PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 107 Tidak Ada Restu


__ADS_3

..."Hal paling menyakitkan adalah kehilangan diri sendiri dalam proses terlalu mencintai seseorang, dan lupa bahwa kamu juga spesial." - Ernest Hemingway....


Medan, Sumatera Utara


Pagi ini Qonita melakukan video call dengan anak-anaknya melalui HP oma Herni. Semalam ketiga anaknya kehilangan papi dan bundanya. Oma Herni menjelaskan pada anak-anak bahwa bundanya harus istirahat di rumah sakit karena sedang mengandung adik mereka.


"Assalamu'alaikum, Bunda," ucap ketiga anaknya.


"Wa'alaikum salam, Anak-Anak Bunda. Udah sarapan, Nak?"


"Udah, Bunda," jawab ketiga anaknya.


"Bunda diimpus? Sakit ya Bunda disuntik?" tanya Nabil melihat tangan bundanya diinfus.


"Sakit sedikit aja, Sayang," ucap Qonita.


"Kayak digigit semut ya, Bunda?' tanya Fuad.


"Iya, Sayang." Qonita terkekeh kecil.


"Bunda, kata oma Bunda lagi hamil, ya? tanya Ichy.


"Di pe rut bunda ada adeknya ya, Bun?" tanya Nabil.


Qonita tersenyum mendengar pertanyaan anak-anaknya. "Iya, Sayang. Senang gak kalau kalian mau punya adek?"


"Senang, Bunda," sahut ketiga anaknya.


"Adeknya laki-laki apa perempuan, Bunda? tanya Ichy.


"Belum tahu, Sayang. Yang penting sehat. Do'ain ya, biar Bunda dan calon adek bayinya sehat."


"Iya, Bunda."


❤️❤️❤️


Dokter datang melakukan visit. Qonita meminta pulang kepada dokter. Dokter mengatakan karena fleknya tidak keluar lagi, maka sehari ini diobservasi dulu. Jika dia sudah lebih baikan dan tidak ada kendala apapun maka dia sudah bisa pulang besok.

__ADS_1


Banyak istirahat, jangan terlalu lelah, hindari stres, serta pola makan yang sehat adalah hal yang disarankan dokter.


Sedari tadi Qonita mengetahui bahwa HP suaminya ada yang menghubungi. Walau hanya memasang mode getar, suara getaran dari kantong celana suaminya terdengar oleh Qonita.


"Kenapa gak diangkat, Bang? Angkat aja, mana tau penting," ujar Qonita.


"Gak ada yang lebih penting dibanding Kamu, Sayang." Qonita mencebik mendengar ucapan suaminya. Walau terdengar seperti rayuan pulau kelapa, tetapi Qonita menyukainya.


"Kenapa senyum-senyum gitu?" tanya suaminya.


"Malu ih, sama calon anaknya," sahut Qonita.


"Lho, ya anaknya suka Sayang. Tuh Kamu senyum-senyum gitu, kan karena buah cinta kita senang dengarnya."


"Buah cinta?" tanya Qonita terdengar agak aneh.


"Iya, donk. Dia ada kan karena kita memadu kasih, Sayang. Makanya Kamu cepat sembuh, biar kita bisa mengulang kembali hal-hal mengasyikkan itu. Jadi anaknya tambah senang." Iman mengerling pada istrinya.


"Itu maunya Abang, bukan anaknya," bantah Qonita.


"Iya... Iya. Mau papinya. Mau bundanya. Mau anaknya juga. Hahaha..." Iman tergelak sendiri. Sementara Qonita menggeleng mendengar ocehan suaminya.


"Gimana kabar Kamu, Sayang?" tanya oma Herni pada Qonita.


"Alhamdulillah udah enakan, Ma. Tadi kata dokter besok udah bisa pulang," ungkap Qonita.


"Alhamdulillah." Oma Herni bersyukur mendengarnya.


"Mama sampai jam berapa disini?" tanya Qonita.


"Sampai sore, Sayang. Kenapa, Kamu butuh apa?"


"Kalau Mama sampai sore, Abang pulang aja. Kerjaan Abang lagi banyak-banyaknya, kan? Dari tadi HP Abang getar terus."


"Masalah kerjaan udah di handle sama Papa. Papa lagi bantuin Jamal. Jadi tenang aja, Iman harus 24 jam dampingin Kamu, Sayang." Oma Herni menekankan kata 24 jam sambil melirik putranya itu.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Sore hari oma Herni pulang. Tadi saat Qonita tidur, oma Herni dan Iman berbicara di luar ruangan.


"Berapa orang anak Kamu dengannya?" tanya oma Herni pada putranya.


"Satu, Ma. Yuna namanya. Beda 3 bulan dari Ichy," jawab Iman.


"Dia yang dari tadi hubungin Kamu?"


"Iya. Dari semalam dia nyuruh Aku kesana. Kalau nggak Mamanya mau bawa dia dan Yuna ke Jakarta."


"Trus apa rencana, Kamu?"


"Belum tahu, Ma. Aku cuma bilang sekarang gak bisa kesana. Aku ngizinin dia pergi nemuin keluarganya. Udah 8 tahun mereka gak berjumpa. Kalau situasinya udah memungkinkan, Aku baru kesana."


"Kesana mau apa? Mau jemput dia pulang? Mau Kamu sembunyikan dimana lagi?" cecar oma Herni.


"Aku udah janji gak akan menceraikannya, Ma. Dia juga udah banyak menderita karena Aku gak adil sama dia. Delapan tahun dia udah bertahan."


"Sama gak adilnya kayak ke Jihan dulu, kan?"


Deg


Iman terdiam mendengar ucapan mamanya


"Mau Kamu suruh bertahan seberapa lama lagi? Apa sampe meninggal kayak Jihan dulu?"


Deg


Iman menelan ludahnya.


"Mama bukan gak kasihan sama dia, Man. Tetapi menyuruhnya bertahan lebih lama lagi sama artinya menyuruhnya berkorban terus. Kamu sangat mencintai Qonita, dia pasti tahu. Sungguh menyakitkan mengetahui orang yang sangat kita cinta ternyata mencintai orang lain," ucap Oma Herni.


"Sementara Qonita, walau bibirnya berkata ikhlas, tapi hatinya pasti tetap merasa sakit. Dan Qonita menutupi kesalahan Kamu dari keluarganya. Seberapa besar lagi Kamu meminta pengorbanan dari kedua istrimu?" imbuh oma Herni.


"Jangan menutup hatimu dengan berkata Kamu melakukan yang terbaik bagi semua, sementara pada kenyataannya semua menderita dalam diam," sambung oma Herni penuh penekanan.


"Gak ada yang merestui pernikahanmu dengan Mayang, baik keluarga kita maupun keluarganya. Sementara semua merestui pernikahanmu dengan Qonita. Dan semua berbahagia karenanya, termasuk Ichy. Fikirkanlah, Nak." Oma Herni menepuk pundak anaknya."

__ADS_1


❤️❤️❤️


...“Aku bukanlah orang yang mampu merubah racun menjadi madu, karena tak bisa ku ubah cinta kita yang jauh dari kata restu.” - anonim....


__ADS_2