamu."


"Sisanya gimana, Bang? Uang yang ama Qonita 1 M pakai aja, mobil kita kan ada 2," ucap Qonita khawatir karena masih kurang setengahnya lagi.

__ADS_1


"Aku kasih tau Kamu bukan mau minta uang itu, Sayang. Kamu tenang aja, ya. Dua bulan lagi, InsyaAllah Aku bisa lunasi kekurangannya."


"Abang gak ngutang di bank, kan?" tanya Qonita khawatir.


Iman mengernyit. "Kenapa, Sayang?"


"Jangan hutang di bank ya, Bang. Mending jual aja mahar yang Abang kasih. Gak apa, dari pada hutang di Bank," imbuh Qonita.


"Hei, Sayang, Kamu jangan khawatir. Semua udah beres. Dua bulan lagi InsyaAllah ada beberapa proyek yang bakal cair. Cukup untuk nutupin semuanya," ujar Iman.


Iman begitu tersentuh saat Qonita hendak memberikan maharnya. Sementara  kemaren Mayang menuduh Qonita yang tidak-tidak tentang uang.


"Bang, kenapa Papa bilang Abang berfikir kalau papa menyembunyikan kami?" tanya Qonita.


"Karna Papa ngancam Aku bakal ngurus perceraian kita, Sayang."


Deg


Qonita terkejut mendengarnya.


"Papa marah karna kemaren Aku belum juga menceraikan Mayang."


"Abang terpaksa melakukannya?" tanya Qonita iba pada suaminya


"Memang harus seperti itu, Sayang. Malah harusnya dari awal Aku gak menikahinya. Semua salahku. Jihan, Aku berdosa padanya." Wajah Iman mulai sendu.


"Sayang, jangan pernah tinggalkan Aku. Aku akan memperbaiki salahku. Tolong maafkan Aku. Dan tolong jangan lagi memendam sedihmu sendiri," ucap Iman karena dulu Qonita menutup kesedihannya saat mengetahui bahwa suaminya memiliki istri yang lain.


"Iya, Bang."


Mereka pun kembali tidur dengan saling mendekap.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2