PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 120 Terlambat Sudah


__ADS_3

Sambungan flashback beberapa tahun yang lalu...


Jihan sudah terbiasa akan sikap cuek dan cool suaminya. Hanya beberapa kali dia protes saat Iman akan pergi keluar kota. Terutama saat dia hamil dan setelah melahirkan.


"Mas, Kamu tuh harusnya jadi suami siaga. Istrimu lagi hamil kog Kamu malah sering keluar kota?" Jihan protes pada suaminya.


"Ada pekerjaan yang harus Aku urus diluar Kota, Jihan."


Tentu saja yang dimaksud Iman adalah mengurus istrinya yang satu lagi, yang juga sedang hamil.


"Masa' iya, pekerjaan Mas lebih penting dari istri dan calon anak kita." Jihan memasang wajah jutek.


"Aku gak akan lama. Kalau ada apa-apa, langsung kabari Aku," ucap Iman datar.


"Sekarang aja udah apa-apa, Mas tetap pergi juga, kog." Jihan mengambek. Dia tidur miring membelakangi suaminya.


Suaminya memang tidak pernah membujuknya jika dia sedang merajuk. Tetapi kali ini dia berharap suaminya membujuknya, setidaknya di dalam tubuhnya sedang ada darah dagingnya saat ini.


Tapi ternyata tidak. Suaminya tetaplah suaminya, pria cuek dan dingin. Tidak pernah berubah hingga apapun yang terjadi, walau sudah hadir sesosok mungil diantara mereka.


"Mas, biasa para suami itu ci um dan bilang cinta sama istrinya setelah istrinya melahirkan. Mas kog gak gitu, seh?" tanya Jihan setelah dia ditempatkan di ruangan pasca melahirkan.


Iman mendekati Jihan. Dici um nya dahi istrinya. Hanya itu, tanpa ada pernyataan cinta atau sejenisnya.


"Gak bilang sesuatu gitu?" tanya Jihan heran.


"Cepat pulih. Istirahatlah. Kamu udah lelah berjuang dari tadi." Jihan menghela nafas mendengar ucapan suamimya.


"Melahirkan itu bertaruh nyawa, Mas. Andai Aku tadi gak selamat saat melahirkan putri kita, apa Kamu akan merasa sedih, Mas? Apa Kamu akan merasa kehilangan? Apa nunggu Aku gak ada dulu baru Mas akan bilang cinta ke Aku?"


Iman menatap lama pada Jihan yang sudah memejamkan matanya.

__ADS_1


Atau setelah sebulan Jihan melahirkan, Iman mulai kembali melakukan perjalanan keluar kota.


"Mas, putri kita bahkan belum genap berusia 40 hari, Kamu udah mau keluar kota?" tanya Jihan marah.


"Usianya udah sebulan, Jihan. Dan Aku yakin Kamu bisa merawatnya dengan baik ketika Aku lagi pergi." Selalu seperti itu jawaban suaminya.


Mayang yang sedang hamil tua juga menuntut suaminya agar menjaganya. Iman terpaksa pergi karena sepertinya Jihan sudah bisa ditinggal.


Dan ketika putri semata wayangnya bersama Jihan, Ichy berusia 4 tahun, Iman mendapat kabar bahwa istrinya mengalami kecelakaan. Saat itu siang hari, Iman sedang berada di Binjai, tepatnya menghabiskan waktu bersama Mayang dan Yuna.


Dengan tancap gas Iman mengendarai mobilnya, menuju rumah sakit dimana Jihan dibawa.


Mertua Iman, orang tuanya, kakak ipar serta Jamal sudah tiba di rumah sakit terlebih dahulu. Tentu saja Jamal sudah menyiapkan jawaban terbaik ketika dia ditanya dimana keberadaan bosnya itu.


Ketika Iman sampai di rumah sakit, dia disuguhkan oleh tangisan histeris dari mama mertua, kakak ipar serta mamanya.


Deg


Iman membeku. Bulu kuduknya berdiri. Tanpa perlu bertanya, dia sudah tahu jawabannya.


Pertanyaan yang pernah diajukan Jihan muncul seketika.


Dia tatap wajah pucat istrinya yang telah tiada. Wajah itu terlihat murung, persis seperti saat-saat istrinya sedang merajuk.


Deg


Iman membungkukkan badannya. Wajahnya mendekati telinga almarhumah istrinya.


"Aku mencintaimu, my honey." Iman meneteskan air matanya.


Seluruh keluarganya yang hadir melihat dan dapat mendengar apa yang diucapkan Iman. Mereka pikir, Iman benar-benar sayang pada Jihan.

__ADS_1


Ditambah lagi, beberapa hari setelah kepergian Jihan, Iman masih terus berduka. Seminggu lamanya dia tidak masuk kantor.


Orang tuanya datang melihatnya. Mereka memperhatikan bagaimana Iman dengan telaten menjaga cucu mereka.


Flashback off...


❤️❤️❤️


"Aku fikir, Aku harus menyesal karena terlambat mengatakan perasaanku padanya. Rupanya Aku lebih harus menyesal lagi karena ternyata dia meninggal gara-gara Aku, Sayang. Aku yang telah membunuhnya."


Deg


Qonita terkejut mendengar ucapan suaminya.


"Bang..." ucap Qonita lirih. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul di fikirannya.


"Dia meninggal gara-gara Aku, Sayang. Pada saat kecelakaan itu, ternyata dia pergi ke Binjai. Dia melihat Aku bersama Mayang."


Deg


Qonita merinding mendengarnya. Dia menelan ludahnya. Beristigfar dalam hati. Lalu mencoba mengambil nafas panjang untuk meredakan keterkejutannya.


Qonita mengingat bagaimana perih hatinya saat melihat suaminya bersama perempuan lain. Bersyukur saat itu dia sedang bersama teman-temannya.


Sementara Jihan, mengendarai mobil seorang diri. Qonita tahu persis sesakit apa hati Jihan saat itu. Karena dia pun sampai sakit beberapa hari setelahnya.


Tanpa bisa dibendung, air mata Qonita mengalir dengan derasnya.


"Astagfirullahal adziim..." Qonita beristigfar.


Ada janin dalam perutnya yang harus dia jaga. Jangan sampai emosinya mengganggu perkembangan janinnya

__ADS_1


Qonita memeluk erat suaminya.


❤️❤️❤️


__ADS_2