PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 35 Malam Ber-sastra


__ADS_3

Iman memilih menjalankan Sholat Isya di Musholla rumahnya. Ia berharap bisa mendapatkan sedikit ketenangan. Tak mungkin ia mendatangi sang istri pada saat dirinya masih dipenuhi beban.


Malam ini harus menjadi malam spektakuler bagi mereka. Ia tak mau istrinya khawatir apalagi menaruh curiga. Malam ini, ia mau istrinya merasakan perasaan bahagia yang membuncah.


Iman memasuki kamarnya. Ada sang istri sedang duduk santai di tempat tidur, sambil memainkan HP nya. Sepertinya istrinya itu sedang menunggu kedatangannya.


Iman takjub melihat sang istri. Ini pertama kalinya ia melihat Qonita tak mengenakan jilbabnya.


Rambut hitam lurus panjang, tergerai dengan indah, sangat rapi. Iman mendekati istrinya, duduk di tepi tempat tidur.


Qonita yang mengetahui Iman datang langsung tersenyum padanya. Mematikan HP nya, lalu meletakkan pada meja disamping tempat tidur.


"Istriku lagi apa?" tanya Iman lembut.


"Bacain pesan masuk, Bang." Qonita mendekat pada Iman. Menggenggam kedua tangan Iman.


"Kog lama?" Pertanyaan Qonita sukses membuat Iman tertawa.


"Hahaha..." Qonita manyun mendengar tawa suaminya. "Nungguin, hum?" tanya Iman sambil mengelus pipi Qonita.


Qonita mengangguk, lalu menunduk. Ia merasa malu sekali.


"Makasih, dan... maaf," ucap Iman sangat lembut. Berhasil membuat Qonita menatap ke arah Iman. Iman menatap dalam pada mata Qonita. Qonita mengernyit.


"Makasi udah nungguin, dan maaf udah buat kamu menunggu lama untuk malam pertama kita." Iman menyeringai dengan senyuman menggodanya.


Qonita memejamkan mata sambil menghela nafas mendengar penuturan Iman. Suaminya itu memang sangat suka menggodanya.


"Abang hari ini kenapa?" tanya Qonita lembut.


"Lho, kenapa Sayang?" Iman bingung kenapa Qonita bertanya seperti itu.


"Abang terlihat beda hari ini. Kayak lagi banyak fikiran."


"Cuma capek aja, Sayang." Iman mengelus rambut Qonita.


"Bener? Cerita ke Qonita, Bang. Mulai sekarang, Qonita mau selalu mendampingi Abang. Selalu menjadi tempat untuk semua keluh kesah Abang. Ajak Qonita di saat terburuk Abang, agar Qonita pantas berada di saat terbaik Abang.”


Iman tersenyum mendengar penuturan istrinya. Lalu menangkup wajah Qonita.


"Istriku suka sastra rupanya. Oke, aku lawan." Iman menaikkan sebelah bibirnya.


"Satu saat, Kau akan bertanya kepadaku, manakah yang lebih penting, hidupku atau hidupmu? Aku akan berkata hidupku, dan Kau akan pergi begitu saja, tanpa tahu bahwa Kaulah hidupku. Kahlil Gibran," ucap Iman tersenyum memukau.


Qonita mendengarkan kata demi kata yang disampaikan Iman. Ia tak menyangka bahwa Iman bisa mengucapkan kalimat romantis itu.

__ADS_1


Qonita membalas kata-kata indah sang suami. Tangannya berpindah pada dada suaminya.


"Sesekali, bukalah laci dadamu, sebab disana telah kuselipkan denyut bahagia, hulu dari setiap harap dan doa." Qonita mengejakan kata demi kata dengan perlahan-lahan, matanya syahdu menatap mata suaminya, sambil tersenyum mengucapkannya, serta mengusap lembut dada suaminya.


Iman menarik tangan istrinya yang ada di dadanya. Tangan itu kini dia genggam dengan mesra.


"Kamu mungkin menggenggam tanganku sebentar, tapi Kamu telah menggenggam hatiku untuk selamanya."


Seolah tak ingin kalah. Qonita memeluk suaminya. "Pelukmu adalah pulang yang kutuju, dari kegilaan paling tajam."


Iman membalas pelukan istrinya dengan mendekap erat tubuh sang istri.


"Hanya ada dua waktu, Aku ingin bersamamu. Sekarang dan selamanya. Sayang, mari kita habiskan waktu untuk membuat cinta yang sempurna.”


Iman mengurai pelukan mereka. Wajah mereka kini sudah berhadapan, mata mereka saling menyelami, mendalami perasaan satu sama lain.


Seperti kata Aristoteles, cinta terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh. Seperti itulah mereka kini.


Iman menyentuh wajah istrinya dengan ibu jari tangan kanannya. Jari itu bergerak dari ujung alis mata turuh ke pipi lalu berhenti di bibir istrinya.


"Setiap kalimat yang terucap dari mulutmu sangat meny3ntuh, Sayang. Kali ini, biarkan Aku yang meny3ntuhmu. Meny3ntuh setiap inchi tubuhmu dengan bibir dan lidahku."


Suara Iman terdengar parau. Mata Iman terlihat sayu kini. Mata itu, mata mendamba. Qonita menyadari ada kabut ga!rah yang cukup besar menerjang sisi kelelakian suaminya. Sebelum semua terjadi, ia harus menghentikannya sejenak.


“Abang, sholat dulu, yuk." Qonita menyentuh wajah suaminya lembut dengan jemarinya.


Lalu Iman bangkit dan mengangkat kedua tangannya ke atas. "Nyerah Sayang, nyerah, arrrgghh..." teriaknya frustasi sambil segera beranjak ke kamar mandi guna mengambil air Wudhu.


Qonita yang masih berada di tempat tidur terkekeh dibuatnya. Ada saja ulah suaminya yang membuatnya tertawa geli.


Setelah mengambil wudhu, mereka melaksanakan Sholat Sunnah 2 rakaat. Ini adalah kali pertama mereka sholat berjamaah berdua. Qonita merasa bahagia, karena sedari magrib tadi, dia mengharapkan bisa sholat berjamaah diimami oleh suaminya.


"Sebentar ya, Bang," seru Qonita setelah selesai merapikan mukena. Iman mengangguk.


Mata Iman mengawasi Qonita yang berjalan ke arah lemari yang ada di sudut. Mengambil sesuatu yang sepertinya pasti pakaian, lalu berjalan membelakangi Iman dan menutupi benda yang ia ambil tadi dengan tubuhnya.


Singgah sebentar mengambil parfum yang ada di meja rias. Lalu buru-buru menuju kamar mandi.


Iman tersenyum melihat tingkah istrinya. Sepertinya ia memahami apa yang akan dilakukan istrinya di dalam kamar mandi.


Iman menggigit bibirnya lalu tersenyum sendiri.


"Qonita, Sayang, arrrgh... Kamu benar-benar membuatku gila," ucapnya pelan.


Sekitar 10 menit, Qonita keluar lalu meletakkan parfum kembali ke meja rias. Ia berjalan mendekati Iman sambil menunduk. Tak berani menatap ke arah suaminya.

__ADS_1


Iman memandanginya sambil menaham senyum serta menahan ga!rah. Qonita yang selama ini dilihatnya selalu tertutup dengan hijab, kini terpampang nyata dihadapannya dengan menggunakan kimono renda berbahan tipis.


"Sayang." Iman menyambut istrinya untuk duduk dihadapannya. Qonita masih menunduk.


"Kamu pakai ini?" Iman menyentuh lengan Qonita, tentu saja mengenai outer tipis berwarna hitam itu.


Qonita menangguk. "Abang meminta ini kemaren, kan?"


"He em. Cantik, dan... sexy." Suara Iman terdengar parau dan sangat menggoda.


Iman menyingkap rambut Qonita ke belakang telinganya. Iman bisa melihat anting yang Qonita pakai.


"Ini, yang Aku kasih?" tanya Iman sambil memegang anting tersebut.


Qonita mengangguk.


"Untuk setiap keindahan, ada sepasang mata di satu tempat yang melihatnya." Iman mengecvp mata Qonita.


"Untuk setiap kebenaran, ada sepasang telinga di satu tempat yang mendengarnya." Iman lanjut mengecvp telinga Qonita.


Tubuh Qonita meremang saat nafas Iman menggelitik daun telinganya.


"Untuk setiap cinta, ada hati di satu tempat yang menerimanya. Ivan Panin." Iman menyentuh dada Qonita.


Menatap dalam ke mata istrinya. Lalu ia mencondongkan wajahnya. Saat wajah mereka hampir bersentuhan Qonita memejamnya matanya.


Cvp


Iman memberikan kecvpan singkat di bibir Qonita.


Iman menyentuh pipi Qonita. Qonita membuka matanya.


"I love you." Mata penuh kabut gairah itu mendekati Qonita.


Cvp


Sebuah kecvpan kembali mendarat di bibir Qonita.


"So much."


Cvp


Qonita masih terlihat pasrah menerima kecvpan demi kecvpan itu.


"Like crazy." Suara Iman semakin terdengar lirih dan parau.

__ADS_1


Cvp


Qonita yang mendapatkan beberapa kecvpan di bibirnya terlihat kaget saat kecvpan itu berubah menjadi lvmatan.


__ADS_2