PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 94 Percaya Dari Hati


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Iman pulang kerumah sore hari, lebih telat dari biasanya. Anak-anak sudah selesai mengaji. Mereka yang sedang menikmati puding coklat buatan Qonita. Anak dan istinya pun menyambut kepulangan papi tercintanya.


Setelah menyalam dan mencium istri beserta anaknya, Iman duduk sebentar bersama mereka. Qonita menghidangkan minuman serta puding untuk suaminya.


"Enak ya, Pi?" Ichy yang melihat papinya lahap memakan puding tersebut bertanya pada papinya.


"Hahaha... Enak banget, Sayang. Papi sampe kenyang, neh." Iman memegang perutnya, pertanda sudah banyak puding yang dia makan.


"Hem, manis," ucap Nabil menggemaskan. Iman tersenyum melihat kelucuan anaknya itu.


"Papi mandi dulu, ya." Iman berdiri hendak menuju ke kamarnya.


"Papi, cantik," ujar Nabil mengambil sesuatu yang menyangkut di belakang celana Iman.


"Cantik." Nabil menunjukkan sebuah anting berlian pada papinya.


Iman dan Qonita sama-sama terkejut melihatnya. Mereka saling melirik.


"Punya bunda ya, Pi? Kog ada di celana Papi?" tanya Ichy heran.


"Sebelahnya lagi mana, Pi?" tanya Fuad karena anting itu seharusnya ada sepasang.


Iman hanya diam, mengambil dan melihat anting tersebut dengan wajah yang datar.


"Ya udah, Papi mandi dulu, ya. Antingnya biar bunda yang simpan," ujar Qonita.


Qonita mengambil anting tersebut dari tangan suaminya. Lalu dia gandeng tangan suaminya itu, menuntun berjalan ke arah kamar.


Setelah sampai di kamar, Iman masih dengan raut wajah yang tidak ada senyuman sama sekali.


"Sepertinya ini berlian asli, Bang," ungkap Qonita setelah memperhatikan anting tersebut. Anting tersebut memiliki cantolan sehingga bisa tersangkut di sela tali pinggang suaminya.


"Cantik," sambung Qonita.


Iman menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. Ia tatap dalam mata istrinya.


"Aku gak tau itu milik siapa, Sayang. Dan Aku gak tau kenapa itu bisa tersangkut di celanaku." Iman lalu mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Bukannya mendapat banyak pertanyaan, istrinya malah tersenyum.


"Sayang," panggil Iman heran. Kenapa istrinya malah tersenyum padanya. Bukankah seharusnya istrinya memasang wajah cemberut atau bahkan marah?


"Coba Abang ingat-ingat, hari ini Abang ada kemana aja? Bertemu dengan siapa aja? Kira-kira anting ini punya siapa. Kasian pemiliknya mungkin lagi kecarian," ucap Qonita tanpa rasa marah sama sekali.


"Ha?" Iman kaget dengan reaksi biasa istrinya itu.


"Udah, Abang mandi dulu. Udah kesorean," ujar Qonita berdiri mengambilkan baju suaminya.


"Lho kog belum gerak juga, Bang?" tanya Qonita heran dengan membawa pakaian ganti suaminya. Suaminya masih duduk di atas tempat tidur, bukannya mandi.


"Hem, Qonita tahu. Minta dibukain, ya? Manja." Qonita mencebik. Dia membuka satu demi satu kancing suaminya.


Qonita menyadari sedari tadi suaminya terus menatapnya. Iman menatapnya dengan wajah yang tak dapat didefenisikan.


"Ha? Kog bulu ketek abang panjang kali?" tanya Qonita menarik sebuah rambut panjang diantara lengan dan ketiak suaminya.


Iman semakin terkejut. Ada-ada saja yang terjadi sore ini, dengannya.


"Astagfirullah." Iman beristigfar karena tidak tahu harus memberi alasan apa lagi pada istrinya.


"Sayang." Iman kembali menangkup wajah istrinya. "Aku gak tahu rambut siapa ini."


"Bukan rambut Qonita, bang. Soalnya ini lebih pendek." Qonita berucap santai.


"Hem. Dan Aku gak bisa kasih penjelasan kenapa rambut ini ada di badanku." Iman masih terlihat tegang.


"Apalagi Qonita, Bang. Mana Qonita tahu." Qonita masih terlihat biasa saja.


"Sayang, mungkin Kamu gak akan percaya sama Aku. Tapi..." Ucapan Iman terputus, karena istrinya menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.


"Hust. Qonita percaya sama Abang." Qonita menatap dalam mata suaminya.


"Sayang..." ucap Iman lirih.


"Qonita percaya sama suami Qonita. Tapi Qonita gak bisa percaya sama perempuan di luar sana."


Iman dan Qonita saling memnadang. Mencari kebenaran satu sama lain.

__ADS_1


"Kerjaan Abang lagi bagus. Mungkin banyak yang iri sama Abang. Berusaha menggoyahkan Abang. Mungkin bukan hanya manusia, aja."


"Ha? Maksudnya?" Iman tidak mengerti maksud perkataan istrinya. Kalau bukan manusia saja, lantas siapa lagi? Apa maksudnya hantu, atau apa? Iman tidak mengerti.


Qonita terkekeh kecil. "Manusia dan iblis. Manusia punya rasa iri hati. Sementara iblis berusaha untuk menunjukkan kehebatannya, memisahkan hubungan suami dan istri."


"Lalu gimana caranya rambut ini bisa ada dibadanku, Sayang." Iman menyelidiki seberapa percayanya istrinya ini padanya.


"Gak sengaja, Bang. Di luar kendali kita. Sama kayak rambut yang terdapat dalam makanan. Gak mungkin kan, ada orang yang sengaja meletak rambut dalam makanan?" ujar Qonita lembut.


"Sebesar itu Kamu percaya samaku, Sayang."


"Iya, Bang." Qonita mengangguk yakin.


"Kamu gak ada yang mau ditanyak sama Aku?" tanya Iman lagi.


Qonita menggeleng. Iman menghela nafas panjang.


"Tanyak aja, Sayang. Aku gak mau Kamu memendamnya sendiri," ucap Iman bersungguh-sungguh.


"Gak ada, Bang. Qonita percaya dengan apa yang Qonita rasakan. Bukan pada apa yang Qonita lihat." Qonita mengelus wajah suaminya, menatapnya dalam.


"Sayang..." Iman lagi dan lagi tidak tahu harus berkata apa.


Cup


Qonita mengecup bibir suaminya.


"Udah cukup kan, bayaran biar Abang mau mandi?"


"Ha?" Iman terkejut.


Cup


Qonita mengecup kembali bibir suaminya. "Mandi, ya. Atau masih belum cukup?" tanya Qonita.


Ketika Qonita hendak mengecup lagi bibir suaminya, Iman menarik tubuh Qonita. *****4* bibir istrinya itu dengan sangat dalam.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2