
Binjai, Sumatera Utara
"Assalamu'alaikum, Papi." Yuna berlari ke arah papinya, setelah melihat papi dan maminya yang menjemputnya pulang TK.
"Wa'alaikum salam, Sayang." Iman memeluk dan mencium dahi putrinya.
"Papi jadi nginap, kan?" tanya Yuna pada Papinya.
Papinya memang sering mengunjunginya, namun sudah sangat jarang menginap. kali ini, Iman sengaja mengambil kesempatan menginap di Binjai mengingat kurang lebih 2 bulan lagi Qonita akan libur, dan pasti Iman harus menghabiskan waktu libur bersama Qonita dan anak-anaknya.
"Iya, Sayang. Papi nginap, Kamu senang, kan?" Iman mengelus rambut anaknya.
"Senang banget, Pi."
❤️❤️❤️
Medan, Sumatera Utara
Qonita akan tidur sendiri malam ini. Suaminya sedang melakukan perjalanan ke luar kota. Tadi siang suaminya sudah menghubunginya. Hanya sebuah panggilan singkat.
"Assalamu'alaikum, wahai pemilik rindu. Semoga Allah senantiasa melindungi Abang. Memudahkan segala urusan Abang. Qonita mohon maaf untuk setiap khilaf dan salah, semoga Abang memberi Ridho yang sempurna pada Qonita. Aamiin." Qonita mengirim pesan pada suaminya.
Hp nya berdering saat ia hendak memejamkan mata. Ia ambil HP nya yang ada di atas meja rias, Qonita tersenyum melihatnya. Suaminya melakukan panggilan video.
"Assalamu'alaikum, Abang." Qonita memberikan senyum manisnya.
"Wa'alaikum salam, Sayang. Maaf, kali ini Aku gak mau ngalah, Sayang. Aku rindu," ucap Iman bersungguh-sungguh.
Qonita tersenyum mendengarnya. Jika sebelumnya Qonita lah yang lebih dahulu mengungkap rindu, maka kali ini, suaminya yang mencuri start.
"Qonita juga rindu, rindu Abang dan rindu sama rindunya Abang," ungkap Qonita tersipu malu.
Iman tergelak. "Anak-anak udah tidur, Sayang?"
"Udah, Bang. Baru aja."
"Maaf Sayang, Aku telat nelfonnya." Iman menunjukkan wajah merasa bersalahnya.
"Gak apa, Bang. Yang penting Abang baik-baik aja, disana."
"InsyaAllah, Sayang. Ada do'a istriku yang mengiringi setiap langkahku. Sampaikan rindu dan sayangku untuk anak-anak."
"InsyaAllah akan Qonita sampaikan. Oh iya Bang, tadi teman kuliah Qonita ngajak ketemuan besok, pulang kerja. Qonita boleh pergi gak, Bang?"
"Ketemuan dimana, Sayang?"
"Itu dia yang belum pasti, Bang."
"Ya udah, Kamu boleh pergi. Tapi usahakan sebelum magrib Kamu udah di rumah ya, Sayang."
__ADS_1
"InsyaAllah, Bang."
"Sama kasih tau anak-anak, besok Kamu pulang telat."
"Oke. Makasi, Abang. I love you."
"I love you too so much, baby. Mimpi indah, Sayang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Abang."
❤️❤️❤️
Hari ini Qonita pergi kerja menggunakan ojek online. Karena dia nanti akan dijemput oleh teman kuliahnya. Om Adi, supir yang biasa mengantar Ichy tadi sudah menawarkan diri mengantar Qonita, tetapi Qonita menolak.
Pukul 2 siang, teman Qonita sudah sampai di depan sekolah tempat Qonita mengajar, Leni namanya. Mereka pun berangkat.
"Kita ketemuan dimana seh, Len?" tanya Qonita pada temannya yang sedang fokus mengendarai mobilnya.
"Kumpul tengah, donk," ujar Leni santai.
"Tengah dimana?" tanya Qonita terkejut. "Medan, Binjai, dan Stabat, titik tengahnya dimana?" Qonita kaget karena dua temannya lagi memang tinggal di Binjai dan Stabat.
"Ya Binjai lah, Qonita Sayang."
"Astagfirullah. Kita mau ke Binjai? Aduh Len, pantes aja Kamu gak mau kasih tahu semalam, tahu gini gak ikut. Kalau kita ke Binjai, mana bisa sebelum magrib sampai rumah," keluh Qonita.
"Ck. Pak suami ngasih pergi, tapi ya itu sebelum magrib harus dah pulang."
"Tenang. Sebelum magrib, Kamu udah Aku kembalikan ke anak-anakmu. Kita lewat tol kog. Hahaha..." Leni memang tahu jika Iman, suami Qonita sedang diluar kota.
Tidak lama, Leni dan Qonita sudah sampai di sebuah cafe yang cukup terkenal di kota Binjai. Sudah ada Rani dan Tasya disana.
Mereka saling berpelukan satu sama lain. Lama tidak berjumpa membuat mereka saling melepas rindu. Mereka saling bercerita sambil menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan.
"Habis ini kita kemana?" tanya Tasya, teman mereka yang tinggal di Stabat. Jarak yang cukup jauh jika dari Medan.
"Pulang lah. Neh ada satu emak rumahan. Sebelum magrib harus udah sampe rumah dia," ejek Leni.
"Antar Aku dulu, ya," ujar Rani yang tinggal di Binjai. Sebuah kota kecil di Sumatera Utara yang posisinya pertengahan antara Medan dan Stabat.
"Loh, tadi Kamu naik apa kemari, Ran? tanya Qonita pada Rani.
"Diantar adek. Sekarang ya ntah udah kemana dia."
"Oke, kita antar. Kamu jadi ikut ke Medan kan, Tasya?" tanya Leni pada Tasya. Sebelumnya Tasya memang sudah mengabari jika ia akan ikut ke Medan setelah pertemuan mereka.
"Jadi, donk. Aku mau ke rumah Kakak ku."
"Ya udah, yuk. Kita gerak."
__ADS_1
Mereka pun menuju rumah Rani. Qonita dan Rani duduk di belakang. Karena Rani yang akan diantar pertama. Lalu Qonita.
"Kita dulu pernah makan bakso disitu, kan?" Leni menunjuk sebuah warung bakso yang cukup besar.
"Eh, iya. Masih buka ternyata, ya," ujar Qonita.
"Iya, masih bertahan sampai sekarang," ungkap Rani.
Tak lama Qonita melihat suaminya baru keluar dari sebuah minimart. Ia terkejut. Bagaimana mungkin suaminya ada disini, di Binjai. Bukankan suaminya sedang pergi ke Bandung.
"Stop, Len. Stop," pinta Qonita.
"Kenapa, Qonita?" tanya ketiga sahabatnya.
Qonita tak menjawab, tapi matanya melihat ke arah samping. Mereka bisa melihat suaminya sedang memegang tangan seorang anak perempuan seusia Ichy. Disamping anak perempuan itu ada perempuan cantik berambut sepinggang. Mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Seketika air mata Qonita sudah berlinang.
"Itu suami, Kamu?" tanya Tasya memastikan.
Qonita hanya mampu mengangguk.
"Ikutin, Len," perintah Rani.
Leni melihat ke arah Qonita meminta persetujuan, dan Qonita pun mengangguk. Mereka mengikuti mobil Iman dengan tetap menjaga jarak.
Air mata Qonita tak berhenti mengalir. Teman-temannya berusaha menenangkan. Namun semuanya percuma. Ingin berfikir positif tetapi apa yang dilihat mengingkari harapan.
Hingga akhirnya mobil tersebut memasuki sebuar rumah yang cukup besar. Qonita dan teman-temannya bisa melihat Iman turun dengan menggendong anak perempuan tersebut dan berpegangan tangan dengan perempuan berambut sepinggang itu.
"Br3ngsek," umpat Leni dapat didengar oleh teman-temannya.
"Kamu mau gimana, Qonita?" tanya Tasya.
Qonita menggeleng. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa.
"Kita tanyak warung di depan. Kita cari tahu dulu," saran Leni.
Leni pun memajukan mobilnya hingga berhenti di depan sebuah warung yang berjarak 4 rumah dari rumah yang Iman masuki.
"Dari informasi yang Aku dapat, perempuan itu bernama Mayang. Sudah beberapa tahun tinggal dirumah itu. Suaminya kerja diluar kota. Jarang pulang. Dan hanya memiliki seorang anak." Tasya memberitahukan info yang didapatnya, karena ia tadi yang bertanya kepada penjaga warung.
"Mau kita pastiin ke kepala lingkungannya? Dulu kepling nya ayah temanku. Tapi gak tau sekarang udah ganti atau masih tetap sama," ujar Rani.
"Kayaknya gitu lebih baik. Kamu masih ingat rumahnya?" tanya Leni.
"Masih, belok ke kanan."
Mereka pun menuju rumah teman Rani. Dan benar saja, ayah temannya itu masih menjadi kepling di lingkungan tersebut.
__ADS_1