PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 63 Bersaing Merebut Perhatian


__ADS_3

Sabtu sore, Iman dan keluarganya datang ke rumah opa Pras. Mereka akan menginap disana, memenuhi janji pada oma Herni.


"Fuad, beberapa hari nginap disini, ya. Kan kita ada janji jalan-jalan," seru opa Pras pada Fuad.


"Iya, Opa," jawab Fuad.


"Nabil mau ikut juga, gak?" tanya opa Pras.


"Fuad aja ya, Pa. Kalau Fuad lebih mandiri. Kalau dua-dua khawatir nanti Papa dan Mama susah jaganya," ujar Qonita.


"Bukannya kita memang nginap, Bun?" tanya Ichy.


"Iya, Sayang. Kita besok baru pulang. Adek Fuad gak ikut sama kita, mau pergi sama Opa," jawab Qonita.


"Oh. Iya, Bunda," jawab Ichy.


"Badan suami Kamu makin berisi, Qonita. Bahagia kayaknya," ucap oma Herni.


"Pasti donk, Ma. Istriku manjain Aku banget," sahut Iman.


"Kamunya aja yang manja," cibir oma Herni. Iman sedang geletak di sofa, berbantalkan paha istrinya.


"Harap maklum, Ma. Biasa jablai, sekarang udah ada pawangnya," goda opa Pras.


"Pawangnya hebat banget, Pa. Bukan cuma pinter jadi istri, tapi jadi ibu juga. Aku jadi rebutan sama anak-anak. Bersaing mendapatkan perhatian darinya." Iman mengenggam tangan istrinya.


"Dulu, sok nolak," ejek oma Herni.


"Hahaha, masa lalu, Ma. Tutup buku, donk." Iman tergelak mendapatkan sindiran dari mamanya.


"Udah ada hasil belum, Man. Berobat sana, biar tokcer." Opa pras ikut menyerang anaknya.


"Santai lah, Pa. Ngapain buru-buru. Ntar jatahku berduaan dengannya makin sikit." Iman mengerling pada istrinya.


"Sama anak aja, saingan," protes oma Herni.


"Biasa, Ma. Khawatir bagiannya diambil alih anaknya nanti." Opa Pras menyeringai pada Iman.


"Hahaha..." Iman tergelak mendengar candaan papanya.


Oma Herni hanya tersenyum. Sedangkan Qonita hanya mampu menunduk.


Oma Herni merasa sangat gembira melihat keharmonisan keluarga anak pertamanya itu. Ichy sudah jauh berbeda, sekarang tambah pintar dan ceria.


Bahkan Ichy sekarang sudah memakai hijab seperti Qonita, jika berpergian. Hafalan surahnya sudah bertambah. Oma Herni merasa senang, karena Qonita mampu mewarnai kehidupan Iman dan Ichy menjadi lebih baik. Lebih mengenal Sang Penciptanya.


"Gimana, Ichy senang ada Bunda, Sayang?" tanya oma Herni pada Ichy ketika mereka sedang berdua.


"Senang banget, Oma. Bunda baik, Sayang sama Kakak." Ichy berujar dengan antusias, membuktikan betapa bahagianya dia bersama Qonita.


"Oma senang dengarnya." Oma Herni mengelus rambut cucunya.


"Minggu depan kami jenguk Mami lagi, Oma. Terus ke rumah Opa Zul dan Oma Wina."

__ADS_1


"Ha? lagi?" tanya oma Herni terkejut.


"Iya, Oma. Kata Bunda, harus sering-sering ke rumah Oma Wina. Bunda juga ngajarin Kakak, mendoakan mami setiap hari."


"Memang udah pernah ziarah ke tempat mami Jihan?" tanya oma Herni.


"Udah, Oma. Kan gantian. Ke rumah Oma Herni, ke kuburan mami dan rumah oma Wina, terus rumah Nenek Tari."


"Diajak Papi?" tanya oma Herni penasaran.


"Bukan, Oma. Bunda yang ngajak. Bunda juga bilang, ingatin Bunda kalau lupa."


Oma Herni terdiam. Ia tidak menyangka jika Qonita akan rutin melanjutkan silaturahmi ke pihak keluarga maminya Ichy, orang tua Jihan.


❤️❤️❤️


"Makasi udah mendidik cucu Mama dengan baik, Sayang," ujar oma Herni pada Qonita saat mereka berada di dapur berdua.


"Mama senang Ichy udah lebih baik sekarang. Berhijab seperti, Kamu," sambung oma Herni kala melihat Qonita mengernyit mendengar kalimat pertamanya.


Qonita tersenyum. "Qonita cuma belikan Ichy beberapa baju gamis aja, Ma. Terus dia yang minta pakai pas mau pergi. Katanya biar sama kayak kami, Qonita dan Vivi. Setelah itu, dia minta dibelikan baju Muslim lebih banyak lagi."


"Iya, Sayang. Mama senang lihat dia sekarang. Lebih pintar dan ceria," ungkap oma Herni.


"Makasih juga ya, Ma. Karena Mama udah nyaranin ke Abang agar Ichy masuk ke TK nya yang sekarang."


"Kamu, tahu?"


Qonita mengangguk. "Abang cerita, awalnya pengen masukin Ichy ke TK China punya. Bagus katanya."


Qonita terkekeh kecil. "Ayok, Ma. Kita sama-sama belajar. Nanti Qonita cariin gamis untuk Mama, ya."


"Besok aja, Sayang. Kita cari sama-sama. Mau?"


"Alhamdulillah, Mama udah punya niat sebenarnya, ya?"


Oma Herni menangguk, lalu menepuk lengan mantunya itu. "Iya, sejak jumpa pertama kali sama Kamu, Sayang."


"Oke, Ma. Besok kita hunting." Qonita tersenyum bersemangat.


"Kamu bahagia menikah sama Iman, Sayang? Dia gak cuek ke Kamu, kan?"


"Nggak kog, Ma. Abang baik, sangat baik. Qonita dan anak-anak BAHAGIA. Abang sayang sama kami. Abang gak cuek kog, Ma. Malah..." Qonita tersenyum memikirkan kalimat untuk mengutarakannya.


"Malah dia perhatian ke Kamu?"


Qonita pun mengangguk.


"Nampak jelas, dia udah bucin ke Kamu. Kamu apakan?"


Qonita tergelak. "Tenang aja, Ma. Anak Mama gak Qonita apa-apakan, kog." Qonita masih tertawa ringan.


"Mama malah senang, kalau Iman Kamu apa-apakan, Sayang."

__ADS_1


"Hahaha..." Qonita tertawa mendengar pernyataan mertuanya.


"Oh iya, Sayang. Kata Ichy kalian udah pernah ke rumah Oma Wina?"


"Iya, Ma. Baru sekali. InsyaAllah minggu depan kesana lagi. Maaf ya, Ma. Gak bisa tiap minggu kesini. Abang dan Qonita sama-sama kerja. Qonita juga memang membagi waktu agar anak-anak tidak terlalu lelah."


"Gak apa, Sayang. Makasih ya, udah ingat sama opa dan oma nya Ichy. Mereka pasti senang banget pas kalian kesana."


"Iya, Ma. Makanya Qonita nyuruh anak-anak sering-sering nelpon oma dan nenek mereka. Walau gak bisa datang, seenggaknya bisa memberi kabar dan video call-an."


"Wah, ternyata istriku diumpetin disini. Pantesan di kamar gak ada," celetuk Iman saat berada di dapur, melihat mama dan istrinya bercerita.


"Mohon maaf, tolong kembali ke tempat. Selama disini, istri Kamu Mama sita," sahut oma Herni.


"Apa-apaan ini. Aku gak kredit macet, kog. Kenapa ditarik leasing begini?" canda Iman membalas humor mamanya.


Qonita senyam-senyum melihat suami dan mertuanya.


"Produk unggulan begini, harus dijaga baik-baik. Lah Kamu gak pandai merawatnya."


"Siapa bilang? Tiap hari Aku mandiin, ya kan Sayang?" Iman melihat ke arah istrinya.


"Auw." Iman setengah berteriak kala mendapat cubitan di perut dari istrinya. "Sakit, Sayang."


"Udah ah, Mama mau istirahat." Oma Herni berdiri. "Mama ke kamar dulu ya, Sayang." Oma herni menatap lembut Qonita.


"Iya, Ma," ucap Qonita.


"Kog gak dari tadi, Ma," celetuk Iman.


"Ck." Oma Herni hanya berdecak, melirik putranya.


"Abang." Qonita mengingatkan suaminya.


"Maaf, Ma. Tolong jangan kutuk anak Mama yang tamvan ini." Iman agak berteriak karena oma Herni sudah menjauh dari dapur.


"Cerita apa sama Mama? Nyeritain Aku, ya?" tanya Iman pada istrinya.


"Perasaan banget, seh." Qonita mencubit lagi perut suaminya, tapi kali ini mencubit manja.


"Seru banget, kayaknya."


"Besok mama ngajak shopping, Bang. Mau cari gamis sama jilbab. Mama mau pakai hijab."


"Ha? Beneran, Sayang?"


"InsyaAllah, Bang."


"Alhamdulillah. Setelah anakku, sekarang mamaku. Makasih ya, Sayang." Iman menangkup wajah istrinya.


"Lho, kenapa makasih ke Qonita, Bang?"


"Ya pasti karena Kamu, Sayang."

__ADS_1


"Tapi, bu-" Ucapan Qonita terhenti, karena Iman menyanggahnya.


"Husst. Udah, gak usah debat. Ke kamar, Yuk."


__ADS_2