PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 159 Serangga Betina


__ADS_3

Jakarta


Yuna terkejut saat melihat Agil ikut menjemputnya.


"Om ikut jemput Yuna?" tanya Yuna senang.


"Iya, donk. Kan Om selalu kangen sama Kamu." Agil tersenyum lebar.


"Om Agil gak kerja?" tanya Yuna heran.


Yuna bingung kenapa Agil bisa bersama maminya.


"Kerja kog, ini dari kantor," jawab Agil.


"Kog bisa bareng Mami?" tanya Yuna lagi.


Mayang dan Agil saling melirik.


"Mami Kamu tadi ke kantor Om. Ada kerjaan yang diurus Mami di kantor Om. Ya kan, Mi?" Agil mengerling pada Mayang. Dia sengaja memanggil mami pada Mayang di depan Yuna.


"Mami sekarang kerja kayak papi?" Mata Yuna sudah membulat. "Nanti Mami gak bisa dihubungi kayak papi dulu ya, Mi?" Raut wajah Yuna sudah kelihatan sedih.


"Eh, gak gitu Sayang. Tadi Mami cuma mau usir serangga aja dari ruangannya Om Agil. Soalnya Om Agil gak ngerti gimana cara ngusir serangganya. Makanya Mami datang ke kantor Om." Mayang mengejek sinis Agil.


Agil terkekeh kecil mendengarnya. "Yuna tau gak jenis kelamin serangganya?" tanya Agil pada Yuna.


"Apa Om?" tanya Yuna penasaran.


"Betina, Sayang. Hahaha..." Agil tertawa geli.


"Udah dibunuh ya Mi, serangganya?" tanya Yuna bersungguh-sungguh.


"Gak Mami bunuh, Sayang. Soalnya gak boleh. Cuma dibius aja." Mayang semakin menjawab asal.


"Serangganya lagi hamil ya Mi, makanya gak boleh dibunuh?" tanya Yuna dengan polosnya.


"Hahaha..." Agil tertawa kuat. Lalu dia berbisik di telinga Mayang. "Serangga betinanya bernama Poppy." Agil lalu berjalan mendahului Mayang sambil tertawa-tawa.


Mayang menggerutu melihat tingkah Agil.


"Mami gak kerja kayak papi kan, Mi?" Nanti kalau Mami kerja Yuna sama siapa?" tanya Yuna dengan raut wajah sedih.


"Mami gak kerja kog, Sayang. Lagian sekarang papi kan udah bisa ditelfon," ujar Mayang merangkul putrinya.


"Papi udah gak sibuk lagi ya, Mi?" Yuna heran karena sekarang dia sudah bisa menghubungi papinya. Tidak seperti dulu, sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Iya, Sayang. Kerjaan papi udah gak banyak, jadi udah bisa ditelfon." Mayang berjalan dengan tatapan mata yang kosong. Dia mengingat tentang masa lalunya. Bagaimana dia dan Yuna harus menahan diri untuk tidak menghubungi Iman.


'Semoga kedepannya kita diberi kebahagiaan ya, Sayang. Semoga om Agil memang orang yang tepat untuk kita.' Mayang berbicara dalam hatinya.

__ADS_1


Agil, Mayang dan Yuna sudah menaiki mobil. Karena sebentar lagi waktunya makan siang, Agil menawarkan agar mereka mencari makan saja. Mayang dan Yuna setuju.


Yuna meminta makan ayam kesukaan anak-anak itu. "Yang ada mainannya, Om," seru Yuna.


Agil pun mengangguk. Dia tahu tempat apa yang di maksud oleh Yuna.


Setelah sampai, mereka pun memesan makanan. Yuna makan dengan lahap. Mayang dan Agil tersenyum melihatnya.


Setelah selesai makan, Agil mencoba menghubungi seseorang.


"Poppy masih diruanganku?" tanya Agil melalui saluran HP nya.


Entah apa yang dikatakan orang diseberang sana, tetapi Mayang meyakini Agil sedang menghubungi orang kepercayaannya.


"Mau apa mereka disana?" Dari nada bicara Agil dia terlihat tidak senang.


"Aku masih diluar. Nanti Aku kabari lagi." Agil pun memutus telfonnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Mayang pada Agil.


"Poppy dan mamanya ada di ruanganku." Agil mengacak rambutnya.


"Jadi gimana, Mas?" tanya Mayang bingung harus berbuat apa.


"Kita ke rumahku aja, ya. Aku harus ngomong sama papa dan mama."


Mayang pun mengangguk.


"Iya, Sayang. Kita main sama Rangga, ya." Mayang menunjukkan wajah tersenyum pada putrinya.


"Oke, Mi." Yuna pun merasa senang karena akan berjumpa dengan Rangga.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


Sore hari, Qonita dan ketiga anaknya sedang berada di ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum." Terdengar samar suara orang mengucap salam.


"Wa'alaikum salam."


"Papi pulang," ucap Nabil.


Qonita mengernyit. "Vi, tolong lihat. Sepertinya ada tamu." Qonita yang sedang duduk merasa malas bergerak, faktor sedang hamil kembar membuatnya merasa berat bergerak apalagi sudah dalam posisi enak.


"Baik, Bu." Vivi pun beranjak ke depan.


"Ayah."

__ADS_1


Qonita dapat mendengar suara Fuad memanggil ayahnya. Dia menghela nafas panjang. Suaminya belum pulang dari kantor, menerima tamunya sendirian dia merasa malas. Tetapi sebagai tuan rumah, bukankah dia harus memuliakan tamunya.


"Bu, yang datang ayahnya Fuad dan Nabil." Vivi yang baru saja tiba dari ruang tamu menyampaikan pada Qonita tentang kedatangan mantan suaminya itu.


Qonita mengangguk. "Tolong buatkan minum dan cemilan ya, Vi."


"Iya, Bu." Vivi menuju dapur.


Qonita pun berjalan ke ruang tamu. Ichy duduk di kursi panjang sendirian. Sedangkan Fuad dan Nabil duduk disebelah kanan dan kiri ayah mereka.


"Assalamu'alaikum, Bang." Qonita menyatukan jemari kanan dan kirinya di depan dada, memberi salam pada tamunya itu.


"Wa'alaikum salam, Dek," sahut Ayah Lutfi.


"Maaf, Abang kesini mau berjumpa dengan Fuad dan Nabil atau ada keperluan lain?" tanya Qonita blak-blakan setelah dia duduk disamping Ichy.


"Dua-duanya," ujar ayah Lutfi.


Qonita menarik nafas panjang. "Tujuannya lainnya apa?" tanya Qonita to the point.


"Kamu udah tahu apa yang mau Ku bahas." Ayah Lutfi sedikit menyeringai.


"Tentang rumah Qonita?" tanya Qonita heran, pasalnya mantan suaminya itu tetap ngotot meminta rumah itu dijual dan uangnya dibagi dua.


Vivi datang membawa cemilan serta minuman. Saat Vivi menghidangkan makanan dan minuman tersebut, Iman baru saja tiba. Dia baru pulang dari kantor.


"Assalamu'alaikum." Iman mengucap salam.


"Wa'alaikum salam," sahut mereka yang ada di dalam rumah.


Qonita berdiri menyambut kedatangan suaminya. Dia salam suaminya, suaminya memberi kecupan di puncak kepalanya. Anak-anaknya ikut menyalam papi mereka. Lalu Iman berjabatan tangan dengan ayah Lutfi.


"Udah lama?" tanya Iman pada ayah Lutfi.


"Nggak kog, paling baru 5-10 menit," ujar ayah Lutfi.


"Silahkan dimakan dan diminum." Iman duduk disamping Ichy. Kini Ichy diapit oleh papi dan bundanya.


"Makasih," jawab ayah Lutfi. Ayah Lutfi pun mencicipi makanan dan minuman yang dihidangkan.


"Maksud kedatangan Saya kesini, Saya ingin rumah kami dijual. Saya butuh uang, nanti uangnya dibagi dua," ujar Ayah Lutfi.


Iman tersenyum mendengarnya. "Kemaren Qonita ada cerita sama Saya. Menurutnya rumah itu adalah miliknya, bukan rumah bersama," imbuh Iman.


"Uang untuk pembelian rumah itu adalah hasil dari penjualan tanah Qonita yang sudah ada sebelum kalian menikah dulu. Dan sisanya juga diambil dari uang tabungan Qonita. Untuk itu istri Saya tidak bersedia memenuhi permintaan Anda," ungkap Iman.


"Rumah itu dibeli saat kami masih bersama. Itu artinya rumah itu adalah milik kami bersama." Ayah Lutfi ngotot dengan pendiriannya.


"Kalau dirasa tidak ada jalan keluar dari permasalahan ini, silahkan saja bawa ke jalur hukum," seru Iman.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2