
"Yah, padahal dah seneng, kalo sekarang Kamu pegang lho, Sayang." Iman terus-terusan menggoda Qonita. "Ternyata Kamu posesif juga, ya. Cemburuan pasti, ya kan?"
Qonita menunduk malu. "Bang, Abang tau kan, alasan kami berpisah?" Iman mengangguk.
"Qonita gak akan bisa memaafkan, kalau Abang -"
Belum selesai Qonita menyempurnakan kalimatnya, Iman malah menggenggam erat tangannya.
Qonita terdiam dan kaget dengan yang dilakukan Iman.
"Setelah Kamu, gak akan ada perempuan lain, Sayang. Kamu yang terakhir. Kamu bisa pegang kata-kata Aku. Aku janji," ucap Iman meyakinkan.
Lalu Iman melepas genggaman tangannya, karna mengetahui Qonita yang merasa tak nyaman.
Qonita mengangguk.
Selama ini, Iman memang kerap menggodanya. Namun tak pernah sekalipun berani menyentuhnya.
Awalnya Qonita sempat ingin menarik tangannya. Namun ketika Iman memulai kalimatnya, Qonita menatap lekat pada mata Iman, ia melihat kesungguhan dari kata-kata yang diucapkan Iman.
Mungkin genggaman tangan ini dilakukan Iman untuk menunjukkan keseriusannya.
"Apalagi, Sayang? Tanyak donk. Aku suka semakin tau lebih banyak tentang Kamu."
"Lho, kan Qonita yang bertanya, Bang?"
"Bener, Sayang. Tapi dari pertanyaan-pertanyaan Kamu itu, Aku bisa mengetahui sifat-sifat Kamu yang lain, Sayang."
Qonita mencebik mendengarnya. "Abang gada yang mau ditanyakan?"
"Ada. Qonita, pekerjaan Aku memungkinkan untuk berpergian keluar kota, bahkan keluar negeri. Apa Kamu keberatan jika Aku melakukannya?"
Qonita terdiam dan sedikit resah. Ia mengenggap tangannya. Raut wajahnya berubah datar.
"Berapa lama, Bang? Paling lama biasanya berapa hari? Terus biasanya sebulan berapa kali perginya?" tanya Qonita.
Iman seperti berfikir. Mungkin ia harus memilih kalimat yang bisa diterima Qonita. Sejauh pembicaraan ini, Qonita terlihat lebih waspada pada pasangannya.
Banyak kekhawatiran tergambar dari wajahnya. Mungkin pengaruh dari alasan kandasnya rumah tangga Qonita sebelumnya.
"Sejauh ini, Aku paling lama pergi 1 minggu." Qonita langsung menunjukkan wajah muramnya.
"Paling sering cuma 2-3 hari, Sayang. Paling banyak, Aku sebulan bisa 4 kali pergi."
"Berarti, seminggu sekali?" tanya Qonita sendu.
"Kalau kita udah nikah, Aku akan ganti polanya, Sayang. Aku akan utus yang lain, buat gantiin Aku. Aku akan kurangi jadwal berpergianku. Tapi mungkin beberapa kali, Aku harus lembur, Sayang."
Qonita hanya diam menunduk.
"Sayang. Kamu percaya kan sama Aku?" Qonita mengangguk.
"Kalau Kamu gak kerja, Aku akan ajak Kamu, Sayang. Aku tau kamu berat jauh-jauh dari Aku. Ya kan?" Qonita merengut sebal.
“Jangan manyun gitu, Sayang. Kalau manyun gitu, apel fujinya nantangin Aku."
"Apel fuji?" tanya Qonita tak mengerti.
"Itu, bibir Kamu." Iman menunjuk ke arah bibir Qonita. "Bibir Kamu itu, laksana apel fuji tau gak. Minta dimakan sama Aku. Hahah..."
__ADS_1
Qonita menggeleng melihat tingkah Iman.
"Kamu mau mahar apa, Sayang?"
"Eh, kog ditanyak sekarang, Bang?"
"Iya donk Sayang, Aku kan butuh persiapan. Siapa tau Kamu minta dibangun 100 candi, hahaha..."
Qonita menghela nafas. "Abang ih, bercanda melulu," sungut Qonita.
"Ya mana tau Kamu minta dihafalin surah yang panjang, Sayang. Lah Aku kan butuh waktu buat ngehapalnya."
"Nggak kog, Bang. Qonita mau emas aja."
"Emas? Berapa kg, Sayang?"
"Abaaaang ih. Gak pake kiloan, Bang. Pake gram aja."
"Oh... 1000 gram?" Qonita langsung melotot.
Iman malah tertawa. "Hahahaaa..."
"Selain emas, maharnya mau apa lagi, Sayang?"
"Udah, itu aja, Bang."
"Rumah, mobil, deposito? Kamu bebas minta lho, Sayang. Aku usahain semampu Aku."
Qonita menggeleng. Enggak Bang, emas aja udah cukup kog."
"Nanti isi hantarannya apa aja, Sayang? Kasih tau di adat Kamu gimana? Ada yang khususnya gak?"
"Beneran? Bukannya harus nyiapin kalung, gelang dan cincin emas yang berat nya berkilo-kilo, ya? Hahha..." Iman tertawa lepas.
"Aku dengar, nikahin orang bermarga harus nyiapin emas banyak-banyak dan tebal-tebal, sampe orang yang pakeknya dikatain kayak toko mas berjalan? Hahha..."
"Aku gak bisa ngebayangin Sayang, kalo Kamu pake emas yang super tebal itu? Hahahah..." Iman tertawa geli membayangkannya.
"Astagfirullah Bang, gak gitu juga kali."
"Hahahah... syukurlah Sayang. Aku kira nanti Kamu diharuskan pakek emas, kayak tante-tante dengan penuh emas ditubuhnya. Hahaha..."
"Qonita malah gak pernah pake emas, Bang. Liat neh, gada emas sama sekali, kan?" Menunjukkan jari dan pergelangan tangannya yang tidak terdapat emas disana.
"Kenapa, Kamu gak suka pakai emas?"
"Iya Bang, lebih aman. Denger cerita orang yang dijambret rasanya ngeri, Bang," ujar Qonita.
"Belom lagi pernah dengar cerita, ada perempuan pake kalung disangka emas, jadi dijambret. Eh, selang beberapa menit kemudian, pencuri itu datang lagi nemuin korban tadi di tempat yang sama, trus maki bilang emasnya palsu, trus lehernya malah digor*k, Bang." Qonita bergidik ngeri.
"Cincin nikah gak pernah Kamu pake juga?"
"Gak pernah Bang, disimpan aja seh dilemari." Qonita tersenyum memperlihatkan giginya.
"Hadduh, ntar Kamu disangka single donk."
Qonita terkekeh. "Ya gak lah, Bang. Temen-temen Qonita juga banyak yang gak pake cincin nikahnya kog. Ya walaupun alasannya beda-beda, ada yang ukurannya udah gak muat lagi, ada yang gak cocok pakai emas, ada yang gak nyaman."
Iman langsung memotong. "Enggak, gak bisa. Kalau kita udah nikah, setidaknya Kamu harus pakai cincin nikah. Aku gak mau ada laki-laki lain yang dekatin Kamu."
__ADS_1
"Iya... iya..." sahut Qonita.
Iman tersenyum mendengar Qonita langsung menyerah.
"Bang..."
"Hem..."
"Dari tadi bahas mahar, cincin nikah. Kayak nikahnya dalam waktu dekat aja."
Iman yang sedang menikmati minumannya langsung tersedak.
"Ya Allah, Sayang. Ya iya lah dalam waktu dekat. Kalo perlu minggu ini. Ngapain lama-lama lagi, seh? Kamu itu yah, lama-lama Aku culik juga, neh!"
"Beneran Abang mau cepat-cepat?" Qonita masih kaget.
"Astagfirullah, Sayang. Aku culik beneran ini!"
"Haa...? Memangnya mau kapan seh, Bang?"
"Minggu ini kita langsung hantaran aja, ya. Gapapa kan gak pake meresek lagi? Biar cepet. Kata om Aku, sekarang udah banyak juga kan, yang kayak gitu? Biar lebih praktis. Intinya kita harus sepakatin dulu semuanya dibelakang."
"Nanti coba Kamu tanyak keluarga Kamu, gimana kira-kira setuju, gak? Kalo setuju kita hantaran minggu ini. Nikahnya 2 minggu setelah hantaran," ucap Iman pasti.
Qonita mendelik. Lalu menelan ludahnya. Hingga beberapa detik masih setia melotot ke arah Iman.
"Sayang," panggil Iman.
"Hem..."
"Berkedip, Sayang. Entar mata kamu kering, lho.
"Hem..."
"Sayang!"
"Eh, iya Bang, maaf. Habis Abang buat terkejut, seh. Orang biasa selang beberapa bulan baru nikah, Bang. Ini masak cuma selang 2 minggu, seh. Bukankah artinya nikah nya 3 minggu lagi? Awal bulan depan?"
"Yup," jawab Iman enteng.
"Qonita gak berani nyampekan ke keluarga, Bang."
Iman mengernyit. "Kenapa?"
"Yang ada keluarga nanti pada heboh Bang, sangking terkejutnya. Mendadak dangdut gini."
"Kamu takut dikira hamil duluan?"
"Astagfirullah, Bang. Ngomongnya asal banget."
"Justru karna itu, gada yang perlu dikhawatirkan, kan? Jadi kenapa harus takut?"
Qonita diam tak sanggup berkata-kata.
"Oke, Aku yang urus. Nanti Aku mintol mama yang ngomong ke bujing Jelia. Kamu tunggu aja kabarnya."
"Tapi, Bang..."
"Husssst! Nurut, Sayang."
__ADS_1
Qonita menyerah.