PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 65 Fuad dan Opa


__ADS_3

Sepulang dari rumah oma Wina, wajah Iman terlihat datar. Qonita enggan bertanya, dia meyakini suaminya pasti akan menceritakan padanya jika memang ingin.


Di dalam kamar, suaminya memeluknya. Tidak berbicara, hanya tubuh mereka yang saling mendekap, seolah menyampaikan rasa yang ada di hati, tanpa perlu diungkapkan.


❤️❤️❤️


Keesokan hari, opa Pras membawa Fuad ke sebuah gedung berlantai 5. Gedung ini adalah kantor milik teman opa Pras.


"Wah, orang penting datang, harusnya ngabari dulu, biar bisa disambut meriah," seloroh seorang laki-laki seusia opa Pras.


Opa pras dan lelaki itu berjabat tangan. Disusul Fuad menyalam teman opa Pras itu. Lalu mereka duduk, teman opa mengarahkan agar duduk di sofa saja, biar agak santai.


"Hahaha... Kan mau sidak, masa' ngomong-ngomong dulu. Gak ketangkap, donk," kelakar opa Pras.


"Hahaha... Siapa ini?" tanya teman opa.


"Cucuku. Ganteng kayak Aku, kan?" Opa pras menaikkan alisnya tersenyum lebar.


"Hahaha... Udah ada penerus tahta rupanya. Pantesan pagi-pagi udah datang, rupanya mau memperkenalkan calon penerus," ledek teman opa Pras.


"Mumpung belom TK, jadi bisa kubawa. Sambilan lah, tapi yang pasti bukan pencitraan," seringai opa Pras.


"Hahaha... Kalau dari wajah dan postur tubuh, sebelas dua belas sama Iman. Kalau orang gak kenal, bisa diakui jadi cucu kandungmu. Pintarnya sama kayak Iman, gak?"


"Jangan salah, yang ini jauh lebih hebat. Bundanya cikgu. Otomatis ujiannya lulus. Boleh di tes, kalau mau."


"Hahaha..." Lagi-lagi teman opa Pras tergelak. "Siapa nama Kamu, Boy?" tanya teman opa.


"Fuad, Opa."


"Cita-citanya mau jadi apa?" tanya teman opa.


"Mau jadi Hafidz, Opa."


"Wah, Hahaha... Hebat," seru teman opa mengacungkan jempol kanannya. "Sori, Pras. Kutarik balik ucapanku, gak cocok jadi turunanmu. Bukan dia yang gak pantas jadi cucumu, tapi Kamu. Hahaha..." Teman opa Pras tertawa puas.


"Ck. Kita itu dikatakan berhasil kalau anak keturunan kita jauh hebat diatas kita. Jadi kalau cucuku hebat begini, ya berarti keberhasilanku, donk," ucap opa Pras bangga.


"Tapi katanya dia mau jadi ustadz, bukan pebisnis."


"Bukan ustadz, tetapi Hafidz. Hafal Al-Qur'an untuk akhiratnya, bisnis untuk dunianya. Lengkap, kan?" ralat opa Pras.


"Hem, ya ya ya. Mau makan disini, apa diluar aja?" tanya teman opa Pras. Mengingat tidak lama lagi akan masuk waktu makan siang.


" Disini aja, lah. Siap itu, Aku mau ajak Fuad keliling kantor, Kamu."


"Oke, siapa tahu ntar mau magang disini, dulu. Sebelum ambil alih tahta di kerajaanmu," goda teman opa Pras.

__ADS_1


"Hahaha... Punya sendiri, ngapain besar-besarin kerajaan tetangga," cibir opa Pras.


"Hahaha, mana tau butuh surat pengalaman kerja, biar kita atur."


"Hahaha..." Dua laki-laki paruh baya itu tergelak bersama.


❤️❤️❤️


Tanpa terasa, perbincangan yang penuh tawa itu telah dilewati cukup lama. Makanan sudah terhidang. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 Wib. Mereka makan bertiga di ruangan kerja teman opa Pras.


"Allahu Akbar... Allahu Akbar..." Terdengar suara adzan dzuhur dari mesjid yang ada di depan kantor, beberapa menit setelah mereka menyelesaikan makan siangnya.


"Adzan, Opa," ucap Fuad spontan. Karena baik bersama Vivi atau Bundanya, mereka membiasakan anak-anak mengerti saatnya melakukan sholat, jika adzan sudah berkumandang.


Opa Pras dan temannya sama-sama menoleh pada Fuad.


"Kenapa?" tanya opa Pras.


"Waktunya sholat."


"Hahaha, pinter banget," ucap opa Pras mengelus kepala Fuad. "Kita sholat jamaah, dipimpin pimpinan di kantor ini," celetuk opa Pras.


"Aduh, opa lagi halangan, neh. Kalian jamaah berdua aja, ya," ucap teman opa Pras.


"Hahaha..."


❤️❤️❤️


"Pantes rajin datang, udah ada pengawal rupanya," ucap opa Hanafi, teman dari opa Pras.


"Mumpung ada yang nemani, sekalian bawa dia jalan-jalan," jawab opa Pras.


"Ck. Ini opanya yang jalan-jalan namanya. Kalau bawa cucu jalan-jalan, ke wahana permainan sana."


"Hahaha..." Opa Pras tergelak mendengar ucapan temannya.


"Yang satu lagi mana? Ada dua kan cucu laki-lakimu sekarang?"


"Iya, adeknya di rumah, sama bundanya. Kali ini Aku pinjam satu, dulu." Opa pras tersenyum.


"Sebentar Aku panggil cucu-cucuku. Andi, Mindy sini," teriak opa Hanafi memanggil kedua cucunya.


Opa Hanafi mengenalkan Fuad pada sepasang cucunya itu. Lalu mereka menyalam opa Pras. Andy sekarang kelas 3 SD. Sedangkan Mindy kelas 1 SD.


"Ayo dek, kita lanjut hafalannya lagi," ajak Andy pada Mindy, adiknya.


"Lagi hafal asmaul husna sama Surat Al-Kafirun, ya?" tanya Fuad pada Andy dan Mindy.

__ADS_1


"Eh, kog Kamu tau?" tanya Mindy pada Fuad.


"Iya, tadi Fuad dengar," jawab Fuad. Sedari tadi ia memang memperhatikan suara dua anak kecil yang sedang mengulang-ulang hafalannya.


"Kamu hafal surat Al-Kafirun?" tanya Mindy antusias.


"Hafal." Fuad mengangguk.


"Coba, Aku mau dengar," pinta Mindy.


"Bismillahirrahmanirrahiim. Qul yā ayyuhal-kāfirụn. Lā a'budu mā ta'budụn. Wa lā antum 'ābidụna mā a'bud. Wa lā ana 'ābidum mā 'abattum. Wa lā antum 'ābidụna mā a'bud. Lakum dīnukum wa liya dīn."


"Wah, keren. Emang Kamu udah kelas berapa?" tanya Mindy.


"Belum sekolah. Tahun depan baru TK," jawab Fuad.


"Ha?" Jadi kog udah hafal?" tanya Mindy heran, kenapa Fuad sudah bisa menghafal surat yang ia sulit menghafalnya itu.


"Iya, udah diajarin sama bunda dan kak Vivi. Asmaul husna juga udah hafal." Fuad menjelaskan.


"Ha? Pinter banget. Yok temani Aku hafal, mau?" tanya Mindy.


"Iya." Fuad pun mengangguk.


"Ayok, sini. Biar gak ribut." Mindy menarik tangan Fuad, mengajak agar masuk ke ruang dalam. Abangnya, Andi mengikuti di belakang.


"Wah, keren cucumu. Cucuku kalah saing sama anak belum sekolahan. Wah, tak patut," ucap opa Hanafi, setelah mereka ditinggal berdua di ruang tamu.


"Hahaha... cucuku yang ini beda. Makanya udah go public aja. Hahaha..." Opa Pras tertawa puas.


"Mantu barumu guru, kan?" tanya opa Hanafi.


"Iya. Cikgu."


"Guru ngaji?" tanya opa Hanafi agar lebih jelas.


"Eh eh eh... Ya bukanlah. Guru S-M-A," ucap opa Pras perlahan-lahan tetapi tegas.


"Dapat dimana?"


"Turun dari langit, hadiah untuk putraku yang setia menduda 2 tahun lamanya." Opa Pras menyeringai lalu tersenyum lebar.


"Apa anakku perlu menduda 2 tahun juga biar dapat mantu dari langit kayak mantumu itu?" seloroh opa Hanafi.


"Hahaha..." Mereka tergelak bersama.


Pulang dari rumah opa Hanafi, Fuad masih ikut pulang ke rumah opa Pras. Dua hari lagi baru opa Pras memulangkan Fuad. Opa Pras belum puas membawa Fuad berkeliling. Masih ada beberapa tempat yang hendak dikunjungi opa bersama Fuad, cucu lelakinya.

__ADS_1


__ADS_2