
Iman POV
Aku harus hubungi Qonita, biar tau gimana reaksi mamanya. Sengaja Aku lakukan Video Call, biar bisa liat dia, terutama bibirnya itu, oh apel fujiku...
"Assalamualaikum." Agak lama dia baru mengangkat panggilanku.
"Waalaikum salam, Sayang. Maaf, kamu udah tidur?" Kulihat jam ternyata sudah menunjukkan waktu pukul 21.20 WIB.
"Belum Bang, masih beres-beres. Ada apa, Bang?"
"Kangen, Sayang."
"Astagfirullah. Bang, tadi sore kita jumpa, lho."
"Hahaha... iya, Sayang. Beberapa detik gak liat Kamu tuh rasanya dah kangen aja, Sayang. Oh iya, gimana pendapat mama Kamu?"
Qonita terlihat berfikir. "Mama menyerahkan sama Qonita, Bang."
"Bagus donk, kalo gitu. Artinya kita bisa cepat-cepat nikah, Sayang."
"Ck. Bang..."
"Lho, hal baik kan harus disegerakan, Sayang."
"Banyak yang harus kita omongin dulu, Bang."
"Iya, Sayang. Mau ngomongin apa?"
"Mmmm, Abang kapan ada waktu?"
"Untuk Kamu selalu ada waktu, Sayang." Aku tersenyum lebar.
"Besok, habis pulang ngajar bisa?"
"Bisa, Sayang. Besok Aku jemput, ya?"
"Gak usah, Bang. Ketemuan disana aja."
"Ok, Sayang. I love you."
"Assalamualaikum, Bang." Bukannya membalas pernyataan cintaku, dia malah menutup dengan mengucap salam.
"Love you too," ucapku sengaja.
Qonita mencebikkan bibirnya kala Aku menyindirnya karna tak menjawab pernyataan cintaku.
"Dibalas donk, Sayang. Susah amat bilang gitu aja. Ya udah, jangan lama-lama tidurnya. Mimpi indah, mimpiin Aku, Sayang. Waalaikum salam."
Aku tersenyum setelah panggilan itu berakhir.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Author POV
Sepulang mengajar Qonita langsung menuju cafe tempat dia dan Iman janjian ketemu.
Qonita datang terlebih dahulu, 5 menit kemudian Iman baru hadir.
"Assalamualaikum. Maaf, Sayang. Aku telat."
"Waalaikum salam, Bang. Gapapa kog, Bang." Qonita terkekeh kecil.
Iman mengernyit. "Kenapa, Sayang."
Qonita tersenyum. "Gapapa, Bang. Qonita pikir, Abang gak bisa minta maaf."
Iman makin mengernyit.
"Di pertemuan pertama kita, Abang telat 30 menit, dan Abang gak minta maaf sama sekali. Kali ini, Abang telat cuma 2 menit." Melihat jam yang ada ditangannya. "Tapi Abang malah minta maaf."
Iman menghela nafas. "Ya beda donk, Sayang. Kalo yang kemaren kan, emang disengaja."
Qonita menatap tajam meminta penjelasan.
"Ya, kemaren kan Aku gak mau dijodohin lagi, Sayang. Sengaja lah datang lama, biar Kamu kesal." Iman jujur pada Qonita.
Pegawai cafe datang membawa daftar menu. Qonita dan Iman memesan minuman dan makanan ringan.
"Ya karna Kamu udah jampi-jampi Aku, Sayang."
"Astagfirullah. Bang, ih. Ngomongnya yang bener, jangan gitu ah."
"Hahaha... kan bener, Sayang. Buktinya Aku tuh bisa cinta mati gini, sama Kamu. Gak liat Kamu tuh, serasa hampa tau gak, kayak ada sesuatu yang hilang."
"Ck." Qonita mendecak.
"Serius lho, Sayang." Iman mengerling padanya sambil tersenyum simpul. "Kamu mau ngomongin apa?"
"Mmm... Abang pengen punya anak berapa?" Qonita terlihat ragu menanyakannya.
"Anak? Aku gada target seh, Sayang. Sedikasihnya aja," ucap Iman ringan.
"Tapi Abang pasti pengen punya anak laki-laki, kan?" Qonita berucap sendu.
Iman masih bingung akan arah pertanyaan Qonita. "Kan ada Fuad dan Nabil, Sayang."
"Hem, iya. Tapi pasti Abang dan keluarga Abang, menginginkan adanya anak laki-laki dari keturunan Abang. Apalagi Nana belum punya anak laki-laki juga, kan. Setidaknya harus ada yang akan meneruskan bisnis keluarga Abang."
"Masalahnya dimana, Sayang?" tanya Iman susah menebak fikiran Qonita.
__ADS_1
"Masalahnya kelahiran Fuad dan Nabil itu, caesar Bang. Dan Abang tau kan, perempuan yang melahirkan dengan operasi itu, gak bisa punya anak banyak." Qonita menghela nafas sebentar.
"Qonita udah 2 kali caesar, Bang. Anak Qonita dua-dua laki-laki. Kalau kita menikah, dan ternyata anak yang lahir perempuan gimana?"
Iman tersenyum. Akhirnya mengerti maksud kegundahan Qonita. "Seberat itu Kamu mikirnya, Sayang?" Iman menatap lembut Qonita.
"Qonita, Sayang, jangan membebani diri Kamu dengan hal-hal yang gak penting kayak gini. Kalau pun iya, Aku, papa, mama bahkan Nana menginginkan anak laki-laki, tapi kalau Allah gak berkehendak, kita bisa apa, Sayang."
"Lagian, anak laki-laki atau perempuan itu kan, yang nentuinnya kromoson dari Aku, Sayang. Kamu kan tinggal nerima, apa yang Aku kasih ke Kamu."
Iman mengerling sambil tersenyum, semakin mengoda Qonita. "Tapi Aku nanti, bakal buat kamu bas4h Sayang, biar kromoson Y nya mampu menerobos masuk ke rahim Kamu."
Qonita menunduk malu mendengar kalimat vulgar Iman.
Pesanan mereka datang. Iman meneguk minumannya.
"Kalau yang lahir perempuan?" tanya Qonita sambil menikmati pesanannya.
"Berarti Allah memberi kita 2 pasang anak, 2 laki-laki dan 2 perempuan," jawab Iman enteng.
Qonita menghela nafas.
"Gapapa, Sayang. InsyaAllah, Aku dan keluargaku gak akan mempermasalahkan itu. Kamu jangan khawatir." Iman berusaha meredakan kegundahan Qonita.
"Seandainya jika Allah belum menitipkan anak laki-laki di pernikahan kita, apa Abang akan memaksa Fuad dan Nabil yang akan meneruskan bisnis Abang?"
"Sayang, saat kita nanti menikah, Fuad dan Nabil akan Aku anggap sebagai anak Aku. Dan Aku pasti berharap mereka akan meneruskan usaha yang Aku jalani. Tapi, Aku gak akan memaksakan kemauanku, Sayang. Baik pada Ichy, Fuad, Nabil ataupun anak kita nanti."
Qonita mengangguk mengerti.
"Setelah kita menikah, apa Qonita masih boleh terus bekerja, Bang? Mungkin, gaji Qonita bahkan tak lebih besar dari gaji ART di rumah abang."
Iman terkekeh. "Jangan khawatir, Sayang. Aku gak akan membatasi Kamu. Dari awal Aku tau, Kamu perempuan yang bekerja. Jika Aku memang menginginkan seorang istri yang hanya dirumah saja, Aku gak harusnya memilih Kamu, Sayang.
"Tanyakan apapun yang ingin Kamu tanya, Sayang," ucap Iman melihat Qonita seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak jadi.
"Kalau sudah menikah, apa ada batasan suami dan istri menurut Abang? HP misalnya. Apa itu privacy yang gak boleh diganggu oleh pasangan?" tanya Qonita.
"Kamu maunya gimana, Sayang? Kalau Kamu tanyak Aku, Aku gada masalah sama sekali. Kamu boleh periksa dan pegang HP Aku sepuas Kamu. Pegang yang lain juga boleh." Iman menunjukkan wajah mesumnya.
Qonita mendecih. Iman malah tertawa melihat kekesalan Qonita. "Hahaha.."
"Gada batasan suami dan istri, Bang. Kalau kita menikah, Abang harus kasih tau pasword HP Abang. Dan Abang gak boleh marah kalau tiap hari Qonita periksa HP Abang."
Iman masih terus terkekeh. "Ini polanya, Sayang." Iman meletakkan HP nya dihadapan Qonita. Lalu memberitahukan pola untuk membuka HPnya.
"Periksa sekarang juga gapapa, Sayang," ujar Iman.
Qonita menggeleng. "Nggak, Bang. Nggak sekarang."
__ADS_1
"Yah, padahal dah seneng, kalo sekarang Kamu pegang lho, Sayang." Iman terus-terusan menggoda Qonita. "Ternyata Kamu posesif juga, ya. Cemburuan pasti, ya kan?"